Detak Media — JAKARTA – PT Indosat Tbk (ISAT) atau Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) melaporkan lonjakan laba bersih yang signifikan sepanjang semester I-2026. Namun, analisis mendalam terhadap laporan keuangan perusahaan menunjukkan bahwa lompatan laba ini tidak sepenuhnya didorong oleh pertumbuhan bisnis organik, melainkan oleh hasil transaksi pelepasan aset atau divestasi yang memberikan efek kejut sesaat.
Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan, Indosat meraup keuntungan bersih dari divestasi atau yang disebut perusahaan sebagai “monetisasi” entitas anak (FiberCo) senilai Rp1,51 triliun. Keuntungan yang bersifat non-recurring atau hanya dinikmati sekali ini menyumbang porsi besar terhadap total laba usaha perusahaan.
Total laba usaha Indosat pada semester I-2026 tercatat tumbuh sebesar 49,3% dari Rp5,18 triliun pada semester I-2025 menjadi Rp7,7 triliun pada semester I-2026. Keuntungan dari divestasi aset FiberCo mewakili sekitar 60 persen dari kenaikan laba usaha tersebut. Jika keuntungan ini dikecualikan, laba usaha Indosat hanya tumbuh sebesar Rp1 triliun secara organik pada paruh pertama tahun 2026.
Manajemen Indosat mengungkapkan bahwa keuntungan satu kali dari monetisasi FiberCo, ditambah dengan pembalikan provisi pajak tahun sebelumnya, telah meningkatkan penghasilan operasional lain-lain bersih sebesar Rp1,14 triliun atau 379,4%. Hal ini turut mendongkrak laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp4,30 triliun, tumbuh 84,5%.
“Pencapaian kinerja yang solid ini menegaskan kekuatan model bisnis Perseroan yang skalabel, pengelolaan biaya yang disiplin, serta kemampuan berkelanjutan dalam menghasilkan imbal hasil yang menarik, sehingga menempatkan perseroan pada posisi yang solid untuk terus menciptakan nilai jangka panjang bagi para pemangku kepentingan,” ujar manajemen Indosat dalam memo investor.
Di balik kinerja keuangan yang tampak menguat, Indosat menghadapi tantangan lain berupa penyusutan jumlah basis pelanggan. Total pelanggan perusahaan menurun dari 95,4 juta pada semester I-2025 menjadi 93,4 juta pada semester I-2026, terutama pada segmen prabayar yang turun 2,4 juta pelanggan.
Meskipun demikian, penurunan jumlah pelanggan ini berhasil diimbangi dengan peningkatan rata-rata pendapatan per pengguna (ARPU) seluler gabungan sebesar 17,3% menjadi Rp46 ribu. Trafik data juga mengalami kenaikan dari 8.249 PB menjadi 9.892 PB. Namun, bisnis legacy seperti panggilan suara (MoU) dan SMS masih menunjukkan tren penurunan dan stagnasi.
Muhammad Wafi, Kepala Riset KISI Sekuritas, berpendapat bahwa pertumbuhan laba ISAT yang sebagian besar berasal dari divestasi FiberCo merupakan one-off gain yang tidak mencerminkan earning power operasional perusahaan. Ia menyoroti persaingan ketat pasca-merger operator lain menjadi PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk (EXCL), yang memiliki spektrum lebih kuat. Selain itu, churn pelanggan akibat integrasi jaringan Tri dan tekanan harga dari kompetitor agresif juga menjadi faktor pembatas pertumbuhan organik Indosat.
Wafi memandang positif prospek Indosat pada semester II-2026, didukung oleh pembersihan balance sheet pasca-divestasi, potensi peningkatan kualitas jaringan dari lelang spektrum baru, dan kontribusi monetisasi data center. Namun, ia mengingatkan risiko seperti sulitnya memulihkan pelanggan yang churn dan agresivitas kompetitor.
“Akibatnya, pertumbuhan pendapatan Indosat dari bisnis organik terancam hanya single-digit pada semester II-2026, dan perbaikan margin akan lebih banyak didorong oleh efisiensi biaya alih-alih peningkatan pendapatan,” kata Wafi.
KISI Sekuritas merekomendasikan Buy saham ISAT dengan harga wajar Rp2.400, menawarkan potensi kenaikan (upside) sebesar 29,7% dari harga penutupan Rp1.950 pada Selasa (28/7/2026).
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.