— JAKARTA – Pelaku pasar modal masih menanti laporan keuangan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) untuk periode semester I-2026, yang berakhir pada 30 Juni 2026. Hingga akhir Juli 2026, laporan keuangan tersebut belum dipublikasikan.

Sekretaris Perusahaan BRI, Dhanny, dalam keterbukaan informasi menjelaskan bahwa laporan keuangan periode 30 Juni 2026 akan diaudit oleh akuntan publik. “Sehubungan dengan hal tersebut, perseroan akan menyampaikan atau melakukan publikasi laporan keuangan periode 30 Juni 2026 sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” ujarnya.

Sebelumnya, BRI dan entitas anak mencatatkan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik sebesar Rp 15,5 triliun pada kuartal I-2026. Angka ini menunjukkan peningkatan sebesar 14% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year on year/yoy).

BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) dalam catatannya pada Jumat (24/7/2026) menyatakan bahwa kinerja BBRI pada kuartal I-2026 sejalan dengan kualitas yang sehat. Net Interest Margin (NIM) tercatat resilient meskipun ada tekanan pada Cost of Funds (CoF), sementara Cost of Credit (CoC) turun signifikan. Pertumbuhan dari segmen wholesale berhasil mengkompensasi pelemahan di segmen konsumen.

BRIDS menyoroti pergeseran mesin pertumbuhan utama BBRI dari segmen mikro dan konsumen ke segmen korporat dan komersial. Strategi ini bertujuan untuk melindungi kualitas aset, meskipun berpotensi menekan margin dalam jangka panjang karena yield pinjaman korporat yang lebih rendah.

Menurut BRIDS, Price to Book Value (PBV) BBRI sebesar 1,4x dengan Return on Equity (ROE) 18%+ dan dividend yield 10-12% merupakan sebuah anomali historis yang besar. “Pasar pricing-in skenario bearish yang belum terjadi,” tulis BRIDS.

BRIDS menambahkan bahwa dividend yield 10-12% mendekati return Surat Berharga Negara (SBN), sehingga setiap koreksi harga saham membuat yield menjadi lebih menarik. “Jadi setiap koreksi harga saham sama dengan yield naik lebih menarik,” pungkas BRIDS.

Untuk tahun buku 2025, Bank Rakyat Indonesia membagikan dividen total Rp 52,10 triliun atau Rp 345 per saham. Dividen tersebut terdiri dari dividen interim sebesar Rp 20,63 triliun (Rp 137 per saham) dan dividen final sebesar Rp 31,47 triliun (Rp 209 per saham).

Pada perdagangan Jumat (31/7/2026), saham BBRI menguat 1,67% ke level Rp 3.040 dengan net buy investor asing mencapai Rp 233,22 miliar. Kenaikan ini melanjutkan tren positif setelah pada Kamis (30/7/2026) saham BBRI juga naik 2,40%. Sebelumnya, saham emiten bank besar ini sempat berada di zona merah pada periode 22-29 Juli 2026.