— PT Bittime Indonesia melaporkan adanya pergeseran preferensi investor aset digital di tengah pemulihan pasar kripto global. Investor kini menunjukkan sikap yang lebih selektif dalam menyusun portofolio, tidak hanya terpaku pada aset utama seperti Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH), tetapi juga mulai meningkatkan alokasi pada stablecoin hingga aset global berbasis tokenisasi.

Direktur Operasional Bittime, Ryan Lymn, menjelaskan bahwa perubahan ini menandakan kematangan pemahaman investor terhadap karakteristik unik setiap aset digital. “Bitcoin dan Ethereum tetap menjadi aset utama yang banyak diperhatikan, tetapi investor juga mulai melihat peluang lain berdasarkan kondisi pasar, momentum, dan strategi masing-masing. Ini menunjukkan pasar semakin berkembang dan investor semakin memahami bahwa setiap aset memiliki karakteristik dan peluang yang berbeda,” ujar Ryan dalam keterangan tertulisnya.

Di Indonesia, data Bittime menunjukkan bahwa minat transaksi masih didominasi oleh USDT, Bitcoin (BTC), Ethereum (ETH), dan Solana (SOL). Hal ini mengindikasikan bahwa aset kripto utama masih menjadi pilihan utama, namun strategi diversifikasi mulai terlihat seiring dengan dinamika pasar.

Tren diversifikasi ini juga terlihat di pasar internasional. Laporan CoinShares pada Mei 2026 mencatat adanya arus dana keluar (outflow) untuk Bitcoin sebesar US$ 982 juta. Sementara itu, XRP dan Solana justru mencatatkan arus dana masuk (inflow) masing-masing sebesar US$ 67,6 juta dan US$ 55,1 juta. Fenomena ini menggarisbawahi bahwa investor menjadi lebih selektif dalam memilih aset yang dianggap memiliki potensi pertumbuhan.

Selain aset kripto, instrumen digital yang menawarkan eksposur ke pasar saham global juga mengalami peningkatan minat. Data internal Bittime menunjukkan volume perdagangan Tokenized US Stocks pada Juli 2026 melonjak 2,5 kali lipat dibandingkan bulan sebelumnya. Lima token saham Amerika Serikat yang paling diminati adalah SPCXX, NVDAX, CRCLX, MSTRX, dan AAPLX.

Ryan menilai tren ini mencerminkan kebutuhan investor yang semakin beragam. Investor tidak hanya mempertahankan kepemilikan aset kripto utama, tetapi juga mulai memanfaatkan instrumen digital lain untuk mengakses peluang investasi global. “Bagi Bittime, tren ini menjadi dorongan untuk terus menghadirkan pilihan aset yang relevan bagi investor Indonesia dalam satu ekosistem aset digital,” pungkas Ryan.