Detak Media — JAKARTA – PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mencatatkan kinerja keuangan yang impresif pada kuartal II-2026, dengan pendapatan yang naik 14,9% dibandingkan kuartal sebelumnya dan 31,9% secara tahunan menjadi US$ 290 juta. Kenaikan ini ditopang oleh peningkatan harga rata-rata nikel (ASP) menjadi US$ 14.765 per ton.
BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) dalam catatannya pada Kamis (30/7/2026) menyebutkan bahwa EBITDA INCO pada kuartal II-2026 mencapai US$ 114 juta, naik 27,8% dari kuartal sebelumnya. Laba bersih perseroan juga melonjak 39,3% menjadi US$ 61 juta.
Peningkatan margin laba kotor menjadi 32,9%, naik dari 22,5% pada kuartal I-2026, didorong oleh biaya tunai yang lebih rendah dan leverage operasional yang kuat. Hal ini mengkonfirmasi tesis pemulihan kinerja yang sebelumnya diproyeksikan.
Secara keseluruhan, pada semester I-2026, INCO membukukan pendapatan US$ 543 juta, meningkat 27,3% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Laba bersih mencapai US$ 104 juta, melonjak 313,4% secara tahunan, yang mana angka ini mencapai 41,3% dari proyeksi sepanjang tahun 2026.
Margin laba kotor naik signifikan ke 28,0% dari 7,1% pada semester I-2025, sementara margin EBITDA juga meningkat dari 20,4% menjadi 37,4%.
BRIDS juga menyoroti pemulihan produksi nickel matte INCO ke 16,2 kiloton, naik 18,6% dari kuartal sebelumnya, setelah selesainya perbaikan Furnace 3. Penjualan bijih nikel melonjak 139,3% secara kuartalan menjadi 2,33 juta wet metric ton (wmt), didukung oleh peningkatan produksi di fasilitas Bahodopi dan Pomalaa.
Meskipun penjualan nickel matte relatif stabil, harga realisasi yang lebih tinggi berhasil mengkompensasi volume pengiriman yang lebih rendah. BRIDS merekomendasikan saham INCO dengan peringkat ‘buy’ yang dipertahankan, menetapkan target harga Rp 8.000.
Pada penutupan sesi I perdagangan Kamis (30/7/2026), saham INCO melonjak 5,60% ke level Rp 4.900, masih berada di kisaran Rp 4.000-an. Dengan target harga Rp 8.000, analis melihat potensi keuntungan sebesar 63%.
BRIDS menyatakan bahwa hasil kinerja kuartal II-2026 mengkonfirmasi tesis pemulihan sebelumnya. Pemulihan ini telah divalidasi oleh angka konkret, bukan sekadar proyeksi. Kombinasi kenaikan harga nikel dan normalisasi operasional pasca perbaikan Furnace 3 menghasilkan ekspansi margin yang signifikan. Diversifikasi ke penjualan bijih nikel melalui Bahodopi dan Pomalaa menunjukkan bauran produk yang lebih fleksibel, membantu kompensasi ketika pengiriman matte masih dalam tren menurun.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.