— Pemerintah menargetkan revitalisasi lebih dari 100 cagar budaya sepanjang tahun 2026. Langkah ini merupakan bagian dari upaya penguatan pelestarian warisan sejarah nasional dan peningkatan daya tarik sektor pariwisata Indonesia.

Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, menyatakan bahwa program revitalisasi ini akan dilaksanakan secara bertahap. Berbagai kementerian dan lembaga yang mengelola aset cagar budaya akan dilibatkan dalam proses ini.

“Mungkin ada sekitar lebih dari 100 (cagar budaya) yang akan dilaksanakan (revitalisasi) tahun ini ya pada tahap awal ini,” ujar Fadli pada Kamis (30/7/2026), saat dalam perjalanan menuju Jakarta menggunakan kereta api. Pernyataan ini disampaikan seusai mendampingi Presiden Prabowo Subianto dalam kunjungan kerja ke Semarang dan Batang, Jawa Tengah.

Fadli menjelaskan bahwa Presiden Prabowo memberikan perhatian besar terhadap pelestarian sejarah dan cagar budaya. Oleh karena itu, setiap kementerian dan lembaga didorong untuk merevitalisasi aset budaya yang berada di bawah pengelolaannya.

Di lingkungan Kementerian Kebudayaan, program ini mencakup revitalisasi museum dan berbagai situs cagar budaya. Beberapa di antaranya adalah candi, masjid bersejarah, gereja, benteng, hingga keraton. “Kemudian ada benteng-benteng, keraton-keraton, Istana Maimun sekarang juga akan direvitalisasi, keraton Surakarta dan sejumlah keraton,” terangnya.

Menurut Fadli, revitalisasi cagar budaya tidak hanya bertujuan untuk menjaga warisan sejarah dan peradaban bangsa, tetapi juga untuk meningkatkan daya tarik destinasi wisata budaya. Peningkatan jumlah kunjungan wisatawan diharapkan dapat menggerakkan ekosistem budaya, memperkuat ekonomi kreatif, dan mendorong pertumbuhan sektor pariwisata.

Ia menambahkan bahwa wisata budaya kini menjadi salah satu tren yang berkembang di berbagai negara. Hal ini sejalan dengan meningkatnya minat generasi muda terhadap pengalaman yang berbasis sejarah dan budaya.

Fadli mencontohkan tingginya antusiasme masyarakat terhadap Museum Passport yang diterbitkan Kementerian Kebudayaan. Sebanyak 20.000 paspor museum yang dijual seharga Rp 89 ribu dilaporkan habis terjual dalam waktu singkat.

Menurutnya, fenomena tersebut menunjukkan bahwa generasi Z mulai tertarik mengoleksi benda-benda budaya yang memiliki nilai fisik, meskipun mereka tumbuh di era digital. “Jadi itu menunjukkan Gen Z ini sekarang suka dengan material culture, karena mungkin mereka ini tadinya digital native, sehingga sesuatu yang berbentuk, yang bisa dipegang, yang dirasa, dan dikoleksi itu menjadi penting,” pungkasnya.