Detak Media — Ekonom kawakan sekaligus pengkritik kripto, Peter Schiff, kembali melontarkan peringatan keras bagi investor aset kripto. Melalui platform X, Schiff menyebut tren kenaikan harga Bitcoin (BTC) telah berakhir. Ia memprediksi bakal terjadi gelombang penjualan beruntun (selloff) yang jauh lebih besar di pasar modal dan kripto.
Schiff menyoroti fenomena reli pasar saham belakangan ini yang dipicu oleh optimisme perdamaian global (peace-inspired mega-rally). Kebangkitan tersebut berhasil mendongkrak harga berbagai aset berisiko, termasuk saham-saham perusahaan tambang. Namun, Bitcoin justru dinilai hampir tidak bergerak dan tertinggal jauh dari reli tersebut.
“Hal itu bukan pertanda baik bagi prospek Bitcoin saat terjadi gelombang penjualan aset berisiko berikutnya. Pesta Bitcoin telah usai,” tegas Schiff.
Pernyataan tersebut menyambung peringatan Schiff sebelumnya yang menilai seluruh bursa saham AS sudah kemahalan (overpriced), tidak hanya saham di sektor teknologi. Ia berargumen, begitu koreksi pasar meluas melampaui sektor teknologi, harga Bitcoin berpotensi mengalami penurunan mendalam.
Kinerja aset kripto terbesar di dunia ini memang tengah lesu. Bitcoin telah kehilangan lebih dari separuh nilainya sejak mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all-time high) di atas US$ 120.000 (sekitar Rp 2,1 miliar) pada Oktober 2025. Sepanjang 2026, Bitcoin terus terkonsolidasi di kisaran bawah US$ 60.000 (sekitar Rp 1,1 miliar), menyusul performa awal tahun yang menjadi salah satu periode terlemah dalam satu dekade terakhir.
Pandangan pesimistis Schiff didasari oleh sifat alami Bitcoin yang cenderung diperdagangkan sebagai aset berisiko dengan volatilitas tinggi (high-beta risk asset), alih-alih berfungsi sebagai aset aman (safe haven) layaknya emas. Saat pasar saham berada di bawah tekanan tajam, pasar kripto sering kali memperbesar dampak penurunan tersebut bukannya menjadi pelindung nilai.
Schiff menilai tertinggalnya kinerja Bitcoin dibanding aset berisiko lainnya saat ini merupakan sinyal awal penurunan pasar berikutnya akan menghantam para pemegang (holder) Bitcoin lebih keras dari yang diperkirakan. Sikap skeptis Schiff terhadap kripto bukanlah hal baru. Selama bertahun-tahun ia konsisten bersikap bearish pada Bitcoin dan kerap membandingkannya dengan logam mulia fisik seperti emas.
Para pelaku pasar kini mencermati apakah pelemahan bursa saham AS akan benar-benar terjadi dan apakah tren kelambatan Bitcoin ini akan terus berlanjut. Bagi Schiff, pesannya jelas. Era keuntungan mudah dari Bitcoin sudah berakhir, sedangkan penurunan harga yang lebih curam berpotensi terjadi begitu sentimen pasar berbalik negatif.
Peter Schiff merupakan CEO dan Chief Global Strategist di Euro Pacific Capital. Ia adalah pendukung setia emas fisik sebagai instrumen lindung nilai (hedging) utama terhadap inflasi dan krisis keuangan. Sejak awal kemunculan Bitcoin, Schiff menjadi salah satu kritikus paling konsisten di Wall Street yang menilai aset digital tersebut tidak memiliki nilai intrinsik (intrinsic value).
Perdebatan mengenai status Bitcoin terus menjadi perhatian utama para investor global, apakah berfungsi sebagai emas digital (safe haven) atau sekadar aset spekulatif yang mengekor pergerakan saham teknologi. Keterkaitan erat antara pergerakan Bitcoin dan indeks saham AS (seperti Nasdaq dan S&P 500) selama periode ketidakpastian ekonomi global makin memperkuat argumen para skeptis. Hal ini membuktikan saat likuiditas ketat, investor cenderung melepas aset berisiko tinggi seperti kripto terlebih dahulu sebelum mengamankan dana mereka ke instrumen tradisional.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.