— JAKARTA – PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) berhasil membukukan laba bersih selama dua kuartal berturut-turut. Namun, performa positif ini belum mampu mendongkrak harga saham GOTO yang terpantau masih tertahan di level Rp 50, atau yang dikenal dengan sebutan ‘gocap’.

Pada perdagangan sesi I, Kamis (30/7/2026), terlihat antrean jual saham GOTO mencapai sekitar 213,8 juta lembar di harga Rp 50. Angka ini menunjukkan bahwa level Rp 50 menjadi resistance psikologis yang cukup kuat bagi para pelaku pasar.

“Dengan harga Rp 50, nilai antrean jual tersebut mencapai Rp 1 triliun. Besarnya antrean jual menunjukkan banyak investor memilih keluar di level tersebut, sehingga tekanan jual menjadi cukup besar,” kata pengamat pasar modal dan pendiri Republik Investor, Hendra Wardana, di Jakarta, Kamis (30/7/2026).

Menurut Hendra, agar harga saham GOTO dapat naik meninggalkan level Rp 50 secara meyakinkan, dibutuhkan permintaan beli yang konsisten dan berkelanjutan. Permintaan ini harus mampu menyerap seluruh pasokan saham yang tersedia di level tersebut.

Jika antrean jual berhasil diserap dengan volume transaksi yang tinggi dan harga mampu breakout Rp 50, hal ini dapat menjadi sinyal positif. Ini menandakan minat beli investor mulai mendominasi dan membuka peluang kenaikan harga lebih lanjut.

Sebaliknya, jika antrean jual terus bertambah dan gagal diserap pasar, level Rp 50 akan tetap menjadi hambatan kuat. Saham GOTO berpotensi bergerak konsolidatif dalam jangka pendek sambil menunggu katalis baru. Katalis tersebut bisa berasal dari sisi kinerja keuangan, perkembangan regulasi, atau meningkatnya minat investor asing terhadap saham teknologi.

Pernyataan manajemen GOTO yang menyebutkan investasi pada segmen mass market mulai menunjukkan hasil mengindikasikan perubahan strategi perusahaan. GOTO akan mengalihkan fokus ke produk yang lebih terjangkau dan memiliki frekuensi penggunaan tinggi, bergerak dari strategi pengejaran pertumbuhan agresif menuju pertumbuhan yang lebih berkualitas dan menguntungkan.

Selama beberapa tahun terakhir, GOTO banyak mengandalkan promosi dan insentif untuk memperbesar basis pengguna. Kini, dengan ekosistem yang semakin matang, perusahaan mulai memanfaatkan loyalitas pelanggan untuk meningkatkan monetisasi.

Produk dengan harga terjangkau dan digunakan hampir setiap hari, seperti transportasi, pesan-antar makanan, hingga layanan pembayaran digital, memiliki tingkat transaksi yang tinggi. Hal ini mampu menciptakan pendapatan yang lebih stabil.

“Artinya, fokus perusahaan kini bukan lagi semata-mata mengejar jumlah transaksi, tetapi meningkatkan kualitas pendapatan dan margin keuntungan di setiap transaksi yang terjadi,” jelas Hendra.

Sentimen negatif memang sempat membayangi saham GOTO, mulai dari isu indeks MSCI hingga pemangkasan tarif komisi on demand services (ODS) sepeda motor dari 20% menjadi 8%. Namun, harapan GOTO untuk meninggalkan level Rp 50 tetap terbuka, ditopang rencana buyback saham.

BRI Danareksa Sekuritas dalam riset sebelumnya mempertahankan rekomendasi netral terhadap saham GOTO selama tiga bulan dan menurunkan target harga menjadi Rp 70. Penurunan ini seiring dengan pengurangan SOTP nilai ekuitas sebesar 12,3% menjadi Rp 74,3 triliun.

Meskipun sentimen negatif membebani saham GOTO, BRI Danareksa Sekuritas menilai persetujuan buyback saham senilai Rp 3,5 triliun selama Juni 2026 hingga Juni 2027 menjadi katalis positif penguatan sahamnya.

Risiko utama yang dapat memengaruhi saham GOTO meliputi potensi pelemahan daya beli, kemungkinan keluar dari indeks MSCI, dan risiko buyback yang mandek.