Detak Media — JAKARTA – PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) bersiap memetik hasil dari strategi konsolidasi bisnis non-batu bara yang dimulai tahun buku 2026. Perusahaan menargetkan keseimbangan kontribusi antara bisnis batu bara dan non-batu bara pada 2029, dengan ekspektasi sektor non-batu bara akan menjadi penopang utama bisnis di masa depan.
Dalam beberapa waktu terakhir, emiten Grup Sinar Mas ini telah aktif melakukan berbagai aksi korporasi untuk memperkuat lini bisnis non-batu baranya. Dua langkah signifikan yang telah disiapkan adalah penggabungan usaha (merger) PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) dengan PT XL Axiata Tbk (EXCL) menjadi PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk, serta merger PT Moratelindo Telematika Indonesia Tbk (MORA) dengan PT Eka Mas Republik (EMR) atau MyRepublic menjadi PT Ekamas Mora Republik Tbk. Kedua merger ini dijadwalkan rampung pada semester I-2026.
Aksi merger ini menegaskan komitmen DSSA dalam melakukan transisi bisnis, tidak lagi hanya mengandalkan batu bara sebagai sumber pendapatan utama. Perusahaan berupaya menggali potensi keuntungan maksimal dari bisnis infrastruktur digital. DSSA mengklaim telah menggelontorkan investasi besar selama sepuluh tahun terakhir untuk memperkuat aset non-batu baranya.
Direktur Investasi DSSA, Daniel Cahya, menyatakan bahwa hingga kini DSSA telah menginvestasikan dana sebesar US$2,8 miliar atau setara Rp50 triliun. Hasil investasi ini diperkirakan akan mulai dirasakan pada tahun buku 2026. Proyeksi ini sekaligus membantah pandangan yang menganggap DSSA hanya berfokus pada bisnis batu bara.
“Dengan konsolidasi Mora Republik ke DSSA, kami rasa tahun ini kontribusi EBITDA akan 60% dari pertambangan batubara dan 40% dari nonbatubara. Ke depannya, kami harapkan bukan saja EBITDA, tetapi juga pendapatannya bisa 50:50,” ujar Daniel dalam sebuah siniar yang digelar Samuel Sekuritas.
Target pendapatan DSSA per segmen di 2026. Dok/Investor Daily
Proyeksi tersebut didukung oleh kapasitas data center perseroan yang berlokasi di Kuningan, Jakarta Selatan, dengan merek SM+. Data center yang siap untuk artificial intelligence (AI) ini memiliki kapasitas 40 megawatt dan diharapkan dapat beroperasi penuh pada Oktober atau kuartal terakhir 2026.
Faktor pendukung lain bagi bisnis infrastruktur digital DSSA adalah kerja sama strategisnya. Perusahaan menjalin kemitraan dengan Asix, perusahaan mobile asal China, untuk membantu pengembangan aplikasi AI bagi perusahaan telekomunikasi di Indonesia. Selain itu, kerja sama dengan iFlytek juga akan dimanfaatkan untuk penggunaan menara pemancar bersama (BTS) demi kepentingan bisnis lainnya.
“Jadi, kami memiliki kerja sama yang baik untuk bisa mengembangkan AI stack ini dan kami berharap bisa menjadi salah satu perusahaan AI infrastructure yang bisa dibangun di Indonesia,” tambah Daniel. Ekspektasi ini sejalan dengan visi DSSA untuk menjadi perusahaan yang berfokus pada pengembangan AI.
Belanja Modal
Dalam upaya menyeimbangkan porsi pendapatan dari bisnis batu bara dan non-batu bara, DSSA berencana untuk kembali melakukan investasi pada EXCL dan aset lainnya. Untuk tahun 2026, perusahaan menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp13 triliun yang diprioritaskan untuk sektor infrastruktur digital.
Di sektor panas bumi (geothermal), DSSA telah menjalin kemitraan strategis dengan First Gen, perusahaan pembangkit listrik energi bersih asal Filipina, untuk mengembangkan energi terbarukan di Indonesia. Daniel menyebutkan bahwa saat ini DSSA memiliki tujuh lokasi independent power producer (IPP) panas bumi yang masih dalam tahap pengembangan. “Kami harapkan bisa berkembang dan 2029 akan menjadi commercial operation date/COD pertama kami,” tutur Daniel.
Perdagangan saham DSSA pada Kamis (6/8/2026) menunjukkan lonjakan signifikan, naik 105 poin atau 12,14% ke level Rp970. Analis Pasar Modal, Hendra Wardana, menilai bahwa perhatian investor kini tertuju pada prospek pergerakan saham DSSA, terutama setelah perusahaan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang salah satu agendanya terkait pengelolaan saham treasuri hasil buyback.
“Kenaikan harga ini mencerminkan respons positif investor terhadap aksi korporasi yang dinilai mampu meningkatkan kepercayaan pasar. Bagi investor, langkah tersebut menunjukkan upaya perusahaan dalam mengoptimalkan struktur permodalan sekaligus memenuhi ketentuan regulator terkait pengalihan kembali saham treasuri,” terang Hendra kepada Investor Daily.
Hendra menambahkan bahwa pengalihan saham treasuri lebih kepada penataan struktur kepemilikan saham untuk optimalisasi modal, bukan peningkatan nilai fundamental secara langsung. Pelaksanaan yang transparan dan tidak menambah tekanan pasokan saham secara signifikan di pasar akan memberikan sentimen positif karena menunjukkan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance).
Dari sisi fundamental, Hendra melihat prospek DSSA menarik berkat portofolio bisnis yang terdiversifikasi, meliputi pertambangan batu bara, pembangkit listrik, infrastruktur, hingga bisnis digital seperti data center dan telekomunikasi. Diversifikasi ini membuat kinerja perusahaan lebih tahan terhadap fluktuasi harga komoditas.
Ekspansi bisnis data center juga dinilai memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang yang menjanjikan, seiring meningkatnya kebutuhan layanan cloud computing, artificial intelligence (AI), dan transformasi digital di Indonesia. Valuasi saham DSSA ke depan diharapkan tidak hanya ditopang oleh bisnis batu bara, tetapi juga potensi pertumbuhan bisnis digital yang memiliki prospek lebih tinggi.
Target Harga
Secara teknikal, penguatan saham DSSA pada perdagangan Kamis (6/8/2026) memperbaiki struktur tren jangka pendek. “Selama harga mampu bertahan di atas area support terdekat, saham ini masih layak dicermati dengan rekomendasi trading buy. Target kenaikan pertama berada di level Rp1.005, sedangkan target berikutnya berada di kisaran Rp1.115,” ujar Hendra.
Rekomendasi beli juga disampaikan oleh Kepala Riset Ritel MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana. Ia merekomendasikan beli saham DSSA apabila mampu break di level support Rp865 dan resistance Rp985. “Target harga kami berada di kisaran Rp1.025 hingga Rp1.095,” ujar Didit kepada Investor Daily.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.