— JAKARTA – Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menunjukkan pergerakan yang signifikan pada penutupan perdagangan Jumat, 31 Juli 2026. Saham emiten perbankan swasta ini mengalami aksi jual bersih (net sell) oleh investor asing senilai Rp 100,4 miliar, yang berimbas pada penurunan harga saham sebesar 1,94% ke level Rp 6.325.

Perubahan tren ini kontras dengan empat hari perdagangan sebelumnya di pekan yang sama, di mana saham BBCA secara konsisten mencatatkan pembelian bersih (net buy) dari investor asing. Puncak net buy asing terjadi pada 30 Juli 2026 dengan nilai mencapai Rp 317,41 miliar.

Meskipun terdapat net sell pada akhir pekan, secara akumulasi sepanjang pekan lalu, saham BBCA berhasil mencatat net buy asing sebesar Rp 426,56 miliar, dengan kenaikan harga saham sebesar 0,80%. Situasi ini berbeda dibandingkan pekan sebelumnya, 20-24 Juli 2026, saat saham BBCA justru mengalami net sell asing Rp 310,48 miliar dan membukukan penurunan harga 3,09%.

Di tengah fluktuasi pergerakan saham, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) melaporkan kinerja keuangan kuartal II-2026 yang sesuai dengan ekspektasi. Kinerja positif ini memicu munculnya target harga baru untuk saham BBCA.

BCA mencetak laba bersih sebesar Rp 14,9 triliun pada kuartal II-2026, menunjukkan stabilitas baik secara kuartalan (qoq) maupun tahunan (yoy). Kenaikan beban operasional berhasil diimbangi oleh penurunan biaya pencadangan.

Margin bunga bersih (net interest margin/NIM) BBCA mengalami tekanan dan turun menjadi 5,7%, menyusut 7 basis poin (bps) secara kuartalan dan 44 bps secara tahunan. Penurunan ini terutama disebabkan oleh pelemahan imbal hasil aset produktif.

“Meski demikian, manajemen BBCA menyampaikan bahwa imbal hasil kredit korporasi mulai membaik sejak Mei 2026. Perbaikan tersebut didorong oleh penyesuaian harga kredit serta penyaluran kredit baru dengan tingkat bunga lebih tinggi,” tulis analis BRI Danareksa Sekuritas, Victor Stefano dan Nataniella Eva Kezia dalam riset mereka.

Pertumbuhan kredit BBCA tetap menunjukkan performa sehat sebesar 4% qoq dan 8% yoy, didukung oleh segmen kredit grosir. Namun, pertumbuhan kredit konsumer masih terbatas.

Kualitas aset perseroan tetap stabil dengan rasio gross non-performing loan (gross NPL) berada di angka 1,8%. Meskipun demikian, terdapat peningkatan bertahap pada tingkat keterlambatan pembayaran di segmen ritel serta usaha kecil dan menengah (UKM).

Sepanjang semester I-2026, BBCA berhasil membukukan laba bersih Rp 30,3 triliun, naik 2% yoy. Angka ini setara dengan 49% dari proyeksi BRI Danareksa Sekuritas dan konsensus pasar untuk tahun 2026.

Pertumbuhan pendapatan berbasis komisi (fee based income) yang kuat turut menopang kinerja. Namun, dampaknya sedikit tereduksi oleh tekanan pada NIM dan peningkatan beban operasional. Manajemen BBCA memperkirakan NIM akan pulih pada semester II-2026, seiring berlanjutnya perbaikan imbal hasil kredit korporasi.

Target Harga Baru Saham BBCA

Manajemen BBCA mempertahankan panduan kinerja untuk tahun 2026 dengan asumsi Bank Indonesia (BI) akan menaikkan suku bunga acuan sebanyak dua kali lagi. Target perusahaan mencakup pertumbuhan kredit sebesar 8%-10%, NIM antara 5,4%-5,6%, serta cost of credit (CoC) di kisaran 0,4%-0,5%.

Dalam skenario ekonomi makro yang lebih lemah, CoC diperkirakan dapat meningkat hingga 60 bps atau 0,6%. Sementara itu, cost to income ratio (CIR) ditargetkan berada dalam rentang 31%-33%.

“Secara keseluruhan, manajemen BBCA tetap optimistis terhadap prospek semester II-2026. Optimisme tersebut didukung oleh perbaikan penetapan harga kredit korporasi, meskipun tantangan pada segmen konsumer dan UKM diperkirakan masih berlanjut,” jelas Victor.

BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan investor untuk tetap membeli saham BCA (BBCA). Namun, target harga saham BBCA telah diturunkan menjadi Rp 8.600 dari sebelumnya Rp 10.900.

Penyesuaian target harga baru ini dilakukan setelah BRI Danareksa Sekuritas mengubah asumsi cost of equity (CoE) dari rata-rata 7% menjadi minus satu standar deviasi (-1SD) sebesar 8%. “Penyesuaian yang lebih konservatif ini mencerminkan kenaikan tingkat imbal hasil bebas risiko,” ungkap Victor.

Asumsi baru tersebut menghasilkan nilai wajar rasio harga terhadap nilai buku (fair value price to book value/FV PBV) sebesar 3,5 kali.

Untuk pandangan taktis dalam jangka waktu tiga bulan, BRI Danareksa Sekuritas menetapkan posisi overweight. Meskipun masih terdapat tekanan akibat risiko negara dan berlanjutnya arus keluar dana investor asing, BRI Danareksa Sekuritas melihat potensi penurunan valuasi relatif yang terbatas.