Detak Media — JAKARTA – Lonjakan angka pariwisata sebesar 7,68% pada periode Januari hingga Mei 2026 turut mendongkrak permintaan kendaraan niaga penumpang, khususnya bus medium yang menjadi andalan sektor wisata. Menanggapi tren positif ini, para operator bus pariwisata dan produsen kendaraan niaga terus berupaya meningkatkan efisiensi operasional serta kualitas layanan armada wisata mereka.
Direktur Utama PT Bagong Dekaka Makmur, Budi Susilo, mengungkapkan bahwa permintaan layanan bus wisata selama musim libur sekolah 2026 menunjukkan angka yang relatif tinggi dan tersebar di berbagai daerah. Meskipun ada pembatasan kegiatan study tour di beberapa wilayah, kebutuhan akan transportasi untuk perjalanan wisata tetap stabil.
“Pada saat liburan sekolah kemarin permintaannya hampir merata. Memang ada beberapa daerah yang membatasi study tour, tetapi saat periode liburan permintaan tetap tinggi. Saat libur sekolah kemarin armada bus kami sampai kurang,” ujar Budi dalam diskusi bertema Memperkuat Nilai Tambah Industri Pariwisata, Produk Lokal Konsumen Global di Booth Mitsubishi Fuso saat GIIAS 2026.
Budi menambahkan, perbaikan infrastruktur jalan, terutama konektivitas jaringan jalan tol di Pulau Jawa hingga Banyuwangi serta pengembangan akses ke Sumatera, menjadi faktor pendukung utama bagi pertumbuhan transportasi darat untuk wisata. Ditambah lagi, kenaikan harga tiket pesawat akibat tingginya harga avtur membuat masyarakat mulai mempertimbangkan transportasi darat sebagai alternatif yang lebih terjangkau.
Untuk menangkap peluang pasar yang semakin terbuka, PT Bagong Dekaka Makmur telah memperkuat digitalisasi layanan. Seluruh armada kini dilengkapi sistem pemantauan berbasis GPS dan telematika guna mengoptimalkan efisiensi operasional dan menjaga kualitas pelayanan kepada pelanggan.
Ke depan, perusahaan juga tengah menyiapkan aplikasi digital yang tidak hanya memfasilitasi pemesanan bus, tetapi juga terintegrasi dengan berbagai kebutuhan perjalanan wisata. “Nanti pelanggan bisa menyewa bus sekaligus melihat pilihan rute perjalanan, destinasi wisata, tempat makan, hingga rekomendasi tour leader dalam satu aplikasi,” jelas Budi.
Saat ini, PT Bagong Dekaka Makmur mengoperasikan sekitar 78 unit armada wisata yang tersebar di wilayah Jabodetabek dan Jawa Timur. Perusahaan memastikan seluruh armadanya telah memenuhi standar pelayanan dan perizinan yang berlaku. “Di Jabodetabek ada 48 unit dan Jawa Timur 30 unit. Kami juga menjaga kualitas kendaraan melalui perawatan dan pengelolaan armada yang baik,” papar dia.
Budi menerangkan bahwa kebutuhan armada bus pariwisata terus meningkat karena siklus permintaan sewa bus tidak lagi terbatas pada libur panjang, libur sekolah, atau momen hari besar. “Dulu orang bepergian untuk liburan itu di weekend di akhir pekan. Sekarang tidak selalu di weekend, banyak instansi menggelar kegiatan gathering yang diselenggarakan tidak pada weekend,” ungkap dia.
Ia mencontohkan, wisatawan dan delegasi asing yang datang ke Indonesia tidak selalu pada akhir pekan. Begitu pula rombongan yang berangkat ke BSD, Tangerang, untuk menyaksikan pameran GIIAS 2026. “Jadi permintaan bus sekarang cenderung meningkat,” papar Budi.
Sebagai operator transportasi wisata, PT Bagong Dekaka Makmur berkomitmen menghadirkan armada yang aman, nyaman, dan andal untuk memberikan pengalaman perjalanan terbaik bagi penumpang. “Sebagai operator, PT Bagong berkomitmen menghadirkan kendaraan sektor wisata yang aman dan nyaman,” tegas Budi.
Prospek Cerah di Industri Transportasi Pariwisata
Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mencatat, kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) sepanjang Januari–Mei 2026 mencapai 6,07 juta kunjungan, tumbuh 7,68% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini terutama didorong oleh pasar Asia Tenggara yang meningkat 11,06%.
Sementara itu, wisatawan nusantara (Wisnus) mencatatkan peningkatan perjalanan sebesar 8,69% pada Mei 2026 dibandingkan tahun sebelumnya, mencapai 97,67 juta perjalanan. Secara kumulatif, jumlah perjalanan wisnus Januari hingga Mei 2026 mencapai 523,22 juta perjalanan, naik 2,86% dari periode yang sama tahun 2025.
Marketing Director PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors (KTB), Aji Jaya, melihat meningkatnya aktivitas wisata dan bertambahnya destinasi baru di berbagai daerah sebagai sinyal positif bagi industri transportasi. “Industri pariwisata meningkat dan infrastruktur jalan semakin baik. Kami melihat ada potensi pasar yang besar di segmen transportasi pariwisata,” ujar dia.
Menjawab kebutuhan pasar, KTB menghadirkan varian bus dengan wheelbase lebih panjang. Varian Canter Extra Long Bus hadir dengan wheelbase sepanjang 4,2 meter, memberikan fleksibilitas bagi karoseri untuk menciptakan kabin dengan kapasitas penumpang yang lebih optimal. Kendaraan ini didukung mesin 136 PS, radius putar lebih kecil, serta penggunaan long tapered leaf spring untuk kenyamanan berkendara.
Aji menjelaskan, tren kendaraan berkapasitas besar juga didorong oleh kebutuhan efisiensi operasional. Dengan kapasitas angkut yang lebih besar, operator dapat meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya per penumpang.
Ia menilai sektor pariwisata berpotensi menjadi motor penggerak industri transportasi dalam beberapa tahun ke depan, seiring dengan upaya pemerintah daerah mengembangkan destinasi wisata baru. “Kami melihat orang tetap ingin berwisata. Yang menarik justru semakin banyak daerah yang membuka destinasi baru untuk menarik wisatawan. Ini menjadi peluang besar bagi industri transportasi wisata,” kata Aji.
Pentingnya Kolaborasi Antar Sektor
Asisten Deputi Bidang Manajemen Industri Kemenpar, Budi Supriyanto, menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, industri otomotif, dan operator transportasi sebagai kunci mewujudkan pariwisata Indonesia yang berkualitas. Pemerintah akan terus mendorong pengembangan sektor pariwisata yang berorientasi pada high value tourism.
“Serta menghadirkan quality experience dengan memastikan wisatawan memperoleh pengalaman perjalanan yang aman, nyaman, dan berkesan,” ujar Budi.
Transportasi yang andal menjadi elemen krusial dalam ekosistem pariwisata karena berperan dalam meningkatkan aksesibilitas ke berbagai destinasi wisata. “Bagaimanapun, dukungan industri kendaraan tidak bisa dilepaskan karena setiap perjalanan wisata hingga ke berbagai destinasi tentu membutuhkan layanan transportasi yang andal,” tutup Budi.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.