— JAKARTA – Di tengah koreksi harga emas dunia yang tajam pada kuartal II-2026, Tether, penerbit stablecoin terbesar di dunia, justru melakukan pembelian agresif. Perusahaan menambah kepemilikan emas fisik sebanyak 14 ton, sehingga total cadangan logam mulia mereka kini melampaui 146 ton.

Berdasarkan laporan kinerja perusahaan untuk periode April hingga Juni, nilai cadangan emas yang mendukung stablecoin USDT mencapai sekitar US$ 18,8 miliar pada akhir Juni. Langkah strategis ini diambil bertepatan dengan penurunan harga emas kuartalan terdalam sejak tahun 2013.

Chief Executive Officer (CEO) Tether, Paolo Ardoino, menyatakan bahwa perusahaan terus memperkuat struktur cadangannya. Penguatan ini dilakukan melalui pembelian surat utang pemerintah Amerika Serikat, pengurangan pinjaman berbasis agunan, dan penambahan cadangan emas fisik.

“Kami tetap menjadi salah satu pembeli terbesar US Treasury, mengurangi pinjaman berbasis agunan sebesar US$ 2,38 miliar, dan menambah 14 ton emas fisik,” ujar Ardoino dalam laporan resmi perusahaan.

Tether adalah penerbit USDT, stablecoin terbesar di dunia dengan nilai token beredar mencapai sekitar US$ 183,7 miliar. Setiap token USDT dirancang setara nilainya dengan satu dolar AS dan didukung oleh berbagai aset cadangan, terutama surat utang pemerintah AS.

Selain USDT, Tether juga menerbitkan XAUT, sebuah stablecoin yang sepenuhnya didukung oleh emas fisik, dengan nilai token beredar sekitar US$ 2,9 miliar.

Cadangan Emas Tether Terus Bertambah

Data internal perusahaan menunjukkan bahwa pembelian emas pada kuartal II mencapai 14 ton, sebuah peningkatan signifikan dibandingkan kuartal I yang hanya sekitar 6 ton. Akuisisi ini dilakukan saat harga emas mengalami koreksi sekitar 14% sepanjang kuartal II.

Meskipun demikian, emas masih menyumbang sekitar 10% dari total cadangan USDT, sementara Bitcoin hanya sekitar 3%. Mayoritas cadangan perusahaan tetap ditempatkan pada surat utang pemerintah AS. Untuk mendukung stablecoin XAUT, Tether saat ini juga memiliki sekitar 22 ton emas fisik.

Pada kuartal II-2026, Tether membukukan laba operasional bersih sebesar US$ 1,5 miliar. Laba ini terutama ditopang oleh kinerja portofolio surat utang pemerintah AS dan transaksi repo.

Sebelumnya, Ardoino telah mengungkapkan rencana perusahaan untuk mengalokasikan sekitar 10%-15% dari portofolio investasinya senilai US$ 20 miliar ke dalam emas fisik. Langkah ini menegaskan posisi emas sebagai salah satu aset strategis dalam menjaga stabilitas cadangan Tether di tengah ketidakpastian pasar global.