— JAKARTA – Tiga emiten telekomunikasi terkemuka di Indonesia berhasil mengamankan spektrum frekuensi radio 2,6 GHz dan 700 MHz setelah memenangkan lelang yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi). Keberhasilan ini diprediksi akan mendorong kinerja saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT XL Axiata Tbk (EXCL), dan PT Indosat Tbk (ISAT) ke arah positif.

Saham TLKM, yang sebelumnya sempat berada di zona undervalued, berpeluang untuk kembali menguat. Analis Retail Research CGS International Sekuritas Indonesia, Andrian A. Saputra, merekomendasikan investor untuk mengakumulasi saham TLKM, dengan proyeksi kenaikan harga hingga Rp3.900, atau melonjak 47,17% dari harga penutupan Kamis, 23 Juli 2026.

Proyeksi positif ini sejalan dengan keberhasilan anak usaha TLKM, PT Telekomunikasi Seluler (Telkomsel), yang berhasil mendapatkan pita frekuensi 80 MHz dari spektrum 2,6 GHz. Telkomsel memenangkan lelang dengan penawaran tertinggi mencapai Rp545,8 miliar. Menurut Andrian, tambahan spektrum ini akan mempercepat implementasi layanan 5G Telkom melalui peningkatan kapasitas jaringan, terutama untuk menangani trafik data yang tinggi.

Selain itu, total biaya lelang industri yang mencapai Rp3,36 triliun, jauh di bawah estimasi Rp5,5 triliun, membuat beban tambahan biaya spektrum bagi operator seluler menjadi lebih ringan dari perkiraan. “Bagi TLKM, hasil lelang ini merupakan sentimen positif. Melalui Telkomsel, perseroan memperoleh tambahan spektrum strategis untuk memperkuat kualitas jaringan dan mempercepat ekspansi layanan 5G dengan biaya lebih rendah dari ekspektasi pasar,” jelas Andrian.

Kondisi ini diperkirakan akan mengurangi tekanan terhadap profitabilitas emiten telekomunikasi dan menghilangkan salah satu faktor overhang yang sebelumnya membebani sektor ini. Andrian memperkirakan, tambahan spektrum ini berpotensi mendukung pertumbuhan trafik data, menjaga daya jaringan Telkomsel, dan menjadi fondasi bagi peningkatan pendapatan dari layanan digital dan 5G dalam jangka pendek.

Tren kenaikan tarif layanan seluler diproyeksikan berlanjut hingga 12 bulan ke depan, seiring dengan perbaikan disiplin harga di industri. Dukungan tren ini berpotensi meningkatkan average revenue per user (ARPU) sekaligus mempercepat pertumbuhan pendapatan dan profitabilitas TLKM melalui Telkomsel.

Bisnis data center juga diprediksi tetap menjadi motor pertumbuhan Telkom, didukung oleh meningkatnya kebutuhan layanan cloud, kecerdasan buatan (AI), transformasi digital di berbagai sektor. Hal ini membuka peluang bagi TLKM untuk meningkatkan kontribusi pendapatan dari segmen digital di luar bisnis telekomunikasi konvensional.

Operator seluler lain, PT Indosat Tbk (ISAT) dan PT XL Axiata Tbk (EXCL), juga berhasil mengamankan pita frekuensi masing-masing sebesar 60 MHz dengan penawaran Rp372 miliar dan 50 MHz senilai Rp231,6 miliar dari spektrum 2,6 GHz. Pada lelang pita frekuensi 700 MHz, EXCL memenangkan blok terbesar 30 MHz senilai Rp1,06 triliun. Sementara itu, Telkomsel dan ISAT masing-masing mendapatkan blok 20 MHz dengan nilai penawaran Rp642,5 miliar dan Rp507,48 miliar.

Pita frekuensi 2,6 GHz berfungsi untuk menambah kapasitas dan memperkuat kualitas layanan di area padat trafik data. Sementara itu, pita frekuensi 700 MHz bertujuan memperluas cakupan layanan, termasuk di wilayah pedesaan, kawasan terpencil, dan area yang belum terlayani secara optimal.

Tim riset BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), yang terdiri dari Kafi Ananta dan Erindra Krisnawan, menyematkan peringkat overweight untuk saham-saham emiten telekomunikasi, dengan ISAT dan EXCL menjadi saham favorit. BRIDS mempertahankan pandangan netral untuk saham TLKM.

Dengan risiko biaya spektrum yang kini lebih terukur dan hasil lelang yang lebih murah dari estimasi, BRIDS merekomendasikan tactical overweight (3 bulan) untuk saham ISAT dan EXCL. Saham ISAT menjadi pilihan utama karena valuasinya yang menarik dengan EV/EBITDA FY26F sebesar 3,8 kali, atau 1,7 standar deviasi di bawah rata-rata tiga tahun. Biaya spektrum yang lebih rendah juga meningkatkan peluang ISAT untuk membagikan dividen spesial.

BRIDS mematok target harga saham ISAT di Rp3.700, menawarkan potensi kenaikan 91,21% dari harga penutupan Kamis, 23 Juli 2026. Untuk EXCL, target harga ditetapkan di Rp3.750, menawarkan potensi kenaikan 47,64% dari harga penutupan yang sama.

Kafi dan Erindra menilai bahwa biaya besar pasca-merger antara XL dan Smartfren telah berlalu dan realisasi sinergi diperkirakan dimulai lebih cepat pada FY27F. “Kami mempertahankan pandangan netral terhadap TLKM karena prospek pertumbuhannya relatif lebih lemah dan adanya ketidakpastian mengenai waktu penyelesaian transaksi Infranexia,” tulis BRIDS dalam riset terbarunya yang dikutip, Kamis (23/7/2026).