— Perdebatan mengenai efisiensi biaya antara mobil listrik (BEV) dan mobil bensin (ICEV) terus bergulir. Meskipun mobil listrik menawarkan biaya pengisian daya dan perawatan yang lebih rendah, pertanyaan krusialnya adalah: mana yang lebih hemat jika digunakan selama 10 tahun? Jawabannya sangat bergantung pada total biaya kepemilikan (Total Cost of Ownership/TCO), yang mencakup seluruh aspek finansial dari pembelian hingga nilai jual kembali.

Salah satu daya tarik utama kendaraan listrik adalah biaya operasional harian yang lebih minim. Pemilik tidak perlu lagi dibebani biaya pembelian bahan bakar minyak (BBM) yang fluktuatif, dan kebutuhan perawatan rutin pun lebih sedikit dibandingkan mobil bermesin pembakaran internal. Namun, TCO tidak hanya berhenti pada penghematan operasional harian.

Faktor-faktor lain seperti harga pembelian awal, pajak, biaya energi, perawatan, depresiasi nilai jual, hingga potensi biaya penggantian baterai setelah masa garansi berakhir, semuanya berkontribusi pada TCO. Ekonom dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI), Riyanto Umar, menegaskan bahwa biaya operasional harian BEV memang lebih rendah, terutama jika dibandingkan dengan harga BBM saat ini.

“Biaya operasional BEV pasti lebih murah daripada biaya operasional sehari-hari untuk ICEV. Apalagi ketika BBM seperti harga saat ini,” ujar Riyanto. Selisih biaya ini utamanya berasal dari pengeluaran energi, di mana pengisian daya listrik umumnya lebih ekonomis daripada membeli BBM untuk jarak tempuh yang sama. Selain itu, mobil listrik tidak memerlukan perawatan mesin konvensional seperti penggantian oli, busi, dan komponen terkait lainnya.

Riyanto menambahkan bahwa kesenjangan TCO antara mobil listrik dan konvensional semakin menipis seiring dengan harga BEV yang semakin kompetitif dan tingginya harga BBM. “Dengan harga BEV yang makin dekat dengan ICEV ini dan harga BBM yang cukup mahal, maka total cost of ownership BEV sudah setara dengan TCO ICEV, kendati PKB dan BBNKB dikenakan,” jelasnya.

Di sisi lain, Pakar Otomotif Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, mengingatkan bahwa biaya listrik dan servis rutin hanyalah sebagian dari perhitungan TCO. Konsumen perlu cermat menghitung seluruh biaya yang timbul sejak kendaraan dibeli hingga dijual kembali.

“Kalau bicara biaya TCO selama 10 tahun, saya kira perhitungannya tidak bisa hanya melihat biaya listrik yang lebih murah atau servis yang lebih sedikit,” kata Yannes. Ia mengakui potensi penghematan operasional EV cukup besar, terutama bagi pengguna dengan mobilitas tinggi.

Namun, Yannes menyoroti faktor-faktor yang dapat meningkatkan biaya kepemilikan jangka panjang. Salah satunya adalah potensi penurunan nilai jual kembali yang lebih cepat dibandingkan mobil konvensional. Perkembangan teknologi kendaraan listrik yang pesat juga dapat membuat model lama cepat tertinggal, sementara kondisi kesehatan baterai akan sangat memengaruhi harga jual kendaraan bekas.

“Tetapi di sisi lain masih ada beberapa komponen penting yang juga harus diperhitungkan, seperti nilai jual kembali yang rontok, perkembangan teknologi baterai yang sangat cepat, hingga biaya penggantian baterai,” tambahnya. Biaya penggantian baterai, terutama jika kerusakan terjadi di luar masa garansi, berpotensi menjadi pengeluaran terbesar.

Yannes menyimpulkan bahwa mobil listrik tidak secara otomatis menjadi pilihan paling hemat untuk semua orang. Keuntungan ekonominya sangat dipengaruhi oleh pola penggunaan, jarak tempuh harian, akses pengisian daya, lama kepemilikan, dan kemampuan finansial pemilik.

Bagi pengguna dengan mobilitas tinggi, penghematan biaya energi dapat mempercepat pengembalian selisih harga beli. Mobil listrik juga dinilai lebih cocok untuk kendaraan operasional perusahaan atau armada bisnis yang intensif digunakan. Sebaliknya, bagi pengguna dengan jarak tempuh harian pendek, mobil bensin berkapasitas mesin kecil masih menjadi pilihan rasional karena harga beli lebih terjangkau dan nilai jual kembali cenderung stabil.

“Pada kondisi tertentu EV memang bisa menjadi pilihan yang lebih ekonomis, tetapi pada kondisi lain mobil ICE yang dirawat dengan baik juga masih mampu mempertahankan nilai asetnya lebih baik,” ujar Yannes. Oleh karena itu, tidak ada jawaban tunggal mengenai mobil listrik atau bensin yang lebih hemat. Keputusan pembelian sebaiknya didasarkan pada perhitungan TCO yang komprehensif, mencakup harga beli, biaya operasional, nilai jual kembali, perawatan, dan potensi penggantian baterai.