Detak Media — Di usianya yang telah menginjak 95 tahun, Warren Buffett, pimpinan Berkshire Hathaway yang dijuluki “Oracle of Omaha”, tetap kokoh menduduki peringkat 10 orang terkaya di dunia versi Forbes per 1 Agustus 2026, dengan total kekayaan mencapai US$ 145,1 miliar atau setara Rp 2.610,5 triliun. Perjalanan finansialnya dimulai dari nol sejak usia muda; ia membeli saham pertamanya di usia 11 tahun dan sudah melaporkan pajak mandiri di usia 13 tahun. Melalui kesabaran dan kedisiplinan berinvestasi selama lebih dari tujuh dekade, Buffett membuktikan bahwa orang biasa pun bisa meraih kesuksesan finansial melalui pasar modal.
Bagi investor pemula yang baru memulai atau sedang belajar investasi saham, terdapat satu aturan emas paling legendaris dari Warren Buffett yang wajib diingat: “Takutlah ketika orang lain serakah, dan serakahlah ketika orang lain takut.” Pesan ini bukan berarti mengajak untuk menjadi serakah, melainkan agar tidak mudah terbawa arus emosi pasar, baik itu FOMO (Fear of Missing Out) maupun Panic Selling.
Dalam Bahasa Praktis, kutipan Buffett ini dapat diartikan sebagai berikut. Pertama, saat orang lain serakah, investor perlu waspada. Bayangkan saham X melonjak drastis dari Rp 1.000 ke Rp 3.000 dalam beberapa minggu, dan semua orang membicarakannya. Investor pemula cenderung FOMO dan buru-buru membeli karena takut ketinggalan. Buffett mengingatkan untuk berhati-hati, karena saat semua orang terlalu euforia, harga saham tersebut biasanya sudah kemahalan dan berisiko membuat investor “nyangkut” jika membeli di harga puncak.
Kedua, saat orang lain takut, investor sebaiknya mencari peluang. Sebaliknya, jika saham perusahaan besar yang sehat mendadak turun dari Rp 3.000 ke Rp 1.800 akibat rumor atau kepanikan pasar sementara, orang-orang yang panik akan menjual rugi. Buffett melihat ini sebagai kesempatan emas. Jika fundamental perusahaan tetap bagus, penurunan harga akibat kepanikan pasar justru menjadi momen terbaik untuk membeli saham berkualitas dengan harga “diskon”.
Melalui prinsip ini, Warren Buffett mengajarkan tiga langkah penting dalam berinvestasi: Berpikir Independen dengan melakukan riset sendiri (Do Your Own Research) dan tidak hanya mengikuti tren influencer atau grup obrolan; Tetap Tenang dengan fokus pada prospek bisnis jangka panjang perusahaan, karena naik-turun harga saham dalam jangka pendek adalah hal wajar; dan Paham Kualitas dengan membeli saham layaknya membeli bagian dari sebuah bisnis riil, bukan sekadar menebak angka naik-turun.
Selain cerdas dalam mencetak cuan, Warren Buffett juga dikenal sangat dermawan. Ia berencana melepas dan mendonasikan seluruh sisa kepemilikan sahamnya di Berkshire Hathaway dalam jangka waktu sekitar delapan tahun ke depan, paling lambat 31 Desember 2034. Seluruh kekayaan saham tersebut akan disalurkan ke empat yayasan filantropi yang dikelola oleh anak-anaknya dan yayasan mendiang istrinya, Susan Thompson Buffett Foundation. Ini menjadi bukti nyata bahwa bagi investor sejati, keberhasilan finansial tertinggi bukan hanya tentang mengumpulkan harta, melainkan seberapa besar manfaat yang bisa dibagikan kembali kepada dunia.
Kesuksesan luar biasa Warren Buffett berakar dari filosofi value investing, yaitu metode investasi yang berfokus mencari saham-saham perusahaan bagus yang harganya sedang dijual murah oleh pasar. Pendekatan ini terbukti berhasil bertahan melewati berbagai krisis ekonomi global, inflasi tinggi, hingga perubahan zaman.
Di era digital saat ini, akses informasi dan aplikasi investasi yang cepat dapat meningkatkan godaan untuk berspekulasi secara instan. Pembelajaran dari kisah perjalanan Warren Buffett menjadi pengingat berharga bagi generasi muda: bahwa investasi saham bukanlah jalan pintas menuju kaya dalam semalam, melainkan sebuah marathon yang membutuhkan analisis rasional, kesabaran, dan pengendalian emosi yang matang.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.