— JAKARTA – PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA mencatatkan kinerja keuangan pada kuartal II-2026 yang sesuai dengan ekspektasi pasar. Laba bersih bank ini tercatat sebesar Rp 14,9 triliun, menunjukkan stabilitas baik secara kuartalan maupun tahunan.

Kinerja positif tersebut didukung oleh penurunan biaya pencadangan yang berhasil mengimbangi kenaikan beban operasional. Namun, margin bunga bersih (net interest margin/NIM) BCA mengalami tekanan dan turun menjadi 5,7%, berkurang 7 basis poin (bps) secara kuartalan dan 44 bps secara tahunan. Penurunan ini utamanya disebabkan oleh pelemahan imbal hasil aset produktif.

Meskipun demikian, manajemen BCA melaporkan adanya perbaikan imbal hasil kredit korporasi yang mulai terlihat sejak Mei 2026. Perbaikan ini didorong oleh penyesuaian harga kredit serta penyaluran kredit baru dengan tingkat bunga yang lebih tinggi, demikian disampaikan analis BRI Danareksa Sekuritas, Victor Stefano dan Nataniella Eva Kezia dalam risetnya, Rabu (29/7/2026).

Pertumbuhan kredit BCA tetap menunjukkan tren sehat, dengan kenaikan sebesar 4% secara kuartalan dan 8% secara tahunan. Pertumbuhan ini terutama ditopang oleh segmen kredit grosir, sementara pertumbuhan kredit konsumer masih terbatas.

Kualitas aset bank secara umum tetap stabil, dengan rasio gross non-performing loan (gross NPL) berada di angka 1,8%. Namun, terdapat indikasi peningkatan bertahap pada tingkat keterlambatan pembayaran di segmen ritel serta usaha kecil dan menengah (UKM).

Sepanjang semester I-2026, BCA berhasil mencetak laba bersih sebesar Rp 30,3 triliun, meningkat 2% year-on-year. Angka ini setara dengan 49% dari proyeksi yang dikeluarkan oleh BRI Danareksa Sekuritas dan konsensus pasar untuk tahun 2026.

Pendapatan berbasis komisi (fee based income) menunjukkan pertumbuhan yang sehat dan turut menopang kinerja keseluruhan. Namun, dampak positif ini teredam oleh tekanan pada NIM dan peningkatan beban operasional. Manajemen BCA memperkirakan NIM akan pulih pada semester II-2026, seiring dengan perbaikan imbal hasil kredit korporasi yang berkelanjutan.

Manajemen Optimistis dan Panduan Kinerja 2026

Manajemen BCA mempertahankan panduan kinerja untuk tahun 2026, dengan asumsi Bank Indonesia (BI) akan menaikkan suku bunga acuan sebanyak dua kali lagi. Target pertumbuhan kredit ditetapkan antara 8%-10%, dengan NIM di kisaran 5,4%-5,6%, serta cost of credit (CoC) antara 0,4%-0,5%.

Dalam skenario ekonomi makro yang lebih lemah, CoC diperkirakan dapat meningkat hingga 0,6%. Sementara itu, cost to income ratio (CIR) ditargetkan berada di rentang 31%-33%.

“Secara keseluruhan, manajemen BCA tetap optimistis terhadap prospek semester II-2026. Optimisme tersebut didukung oleh perbaikan penetapan harga kredit korporasi, meskipun tantangan pada segmen konsumer dan UKM diperkirakan masih berlanjut,” jelas Victor.

Target Harga Baru Saham BBCA

BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan beli untuk saham BCA (BBCA), namun menurunkan target harga saham menjadi Rp 8.600 dari sebelumnya Rp 10.900.

Penurunan target harga baru ini dilakukan setelah BRI Danareksa Sekuritas mengubah asumsi cost of equity (CoE) dari rata-rata 7% menjadi minus satu standar deviasi (-1SD) sebesar 8%. “Penyesuaian yang lebih konservatif ini mencerminkan kenaikan tingkat imbal hasil bebas risiko,” ungkap Victor.

Penyesuaian asumsi tersebut menghasilkan nilai wajar rasio harga terhadap nilai buku (fair value price to book value/FV PBV) sebesar 3,5 kali.

Untuk pandangan taktis tiga bulan ke depan, BRI Danareksa Sekuritas menetapkan posisi overweight. Meskipun masih terdapat tekanan akibat risiko negara dan berlanjutnya arus keluar dana investor asing, BRI Danareksa Sekuritas melihat potensi penurunan valuasi relatif terbatas.