— Saham emiten Grup Sinar Mas, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), ditutup melonjak 12,14% ke level Rp 970 pada perdagangan Kamis (6/8/2026). Lonjakan harga saham ini terjadi di tengah aktivitas perdagangan yang signifikan, di mana sebanyak 1,32 miliar saham berpindah tangan melalui 102.272 frekuensi transaksi dengan nilai mencapai Rp 1,22 triliun. Investor asing tercatat melakukan pembelian bersih (net buy) senilai Rp 317,72 miliar pada saham DSSA.

PT Dian Swastatika Sentosa Tbk berencana untuk melakukan pengalihan saham hasil program pembelian kembali (buyback) perseroan yang dijadwalkan mulai 10 Agustus 2026 hingga selesai. Total saham treasuri yang akan dialihkan mencapai sebanyak-banyaknya 9.631.904.000 lembar, atau setara dengan 5% dari total saham yang diterbitkan dan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Manajemen DSSA menyatakan bahwa pengalihan akan dilaksanakan sesuai dengan harga yang diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dengan asumsi harga penutupan perdagangan kemarin, nilai pengalihan ini diperkirakan dapat mencapai Rp 9,32 triliun. Sinarmas Sekuritas ditunjuk sebagai anggota bursa yang akan menangani proses pengalihan saham tersebut.

Menanggapi pergerakan harga saham DSSA, pengamat pasar modal sekaligus pendiri Republik Investor, Hendra Wardhana, menilai bahwa kenaikan tersebut merupakan respons positif investor terhadap aksi korporasi perusahaan. Menurutnya, langkah ini dinilai mampu meningkatkan kepercayaan pasar. “Bagi investor, langkah tersebut menunjukkan upaya perusahaan dalam mengoptimalkan struktur permodalan sekaligus memenuhi ketentuan regulator terkait pengalihan kembali saham treasuri,” ujar Hendra, dikutip Jumat (7/8/2026).

Hendra menjelaskan bahwa pengalihan saham treasuri pada dasarnya bukan merupakan aksi yang secara langsung meningkatkan nilai fundamental perusahaan. Namun, aksi ini lebih berfokus pada penataan struktur kepemilikan saham agar modal perusahaan dapat dimanfaatkan secara lebih optimal. “Apabila pelaksanaannya dilakukan secara transparan dan tidak menambah tekanan pasokan saham secara signifikan di pasar, maka sentimen yang terbentuk cenderung positif karena menunjukkan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance),” tambahnya.

Dari sisi fundamental, prospek bisnis DSSA dinilai masih menarik berkat portofolio yang terdiversifikasi. Perusahaan memiliki lini bisnis yang mencakup pertambangan batu bara, pembangkit listrik, infrastruktur, hingga bisnis digital seperti pusat data (data center) dan telekomunikasi. Diversifikasi ini membuat kinerja perusahaan tidak hanya bergantung pada satu sektor, sehingga lebih resilient terhadap fluktuasi harga komoditas.

Lebih lanjut, Hendra menyoroti ekspansi bisnis data center yang dinilai memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang yang menjanjikan. Hal ini sejalan dengan meningkatnya kebutuhan layanan cloud computing, artificial intelligence (AI), dan transformasi digital di Indonesia. “Artinya, valuasi DSSA ke depan tidak hanya ditopang oleh bisnis batu bara, tetapi juga oleh potensi pertumbuhan bisnis digital yang memiliki prospek lebih tinggi,” terang Hendra.

Dari perspektif pasar modal, aksi korporasi seperti pengalihan saham treasuri umumnya dapat meningkatkan kepercayaan investor jika dilaksanakan dengan mekanisme yang jelas dan tidak menimbulkan kekhawatiran akan bertambahnya tekanan jual di pasar. Investor akan cenderung memperhatikan bagaimana perusahaan menjalankan strategi bisnisnya, menjaga pertumbuhan laba, memperkuat arus kas, serta merealisasikan ekspansi pada sektor-sektor yang memiliki prospek pertumbuhan tinggi. Selama faktor-faktor tersebut tetap terjaga, sentimen positif terhadap saham DSSA berpotensi terus berlanjut.

Secara teknikal, Hendra menambahkan bahwa penguatan yang terjadi pada saham DSSA juga memperbaiki struktur tren jangka pendek. Selama harga mampu bertahan di atas area support terdekat, saham ini masih layak dicermati dengan rekomendasi trading buy. Target kenaikan pertama diproyeksikan berada di level 1.005, dengan target berikutnya di kisaran 1.115. “Apabila penguatan harga diikuti dengan peningkatan volume transaksi dan mampu menembus area resistance, maka peluang melanjutkan tren kenaikan akan semakin terbuka. Namun demikian, investor tetap disarankan menerapkan manajemen risiko melalui penerapan stop loss secara disiplin, mengingat pergerakan saham masih dipengaruhi oleh sentimen global, dinamika harga komoditas, serta perkembangan aksi korporasi perseroan,” pungkasnya.