Detak Media — PT Bursa Berjangka Jakarta (JFX) menilai penguatan mekanisme pembentukan harga atau price discovery menjadi kunci dalam membangun harga referensi komoditas domestik yang kredibel. Langkah ini sangat penting agar harga acuan nasional lebih mencerminkan kondisi riil pasar, terutama untuk komoditas strategis seperti minyak sawit.
Direktur Utama JFX, Yazid Kanca Surya, menjelaskan bahwa harga referensi yang kuat harus terbentuk melalui transaksi yang transparan, likuid, dan berkesinambungan. Penetapan sepihak tidak akan menghasilkan harga yang akurat.
“Harga referensi dibangun melalui proses price discovery. Ketika transaksi berlangsung secara terbuka, melibatkan banyak pelaku pasar, dan dilakukan secara berkesinambungan, harga yang terbentuk akan semakin mencerminkan kondisi pasar yang sesungguhnya,” ujar Yazid dalam keterangan tertulisnya, Rabu (30/7/2026).
Indonesia, sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia, memiliki potensi besar untuk membangun harga referensi domestik yang lebih kredibel. Saat ini, pelaku usaha masih sering menggunakan acuan harga internasional. Padahal, aktivitas perdagangan dalam negeri berpotensi menjadi dasar pembentukan harga yang lebih mencerminkan karakteristik pasar nasional.
Yazid menambahkan, semakin aktif transaksi melalui mekanisme bursa dengan kontrak yang terstandarisasi dan pencatatan yang transparan, semakin representatif pula harga yang terbentuk. Harga tersebut tidak hanya menjadi acuan transaksi, tetapi juga mendukung pengelolaan risiko di tengah volatilitas pasar.
Perdagangan minyak sawit dalam beberapa pekan terakhir memang berlangsung dinamis. Pada pekan terakhir Juli 2026, harga acuan global olein yang mengacu pada FPOL Bursa Malaysia Derivatives (BMD) naik 3,52% menjadi US$ 1.175 per ton dari pekan sebelumnya yang sebesar US$ 1.135 per ton. Kenaikan ini dipicu oleh menguatnya harga minyak mentah Brent, meningkatnya permintaan dari China, serta ekspektasi pasokan minyak sawit Indonesia yang lebih ketat.
Di tengah kondisi tersebut, likuiditas perdagangan olein di JFX tetap terjaga. Sepanjang periode 28 Juni hingga 25 Juli 2026, volume transaksi olein mencapai 67.564 lot dengan nilai sekitar Rp 6,85 triliun.
Selain olein, transaksi komoditas lain juga menunjukkan perkembangan positif. Selama Juli 2026, perdagangan timah ekspor mencapai 2.855 lot dengan nilai sekitar Rp2,66 triliun. Sementara itu, aktivitas Perdagangan Akses Luar Negeri (PALN) membukukan nilai transaksi sekitar Rp54,45 triliun dengan volume lebih dari 3,92 juta lot.
Secara keseluruhan, nilai transaksi perdagangan di JFX sepanjang Juli 2026 mencapai sekitar Rp3.268 triliun yang berasal dari transaksi multilateral, bilateral, dan PALN.
Yazid menambahkan, peningkatan aktivitas perdagangan ini menunjukkan bahwa mekanisme bursa semakin dimanfaatkan sebagai sarana pembentukan harga yang transparan dan kredibel.
“Tujuan akhirnya bukan sekadar memiliki harga referensi domestik, tetapi membangun proses pembentukan harga yang dipercaya pelaku pasar karena lahir dari transaksi yang nyata dan transparan. Dengan begitu, dunia usaha memiliki dasar yang lebih kuat dalam menyusun strategi bisnis dan mengelola risiko,” tutupnya.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.