Detak Media — Kapasitas operasional pusat data (data center) di Indonesia mencatat kenaikan signifikan pada kuartal II-2026, mencapai 468 megawatt (MW). Angka ini diperkirakan akan terus bertambah dengan potensi kapasitas tambahan sebesar 1.957 MW hingga tahun 2030. Pertumbuhan ini melesat dibandingkan semester II-2025 yang kapasitasnya masih berada di kisaran 321 MW.
Peningkatan pesat ini dipicu oleh beberapa faktor utama, termasuk meningkatnya adopsi teknologi cloud, percepatan digitalisasi di berbagai sektor industri, pertumbuhan konsumsi data yang masif, kebutuhan akan kecerdasan buatan (AI), serta ekspansi berkelanjutan dari para pemain global (hyperscaler) yang menjadikan Indonesia sebagai pasar strategis.
Sepanjang semester I-2026, sejumlah perusahaan besar seperti Princeton Digital Group (PDG), Digital Edge, ST Telemedia Global Data Centres (STT GDC), DCI Indonesia, Racks Central, dan Firmus Technologies, telah mengumumkan pengembangan proyek baru, fasilitas pendanaan, maupun rencana ekspansi. Fokus pengembangan mayoritas berada di wilayah Jabodetabek dan Batam.
Temuan ini diungkapkan dalam laporan riset Cushman & Wakefield edisi Q2 2026 yang berjudul “Powering Indonesia’s Future: Where Real Estate Meets Digital Infrastructure.” Laporan ini menyoroti perkembangan pesat infrastruktur digital di Indonesia.
Pritesh Swamy, Head of Data Centre, Research & Advisory, Asia Pacific Cushman & Wakefield, menyatakan bahwa perkembangan ini mendorong permintaan berkelanjutan terhadap infrastruktur digital di dalam negeri. Hal ini sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pasar data center yang semakin penting di kawasan Asia Pasifik.
“Pasar data center Indonesia tengah memasuki fase pertumbuhan baru, di mana konvergensi antara sektor properti, infrastruktur digital, dan investasi modal menciptakan peluang yang semakin besar,” kata Pritesh dalam keterangan persnya, dikutip Rabu (29/7/2026).
Jabodetabek dan Batam Menjadi Pusat Pengembangan
Berdasarkan laporan riset tersebut, wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) masih menjadi tujuan utama pengembangan fasilitas hyperscale dan investasi proyek data center. Sementara itu, Batam, Kepulauan Riau, semakin berkembang sebagai lokasi strategis untuk infrastruktur AI dan komputasi berkinerja tinggi (high-performance computing).
“Keberhasilan di tengah dinamika pasar ini akan semakin ditentukan oleh kemampuan dalam mengamankan lokasi yang tepat, ketersediaan pasokan listrik, konektivitas, serta strategi pengembangan yang berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhan pengguna sekaligus mendukung tujuan pertumbuhan jangka panjang,” ujar Pritesh.
Riset Cushman & Wakefield juga mencatat bahwa peluang pertumbuhan pasar data center ke depan akan semakin dipengaruhi oleh kebutuhan pengguna (occupiers). Faktor-faktor seperti skala dan kinerja, keamanan dan kepatuhan, efisiensi biaya, kemudahan pengelolaan dan pemantauan, keandalan sistem dan redundansi, hingga aspek keberlanjutan lingkungan menjadi pertimbangan utama.
Meskipun Jabodetabek masih menjadi pusat utama permintaan data center di Indonesia, kawasan seperti Batam berada pada posisi yang strategis untuk memenuhi kebutuhan yang terus berkembang seiring dengan pesatnya ekspansi infrastruktur digital di Indonesia.
Andrew Green, Head of Data Centre Group, Asia Pacific, menambahkan bahwa di seluruh Asia Pasifik, termasuk di Indonesia, beban kerja AI dan cloud diidentifikasi sebagai pendorong utama pasokan baru. Hal ini membentuk prioritas pengembangan menuju lokasi dengan kesiapan daya serta infrastruktur berkapasitas tinggi. Kebutuhan ini turut mempercepat timeline pengembangan di berbagai pasar.
“Pemerintah di kawasan juga terus menyelaraskan kerangka kebijakan dengan pengembangan infrastruktur digital, sementara ketersediaan daya, komitmen keberlanjutan, serta pertimbangan regulasi tetap menjadi faktor kunci dalam pemilihan lokasi,” ungkap Andrew.
Manfaat Ekonomi dan Kedaulatan Data
Ketua Umum Indonesia Data Center Provider Organization (IDPRO), Hendra Suryakusuma, membeberkan manfaat data center dari sisi ekonomi, terutama terkait dengan wacana implementasi Satu Data Indonesia yang saat ini sedang dibahas di DPR dalam bentuk RUU Satu Data Indonesia.
Menurut Hendra, keberhasilan implementasi Satu Data Indonesia tidak hanya bergantung pada tata kelola data, tetapi juga membutuhkan fondasi infrastruktur digital yang kuat, aman, dan berkelanjutan. Inisiatif Satu Data Indonesia harus dipandang sebagai pembangunan infrastruktur strategis negara yang akan menjadi fondasi utama bagi transformasi digital Indonesia di masa depan.
“Satu Data Indonesia harus dipandang sebagai sebuah inisiatif nasional untuk membangun kedaulatan data yang mampu mendukung pengambilan keputusan berbasis data, meningkatkan kualitas pelayanan publik, serta memperkuat daya saing ekonomi nasional,” tutur Hendra.
Untuk itu, IDPRO memperkenalkan kerangka strategi kedaulatan data nasional (national data sovereignty strategy) yang menempatkan empat pilar infrastruktur teknis sebagai fondasi utama implementasi Satu Data Indonesia. Keempat pilar tersebut meliputi tata kelola data, interoperabilitas sistem, keamanan siber, serta infrastruktur pusat data dan komputasi.
Hendra menjelaskan, infrastruktur data yang kuat akan meningkatkan kepercayaan investor, mempercepat digitalisasi sektor publik dan swasta, serta membuka peluang pengembangan teknologi strategis seperti AI, cloud computing, big data analytics, dan berbagai inovasi digital lainnya.
“Penguatan kedaulatan data nasional melalui pemanfaatan infrastruktur data center domestik akan memberikan multiplier effect yang signifikan terhadap perekonomian Indonesia,” jelas Hendra.
Investasi di sektor pusat data tidak hanya menciptakan lapangan kerja bernilai tinggi, tetapi juga mendorong transfer teknologi, pengembangan talenta digital, pertumbuhan industri pendukung, serta peningkatan aktivitas ekonomi di berbagai sektor. Seluruh dampak ini pada akhirnya akan berkontribusi terhadap peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia dan memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat ekonomi digital terbesar di kawasan.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.