— JAKARTA – Perdagangan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) pada Senin (3/8/2026) menunjukkan pergeseran minat investor asing. Setelah membukukan penjualan bersih (net sell) senilai Rp 100,4 miliar pada Jumat (31/7/2026), investor asing berbalik mencetak pembelian bersih (net buy) sebesar Rp 78,29 miliar di saham emiten perbankan tersebut.

Perubahan sentimen ini terjadi bersamaan dengan penutupan harga saham BBCA yang melemah 0,40% ke level Rp 6.300. Total perdagangan saham bank swasta terbesar ini mencakup 68,14 juta unit dengan frekuensi sebanyak 17.670 kali, menghasilkan nilai transaksi harian Rp 429,18 miliar. Volume transaksi ini tercatat lebih rendah dibandingkan Jumat pekan sebelumnya yang mencapai Rp 973,98 miliar.

Berdasarkan data broker summary dari aplikasi Stockbit Sekuritas, Maybank Sekuritas menjadi broker yang mencetak net buy terbesar untuk investor asing di saham BBCA pada Senin, dengan total Rp 163,8 miliar.

Dalam rentang waktu satu bulan terakhir, saham yang terafiliasi dengan Grup Djarum ini menunjukkan tren penguatan sebesar 8,62%. Investor asing tercatat melakukan akumulasi saham BBCA dengan total net buy mencapai Rp 1,17 triliun selama periode tersebut.

Kinerja Laba dan Proyeksi Phintraco Sekuritas

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) berhasil mencetak laba bersih sebesar Rp 29,55 triliun pada semester I-2026. Angka ini menunjukkan pertumbuhan 1,8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, setara dengan 48% dari estimasi laba bersih setahun penuh yang diproyeksikan oleh Phintraco Sekuritas.

Phintraco Sekuritas menilai kinerja laba BBCA yang tumbuh moderat mencerminkan ketahanan di tengah persaingan likuiditas yang ketat dan normalisasi suku bunga. Pendapatan bunga perseroan tercatat meningkat 1% menjadi Rp 49,86 triliun. Meskipun demikian, Pendapatan Bunga Bersih (Net Interest Income/NII) relatif stabil akibat adanya kenaikan beban bunga sebesar 7,8%.

“Di sisi lain, BBCA tetap mampu mempertahankan kualitas profitabilitas dengan NIM sebesar 5,4%, didukung oleh credit cost yang tetap rendah di kisaran 0,4%, menegaskan posisi perseroan sebagai salah satu bank dengan profil risiko paling defensif di industri,” tulis Phintraco dalam risetnya, dikutip Senin (3/8/2026).

Revisi Laba dan Target Harga

Phintraco Sekuritas melakukan revisi terhadap estimasi laba bersih BBCA untuk tahun 2026 dan 2027. Estimasi baru ditetapkan masing-masing menjadi Rp 59,11 triliun dan Rp 65,41 triliun. Penyesuaian ini mencerminkan proyeksi pertumbuhan kredit yang lebih moderat dibandingkan perkiraan sebelumnya.

Meskipun demikian, Phintraco memperkirakan Net Interest Margin (NIM) BBCA akan tetap terjaga berkat dominasi dana murah (Current Account and Savings Account/CASA) yang kuat.

Phintraco Sekuritas masih mempertahankan rekomendasi beli untuk saham BBCA dengan menetapkan target harga wajar (fair value) sebesar Rp 7.800. Angka ini merupakan penurunan signifikan dari target sebelumnya yang berada di Rp 10.075. Penilaian ini didasarkan pada metode Dividend Discount Model (DDM) dan didukung oleh Price to Book Value (PBV) BBCA yang saat ini berada di bawah rata-rata dua standar deviasi (SD) selama lima tahun terakhir, yaitu sebesar 3,07 kali.