— JAKARTA – BRI Danareksa Sekuritas menyoroti estimasi kinerja emiten konsumer pada kuartal II-2026. Salah satu yang menjadi fokus adalah PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), emiten dari Grup Salim. Analis merekomendasikan ‘buy’ untuk saham ICBP, mengindikasikan potensi keuntungan yang signifikan.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Christy Halim dan Sabela Nur Amalina, memperkirakan pendapatan ICBP akan tumbuh sebesar 3,9% secara tahunan (yoy) pada kuartal II-2026. “Proyeksi tersebut secara umum masih sejalan dengan estimasi kami untuk tahun 2026,” tulis Christy dan Sabela dalam riset mereka pada Kamis (23/7/2026).

Namun, margin laba kotor dan margin laba bersih ICBP diprediksi mengalami penurunan, masing-masing menjadi 33,5% dan 11,1%. Pelemahan margin ini terjadi di tengah kenaikan harga bahan baku utama seperti minyak goreng, gandum, kentang, dan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO). “Sementara itu, harga jual produk mi masih belum mengalami perubahan sejak awal tahun,” ungkap Christy.

Di sisi lain, laba inti ICBP diproyeksikan tumbuh sebesar 50,6% yoy pada kuartal II-2026 dan 17,7% yoy pada semester I-2026. Pertumbuhan ini turut dipengaruhi oleh keuntungan selisih kurs yang dilaporkan pada tahun sebelumnya.

Selain ICBP, BRI Danareksa Sekuritas juga menganalisis emiten Grup Salim lainnya, yaitu PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF). Pendapatan INDF diperkirakan tumbuh 4,9% yoy pada kuartal II-2026, didukung oleh segmen agribisnis dan Bogasari, serta kontribusi moderat dari ICBP.

Laba inti INDF diprediksi turun 6,4% yoy pada semester I-2026. “Proyeksi tersebut secara umum sejalan dengan estimasi kami, karena setara 52% dari proyeksi laba inti sepanjang 2026,” jelas Christy.

Di luar Grup Salim, perhatian juga diberikan pada PT Mayora Indah Tbk (MYOR). Pendapatan MYOR diestimasi tumbuh 5,6% yoy pada kuartal II-2026, membuat pertumbuhan pendapatan semester I-2026 diprediksi relatif datar dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Meskipun harga bahan baku utama cukup menguntungkan, margin laba kotor dan margin operasional MYOR diperkirakan turun menjadi 23,5% dan 7,5% akibat kenaikan biaya kemasan dan pengangkutan. Meski demikian, pertumbuhan laba inti MYOR pada semester I-2026 diprediksi solid sebesar 13,6% yoy.

Selanjutnya, PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) diproyeksikan mengalami penurunan pendapatan sebesar 14,8% yoy pada kuartal II-2026. Pendapatan kumulatif semester I-2026 diprediksi turun 6,9% yoy akibat tekanan inflasi yang membebani daya beli dan permintaan konsumen. Namun, laba bersih UNVR diperkirakan relatif stabil meskipun perusahaan menghadapi kenaikan biaya transformasi.

Secara keseluruhan, emiten konsumer dalam cakupan riset BRI Danareksa Sekuritas diperkirakan membukukan pertumbuhan pendapatan 1,6% yoy pada kuartal II-2026. Pendapatan kuartalan diprediksi turun 11,9% qoq pasca-Lebaran, namun pendapatan semester I-2026 ditaksir tumbuh 3,5% yoy. “Itu sejalan dengan proyeksi kami dan konsensus analis untuk tahun 2026,” ungkap Christy.

Margin emiten konsumer diperkirakan menghadapi tekanan akibat dampak tertunda dari ketegangan geopolitik pada kuartal I-2026, yang meningkatkan biaya logistik dan bahan baku. BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi ‘overweight’ untuk sektor konsumer, dengan pilihan utama pada saham ICBP dan MYOR melalui rekomendasi ‘buy’.

Target harga saham ICBP ditetapkan sebesar Rp 10.500 dan MYOR sebesar Rp 2.700. Potensi keuntungan saham ICBP diperkirakan mencapai 47%, sementara MYOR sebesar 49%. “Kami lebih memilih saham-saham defensif, seperti MYOR dan ICBP, karena kedua perusahaan memiliki pertumbuhan penjualan yang relatif lebih tahan terhadap perlambatan konsumsi,” pungkasnya.