Detak Media — JAKARTA – Pasar emas diprediksi akan mengalami periode stabilitas dengan pergerakan harga yang cenderung mendatar selama tiga hingga enam bulan ke depan. Proyeksi ini muncul seiring dengan perkiraan bahwa Federal Reserve (The Fed), bank sentral Amerika Serikat, tidak akan melakukan perubahan kebijakan moneter yang signifikan hingga setidaknya September 2026.
Kepala Strategi Pasar SIA Wealth Management, Colin Cieszynski, menjelaskan bahwa situasi geopolitik saat ini, terutama konflik di Timur Tengah, telah meningkatkan volatilitas di pasar energi dan memicu ekspektasi inflasi. Dalam kondisi ini, The Fed diperkirakan akan berhati-hati untuk tidak menambah gejolak di pasar melalui kebijakan yang agresif.
Cieszynski menekankan bahwa ketidakpastian terkait stabilitas harga dan situasi di Timur Tengah memberikan risiko yang cukup besar bagi investor emas. “Emas telah mengalami reli yang sangat besar,” ungkap Cieszynski, seperti dikutip dari Kitco News pada Rabu (29/7/2026).
Menurutnya, sebagian besar risiko yang berkaitan dengan perang sudah tercermin dalam harga emas. Namun, koreksi dari level US$ 5.500 menjadi US$ 4.000 per ons troi belum sepenuhnya menghilangkan premi risiko geopolitik dari pasar. “Penurunan itu memang mengurangi sebagian kekhawatiran terhadap perang, tetapi tidak seluruhnya. Harga emas masih berada di level tinggi dan muncul kekhawatiran kondisi ini akan memaksa bank sentral menaikkan suku bunga,” jelasnya.
Lebih lanjut, Cieszynski menilai data inflasi yang tersedia saat ini cenderung tertinggal atau menggambarkan kondisi periode sebelumnya. Ia memperkirakan inflasi dapat kembali meningkat dalam satu atau dua bulan mendatang apabila harga minyak terus menunjukkan tren kenaikan. “Berdasarkan kondisi tersebut, terdapat kemungkinan dolar AS mulai menguat. Penguatan dolar akan menjadi tekanan bagi harga emas,” ucapnya.
Secara umum, harga emas cenderung tertekan ketika dolar Amerika Serikat menguat. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa logam mulia tersebut diperdagangkan dalam dolar AS, sehingga penguatan dolar membuat emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.
Cieszynski menambahkan bahwa harga emas saat ini sedang dalam fase pencarian titik keseimbangan baru. Kondisi ini terjadi setelah logam mulia tersebut mengalami reli besar diikuti oleh koreksi tajam. “Kita sudah tidak lagi berada di US$ 3.000, tetapi juga tidak lagi berada di US$ 5.500. Harga sedang mencari keseimbangan di antara kedua level tersebut,” tuturnya.
Dengan mempertimbangkan faktor-faktor tersebut, Cieszynski memilih untuk bersikap netral terhadap prospek emas dalam jangka pendek. “Saya belum mengetahui faktor apa yang dibutuhkan agar harga emas kembali bergerak kuat. Emas telah mengalami reli yang sangat besar, kemudian terkoreksi tajam, dan sekarang pasar perlu menemukan keseimbangan baru. Proses ini bisa membutuhkan waktu tiga hingga enam bulan,” pungkasnya.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.