— JAKARTA – Saham-saham Grup Bakrie menunjukkan performa impresif dengan mencatatkan reli tajam dalam beberapa pekan terakhir, menarik perhatian pasar modal. Meskipun ruang penguatan lanjutan dinilai masih terbuka, investor diimbau untuk mewaspadai potensi koreksi jangka pendek akibat aksi ambil untung atau profit taking.

Data dari Stockbit Sekuritas mencatat lonjakan signifikan pada sejumlah emiten Grup Bakrie. PT Intermedia Capital Tbk (MDIA) memimpin dengan kenaikan 204,23% selama satu bulan terakhir. Diikuti oleh PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) yang melesat 71,15%, PT Graha Andrasentra Propertindo Tbk (JGLE) dengan penguatan 66%, dan PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) sebesar 60,61%.

Selain itu, saham PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) juga menguat 56,52%, PT Darma Henwa Tbk (DEWA) naik 52,87%, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) 28,78%, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) 25,58%, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) 22,49%, PT Ancara Logistics Indonesia Tbk (ALII) 14,39%, dan PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) 13,48%. Beberapa di antaranya, seperti JGLE, BUMI, BNBR, dan DEWA, bahkan masuk dalam daftar 10 besar saham dengan volume, nilai, maupun frekuensi perdagangan tertinggi pada Rabu (5/8/2026).

Katalis Aksi Korporasi dan Komoditas

Investment Advisor Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis, menilai reli saham Grup Bakrie didorong oleh kombinasi berbagai katalis, dengan sentimen aksi korporasi sebagai pendorong utama. Pasar merespons positif berbagai langkah korporasi seperti restrukturisasi, rights issue, dan ekspansi ke sektor prospektif, yang meningkatkan ekspektasi investor terhadap value unlocking dan perbaikan struktur permodalan.

Kenaikan harga komoditas seperti emas dan batu bara turut menjadi katalis bagi emiten seperti BRMS, BUMI, dan ENRG. Sementara itu, optimisme terhadap hilirisasi dan proyek infrastruktur menopang prospek PT Darma Henwa Tbk (DEWA).

“Reli saham Grup Bakrie masih berpotensi berlanjut, terutama apabila didukung oleh realisasi kinerja keuangan yang sesuai dengan ekspektasi pasar serta harga komoditas yang tetap kondusif,” ujar Alrich.

Meskipun demikian, Alrich merekomendasikan strategi buy on support untuk BRMS di level Rp555 dengan target harga Rp600-Rp690, sembari mengingatkan risiko profit taking setelah kenaikan yang signifikan.

Fundamental Kuat Menjadi Pilihan

Head of Research PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, menambahkan bahwa sekitar 60% pendorong reli saham Grup Bakrie berasal dari penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang bersifat broad-based serta war premium komoditas yang menguntungkan BUMI dan ENRG. Sekitar 30% lainnya dipicu aksi korporasi, terutama rights issue ENRG, VKTR, dan JGLE yang membangun narasi positif di kalangan investor ritel.

Wafi menilai ENRG dan BRMS menawarkan profil risk-reward paling menarik karena memiliki fundamental yang lebih kuat. Khususnya rights issue ENRG dinilai kredibel karena 96,6% dana dialokasikan untuk penyertaan modal pada bisnis migas hulu.

Namun, Wafi mengingatkan bahwa potensi keuntungan tidak lagi sebesar sebelumnya setelah reli lebih dari 20%, sehingga investor perlu mewaspadai aksi ambil untung, terutama pada DEWA dan BNBR yang lebih mengandalkan sentimen.

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, melihat reli saham Grup Bakrie sebagai kombinasi perbaikan fundamental, ekspektasi aksi korporasi, dan meningkatnya risk appetite investor. Pada emiten seperti BUMI, BRMS, dan ENRG, kenaikan harga dinilai memiliki pijakan fundamental yang kuat. Sementara BNBR, DEWA, dan VKTR lebih banyak ditopang ekspektasi ekspansi bisnis, sinergi grup, serta aksi korporasi.

“Aksi korporasi akan berdampak positif apabila mampu meningkatkan kapasitas produksi, memperkuat struktur permodalan, atau menghasilkan pertumbuhan laba yang berkelanjutan,” ujar Nafan. Ia merekomendasikan strategi ADD untuk BRMS dengan target harga Rp725.

Waspadai Volatilitas Tinggi

Analis Pilarmas Investindo Sekuritas, Arinda Izzaty, melihat reli saham Grup Bakrie didorong oleh kombinasi sentimen positif, aksi korporasi, dan rotasi dana ke saham berkapitalisasi menengah serta kecil. BRMS diuntungkan oleh tingginya harga emas, BUMI masih menghasilkan arus kas positif dari batu bara, sementara VKTR mulai meningkatkan kontribusi bisnis kendaraan listrik.

“Reli saham-saham Grup Bakrie masih memiliki peluang berlanjut apabila sentimen pasar tetap kondusif, harga komoditas utama seperti emas dan batu bara bertahan kuat, serta aksi korporasi mampu meningkatkan optimisme investor,” ujar Arinda.

Namun, setelah kenaikan tajam, Arinda menekankan risiko aksi ambil untung semakin besar, terutama pada saham yang kenaikannya belum sepenuhnya didukung perbaikan fundamental. Investor disarankan mewaspadai volatilitas tinggi dan menghindari keputusan investasi yang hanya didasarkan pada euforia pasar.

Arinda merekomendasikan BRMS sebagai pilihan paling menarik untuk investor dengan horizon menengah hingga panjang, karena memiliki dukungan fundamental yang relatif lebih kuat dibanding emiten lainnya, dengan target harga Rp1.020.