— Pasar kendaraan roda empat nasional diproyeksikan mencapai sekitar 850.000 unit pada tahun 2026. Kontribusi kendaraan listrik (EV) terhadap total penjualan mobil nasional diperkirakan dapat menyentuh angka 12 persen.

Pengamat otomotif Yannes Martinus Pasaribu menjelaskan bahwa segmen EV diprediksi tetap mencatat pertumbuhan, meskipun tidak lagi mendapatkan dorongan insentif sebesar sebelumnya. Ia memperkirakan kontribusi EV terhadap total penjualan mobil nasional dapat mencapai sekitar 12 persen. “EV sekitar 12% dari total penjualan,” kata Yannes usai acara VinTalks yang digelar VinFast Indonesia di GIIAS 2026 pada Senin (3/8/2026).

Pertumbuhan kendaraan listrik saat ini tidak hanya didorong oleh faktor teknologi, tetapi juga perubahan preferensi konsumen, terutama generasi muda yang mulai memasuki usia produktif dan memiliki daya beli. Distribusi pasar EV masih sangat bergantung pada kesiapan infrastruktur. Yannes menilai penjualan kendaraan listrik akan lebih kuat di wilayah yang memiliki fasilitas pendukung memadai, khususnya kawasan perkotaan besar seperti Jabodetabek. “Pasar terbesarnya di sini, yang infrastrukturnya paling siap. Luar Jabodetabek jangan tanya, pasti rendah,” ujarnya.

Yannes juga menyoroti bahwa kebijakan pemerintah daerah dapat memengaruhi momentum pertumbuhan kendaraan listrik. Salah satunya terkait rencana perubahan kebijakan insentif kendaraan listrik di sejumlah daerah. Pengurangan insentif dapat membuat pasar EV kembali mengalami perlambatan karena sebagian konsumen masih mempertimbangkan faktor keekonomian saat membeli kendaraan listrik. “Bisa nurunin, bisa stagnan lagi,” kata Yannes.

Ia juga menilai pemerintah perlu menjaga konsistensi kebijakan agar industri kendaraan listrik yang sedang berkembang tidak kehilangan momentum. Mengenai penjualan tahun ini, Yannes memperkirakan pasar kendaraan roda empat nasional masih memiliki peluang mencapai sekitar 850.000 unit pada 2026. Walaupun, industri otomotif menghadapi tantangan berupa pelemahan daya beli masyarakat dan berakhirnya sejumlah insentif kendaraan listrik.

Kinerja pasar otomotif tahun ini sangat bergantung pada kemampuan pemerintah menjaga stabilitas ekonomi, terutama daya beli masyarakat kelas menengah yang menjadi basis utama pembelian kendaraan baru. “Kalau ekonominya berhasil terjaga, kita bisa naik. Tapi kayaknya sekitar 850 ribu-an unit tahun ini,” ujar Yannes.

Kondisi makroekonomi menjadi faktor kunci bagi industri otomotif. Pasalnya, meski minat terhadap kendaraan baru masih ada, konsumen kini semakin sensitif terhadap harga akibat kenaikan biaya hidup.

Perkuat Infrastruktur

Selain insentif, faktor infrastruktur pengisian daya juga menjadi tantangan besar. Menurut Yannes, percepatan adopsi EV saat ini mulai melampaui kesiapan sistem pendukung, terutama jaringan listrik dan layanan home charging.

Berdasarkan riset yang dilakukan bersama tim di Institut Teknologi Bandung (ITB), sebagian pengguna kendaraan listrik masih lebih memilih melakukan pengisian daya di luar rumah karena pemasangan fasilitas pengisian di rumah menghadapi sejumlah kendala. “Orang lebih suka charging di luar rumah. Kebiasaan SPBU masih ada,” jelas dia.

Yannes mengatakan, pemasangan home charging bukan hanya persoalan biaya, tetapi juga kesiapan jaringan listrik. Konsumen harus melakukan penambahan daya, sementara prosesnya tidak selalu cepat karena keterbatasan sumber daya dan antrean layanan.

Meski menghadapi tantangan, Yannes menyebut kendaraan listrik akan terus berkembang seiring meningkatnya tekanan terhadap penggunaan energi fosil serta kebutuhan mencari sumber energi alternatif. “Ini sebenarnya irreversible market. Pasar yang secara struktural tidak bisa kembali lagi ke mobil bensin,” ujarnya.

Menurutnya, ke depan pemerintah perlu memperkuat ekosistem kendaraan listrik, mulai dari infrastruktur, sumber energi, hingga kesiapan industri domestik. Dengan kondisi tersebut, Yannes memperkirakan persaingan otomotif nasional akan semakin ketat.

Ekosistem Jadi Kunci

Persaingan kendaraan listrik (EV) di Indonesia mulai memasuki babak baru. Fotografer Otomotif Sukimin Thio menilai perubahan perilaku konsumen membuat produsen harus memberikan lebih dari sekadar kendaraan. Menurut dia, pengalaman setelah membeli kendaraan menjadi faktor penting dalam menentukan keputusan konsumen. “Beli mobil itu bukan cuma menyediakan mobilnya, tapi bagaimana aftersales-nya, bagaimana charging-nya. Ekosistem itu penting banget dalam kita memutuskan brand mobil apa yang akan kita beli,” kata Sukimin.

Hal senada disampaikan Founder Lugnuts Auto Rockford Pojono. Ia melihat konsumen kendaraan listrik mulai melewati fase ketertarikan awal terhadap teknologi EV. Pada tahap awal, masyarakat membeli mobil listrik karena tertarik dengan teknologi baru, fitur yang melimpah, serta performa yang berbeda dibanding kendaraan bermesin konvensional. Namun, kini pertimbangannya mulai bergeser. “Konsumen mulai berpikir bagaimana mobil ini bisa memudahkan hidup sehari-hari. Mulai dari running cost, charging, sampai maintenance,” ujar Rockford.

Menurut Rockford, sejumlah pertanyaan yang paling sering muncul dari calon pengguna EV adalah mengenai penghematan biaya, kemudahan pengisian daya, serta biaya perawatan kendaraan.

Selain itu, Yannes juga menilai langkah membangun ekosistem menjadi strategi penting karena hambatan terbesar adopsi EV bukan lagi hanya soal teknologi kendaraan, melainkan rasa percaya konsumen terhadap kepemilikan jangka panjang. Menurut dia, kendaraan listrik saat ini sudah memasuki fase baru.

EV tidak lagi dipasarkan hanya sebagai produk teknologi tinggi atau simbol gaya hidup, tetapi sebagai solusi mobilitas yang memberikan efisiensi. “Yang dijual bukan lagi sekadar barang mewah atau barang yang keren, tetapi juga servis. Ekosistem ini sekarang menjadi model bisnis baru,” ujar Yannes.

Tawarkan Konsep TCO

Seiring persaingan semakin ketat, produsen kendaraan listrik berlomba membangun ekosistem pendukung. Salah satunya Vinfast Indonesia yang mengedepankan pendekatan total cost of ownership (TCO) untuk meyakinkan konsumen mengenai nilai ekonomis kendaraan listrik dalam jangka panjang.

Head of Training Department VinFast Indonesia Rinaldi Ramdani mengatakan bahwa saat ini pola pikir konsumen dalam membeli mobil perlu bergeser, dari sekadar melihat harga awal kendaraan menjadi menghitung seluruh biaya selama masa kepemilikan.

Oleh karena itu, konsep tersebut menjadi salah satu upaya VinFast menjawab berbagai kekhawatiran masyarakat yang masih menjadi hambatan adopsi kendaraan listrik. Kekhawatiran tersebut antara lain biaya pengisian daya, penurunan kesehatan baterai (battery health), biaya penggantian baterai, hingga nilai jual kembali kendaraan.

Rinaldi mengatakan bahwa pendekatan itu mendapat respons positif karena konsumen mulai memahami bahwa biaya kendaraan tidak berhenti pada harga pembelian. “Kami melihat cukup positif setelah kami perkenalkan konsep drive worry-free. Customer merasa terbantu karena ternyata selama memakai mobil ada biaya lain yang harus dipikirkan,” katanya.

Ia juga menjelaskan, dalam perhitungan TCO, terdapat beberapa komponen utama yang menjadi perhatian, mulai dari biaya pengisian daya, biaya perawatan selama empat hingga lima tahun, hingga nilai jual kembali kendaraan.

Rinaldi juga mengklaim berdasarkan kalkulator TCO internalnya, biaya kepemilikan kendaraan listrik mereka dapat lebih hemat hingga 19% dibandingkan kendaraan listrik pembanding dalam periode empat hingga lima tahun. “Ini belum menghitung resale value. Ketika dihitung resale value, dampaknya menjadi sangat signifikan karena kami memiliki program resale value guarantee yang menjamin hingga 80% selama empat tahun,” kata Rinaldi.