— Realisasi investasi di Indonesia mencapai Rp 1.010,6 triliun pada semester I-2026, atau 49,5 persen dari target tahunan Rp 2.041,3 triliun. Angka itu menyerap 1.448.862 tenaga kerja, naik 15 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Jika arus investasi berlanjut hingga akhir 2026, sejumlah emiten diperkirakan akan mendapatkan manfaat utama dari meningkatnya kebutuhan lahan, infrastruktur, pembiayaan, dan layanan pendukung bisnis.

Daftar Emiten yang Berpotensi Diuntungkan

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menyebutkan sejumlah emiten yang berpeluang memperoleh manfaat paling besar apabila investasi di Indonesia terus berlanjut hingga akhir tahun.

Emiten yang disebut antara lain PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk (BEST), PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS).

Lalu ada PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA), PT AKR Corporindo Tbk (AKRA), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR), PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR), serta PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP).

Menurut Nafan, emiten-emiten itu berpeluang menikmati dampak positif karena bergerak pada sektor-sektor yang berkaitan langsung dengan pembangunan kawasan industri, pengembangan infrastruktur, penyediaan bahan baku, pembiayaan investasi, hingga layanan pendukung kegiatan usaha.

“Dari sisi emiten, ANTM, MBMA, INCO, BEST, DMAS, SSIA, AKRA, BBCA, BMRI, BBRI, BBNI, JSMR, SMGR, dan INTP termasuk dalam kelompok yang berpotensi memperoleh manfaat paling nyata apabila tren investasi tetap berlanjut hingga akhir 2026,” ujar Nafan saat dihubungi, Jumat (17/7/2026).

Potensi Permintaan dan Katalis Pasar

Jika arus investasi tetap terjaga hingga akhir tahun, peluang kenaikan permintaan terhadap produk dan jasa yang ditawarkan perusahaan akan semakin besar. Kuatnya realisasi investasi dinilai menjadi katalis fundamental positif bagi pasar saham domestik.

Namun Nafan mengingatkan bahwa data investasi yang kuat saja belum cukup untuk mendorong kenaikan valuasi saham, apabila belum diikuti oleh pertumbuhan laba perusahaan dan perbaikan sentimen global.

“Data investasi yang kuat menjadi katalis fundamental, tetapi belum cukup apabila belum diikuti oleh peningkatan earnings perusahaan dan perbaikan sentimen global,” paparnya.

Dia menambahkan bahwa peluang re-rating valuasi saham akan lebih besar jika realisasi investasi pada semester II-2026 tetap kuat dan mampu diterjemahkan menjadi peningkatan kinerja emiten, sehingga memperkuat keyakinan investor terhadap prospek pertumbuhan perusahaan.

“Oleh karena itu, peluang re-rating akan lebih besar jika realisasi investasi pada semester II tetap kuat dan diterjemahkan menjadi peningkatan kinerja emiten,” sebut Nafan.

Sektor yang Mendapat Manfaat Terbesar

Beberapa sektor yang berpotensi memperoleh manfaat terbesar dari gelombang investasi adalah:

  1. Kawasan industri, karena meningkatnya kebutuhan lahan dan fasilitas bagi investor baru.
  2. Konstruksi dan infrastruktur, seiring pembangunan pabrik, gudang, jalan, pelabuhan, maupun fasilitas pendukung lainnya.
  3. Perbankan, melalui peningkatan permintaan kredit investasi dan pembiayaan modal kerja.
  4. Industri dasar dan manufaktur, terutama yang menjadi bagian dari rantai pasok investasi baru.
  5. Logistik dan transportasi, karena meningkatnya aktivitas distribusi barang.
  6. Utilitas dan energi, termasuk penyedia listrik, gas, dan air untuk kawasan industri.

Apakah Investasi Semester I Sudah Memicu Re-Rating?

Nafan menilai capaian realisasi investasi pada paruh pertama tahun ini belum cukup mendorong re-rating valuasi saham Indonesia. Menurutnya, re-rating umumnya membutuhkan kombinasi beberapa faktor lain.

“Belum tentu. Re-rating valuasi biasanya membutuhkan kombinasi beberapa faktor, seperti percepatan pertumbuhan laba emiten, penurunan premi risiko, stabilitas makroekonomi, peningkatan likuiditas pasar, serta kembalinya arus dana asing secara berkelanjutan,” katanya.

Komposisi Pendanaan dan Distribusi Wilayah

Berdasarkan sumber pendanaan, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) mencapai Rp 502,9 triliun atau 49,8 persen dari total investasi. Penanaman Modal Asing (PMA) mencatat Rp 507,6 triliun atau 50,2 persen.

Komposisi investasi di Pulau Jawa dan luar Jawa relatif seimbang. Investasi di Pulau Jawa tercatat Rp 502,8 triliun atau 49,8 persen, sedangkan di luar Jawa mencapai Rp 507,8 triliun atau 50,2 persen.

DKI Jakarta menjadi daerah dengan realisasi investasi terbesar secara gabungan PMA dan PMDN, yakni Rp 173,9 triliun atau 17,2 persen dari total nasional. Posisi berikutnya ditempati Jawa Barat dengan Rp 138,1 triliun; disusul Jawa Timur Rp 72,7 triliun; Sulawesi Tengah Rp 68,7 triliun; dan Banten Rp 66,3 triliun.

Sektor dan Negara Investor Teratas

Sektor industri logam dasar, barang logam bukan mesin dan peralatannya menjadi penyerap investasi terbesar pada semester I-2026, senilai Rp 150,4 triliun atau 14,9 persen dari total.

Singapura tercatat sebagai investor asing terbesar di Indonesia dengan nilai investasi sebesar 8,8 miliar dollar AS. Posisi berikutnya ditempati Hong Kong 7,8 miliar dollar AS, Tiongkok 3,9 miliar dollar AS, Jepang 1,9 miliar dollar AS, dan Amerika Serikat 1,7 miliar dollar AS.

Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.