Detak Media — Volatilitas menjadi salah satu konsep krusial bagi para pelaku pasar keuangan, khususnya dalam trading forex. Ukuran ini mengacu pada seberapa besar dan seberapa cepat harga suatu pasangan mata uang mengalami pergerakan dalam periode waktu tertentu. Semakin tinggi tingkat volatilitas, semakin besar pula fluktuasi harga yang terjadi. Sebaliknya, volatilitas yang rendah menandakan pergerakan harga yang relatif stabil.
Bagi trader, volatilitas dapat diibaratkan sebagai pedang bermata dua. Di satu sisi, pergerakan harga yang cepat berpotensi membuka peluang untuk meraih keuntungan yang lebih besar. Namun, di sisi lain, hal ini juga meningkatkan risiko kerugian. Oleh karena itu, pemahaman mendalam mengenai jenis volatilitas dan cara mengukurnya merupakan komponen penting dalam strategi manajemen risiko.
Secara umum, dikenal dua jenis volatilitas utama: volatilitas historis (historical atau realised volatility) dan volatilitas tersirat (implied volatility/IV). Volatilitas historis dihitung berdasarkan data pergerakan harga yang telah terjadi di masa lalu. Pengukuran ini dapat dengan mudah dipantau melalui berbagai indikator teknikal yang tersedia di platform trading, seperti Bollinger Bands, Average True Range (ATR), Average Directional Index (ADX), dan Commodity Channel Index (CCI).
Berbeda dengan volatilitas historis, volatilitas tersirat berasal dari harga kontrak opsi. Indikator ini mencerminkan ekspektasi pasar terhadap besarnya fluktuasi harga di masa depan. Volatilitas tersirat dianggap lebih mampu menggambarkan potensi risiko yang akan datang dan umumnya lebih banyak digunakan oleh investor institusi.
Menurut broker CFD global Elev8, trader ritel cenderung lebih fokus pada volatilitas historis. Hal ini dikarenakan volatilitas historis tersedia secara gratis di hampir semua platform trading, sementara volatilitas tersirat dinilai relatif lebih sulit diakses oleh mereka.
Apa yang Ditunjukkan Volatilitas Tersirat?
Data dari Refinitiv menunjukkan bahwa volatilitas tersirat untuk pasangan mata uang EUR/USD dengan tenor tiga bulan berada di kisaran 5,37%. Angka ini mengindikasikan bahwa pasar memperkirakan kondisi pasar yang relatif tenang dalam beberapa bulan mendatang. Dengan menggunakan aturan square root of time, angka tersebut setara dengan estimasi pergerakan harian sekitar 0,34%, atau sekitar 39 pip pada kurs EUR/USD di level 1,1380.
Sementara itu, volatilitas overnight tercatat mencapai 6,93%, jauh lebih tinggi dibandingkan tenor satu hingga dua minggu. Kondisi seperti ini biasanya mencerminkan antisipasi pasar terhadap peristiwa penting yang akan segera terjadi, seperti keputusan bank sentral atau rilis data inflasi yang signifikan.
Lima Strategi Menghadapi Volatilitas
Elev8 menyarankan para trader untuk menerapkan beberapa langkah strategis guna menghadapi pasar yang bergejolak:
- Kurangi leverage atau ukuran posisi ketika volatilitas meningkat.
- Lakukan diversifikasi aset dan hindari menempatkan seluruh modal pada satu pasangan mata uang saja.
- Sesuaikan level stop loss dan take profit agar tidak mudah terkena stop out akibat fluktuasi harga jangka pendek.
- Gunakan analisis multi-timeframe untuk memperoleh gambaran tren yang lebih utuh dan komprehensif.
- Trader tidak harus selalu membuka posisi. Ketika tingkat ketidakpastian sangat tinggi, menjaga modal dengan menunggu peluang yang lebih jelas sering kali merupakan keputusan terbaik.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.