— Influencer media sosial dan investor kripto, Carl Runefelt, yang dikenal dengan nama panggung “The Moon”, kembali menarik perhatian publik. Ia mengumumkan aksi berani menjual dua mobil supercar Ferrari miliknya dengan total nilai US$ 2,5 juta (sekitar Rp 45,2 miliar) demi memborong Bitcoin (BTC) yang sedang mengalami koreksi harga atau dikenal dengan istilah ‘buy the dip’.

Runefelt memiliki rekam jejak inspiratif di dunia maya, sering membagikan konten edukasi seputar kripto dan gaya hidup mewah. Pria asal Swedia ini dulunya sempat putus sekolah dan bekerja di sebuah supermarket sebelum akhirnya meraih kesuksesan finansial melalui investasi Bitcoin. Kabar ini dilaporkan oleh The Street pada Rabu (29/7/2026).

Dalam acara podcast The Moon Show yang tayang pada 24 Juli, Runefelt mengungkapkan alasannya menjual aset mewahnya. Ia meyakini bahwa pasar kripto saat ini menunjukkan sinyal pergerakan siklus yang sangat andal untuk mengakumulasi Bitcoin, yang merupakan aset kripto terbesar di dunia.

Analisis Teknis: Memanfaatkan Indikator

Optimisme Runefelt dalam membeli Bitcoin saat harganya turun didasarkan pada analisis teknis. Ia merujuk pada indikator ‘200-week moving average’ (MA 200 pekan). Menurutnya, indikator ini secara historis selalu memberikan peluang emas untuk melakukan akumulasi sebelum harga Bitcoin mengalami kenaikan signifikan.

Sebagai ilustrasi, Runefelt mengingatkan kembali pada momen kepanikan pasar di awal pandemi Covid-19 pada Maret 2020. Kala itu, harga Bitcoin sempat anjlok di bawah US$ 4.000, namun dalam kurun waktu satu tahun berikutnya, tepatnya April 2021, harganya melesat hingga mencapai rekor US$ 64.860.

Strategi Pembelian

Berbeda dengan para pedagang (trader) yang cenderung melakukan pembelian dalam jumlah besar sekaligus (lump sum), Runefelt memilih pendekatan yang lebih terukur. Ia menerapkan strategi dengan memasang beberapa pesanan beli (limit order) secara bertahap di sepanjang area pertahanan harga (support zone). Tujuannya adalah untuk mendapatkan harga rata-rata terbaik.

Meskipun optimistis, Runefelt memberikan peringatan keras kepada para pengikutnya. Ia menekankan pentingnya untuk tidak mengandalkan pinjaman modal berlebih (high leverage) saat memanfaatkan indikator jangka panjang seperti MA 200 pekan. Dinamika pergerakan harga Bitcoin sangat tinggi, dan ada kemungkinan harga sempat merosot sementara di bawah garis support sebelum akhirnya berbalik arah (rebound).

Penurunan harga yang tajam dapat memicu batas penurunan rugi (stop-loss) dan memaksa trader yang menggunakan leverage untuk melakukan penjualan darurat (liquidation). Fenomena ini sering terjadi sesaat sebelum pasar mengalami kenaikan tajam.

Istilah ‘Buy the Dip’ merujuk pada strategi investasi dengan membeli suatu aset ketika harganya mengalami penurunan sementara, dengan ekspektasi nilainya akan kembali melonjak di masa depan. Strategi ini sangat populer di kalangan investor jangka panjang dalam dunia aset digital seperti Bitcoin, mengingat fluktuasi harga (volatilitas) kripto yang tergolong sangat tinggi dibandingkan instrumen investasi konvensional seperti saham atau obligasi.

Penggunaan indikator teknis seperti ‘200-week moving average’ (MA) memang sering dijadikan acuan oleh analis teknis untuk menentukan “lantai harga” atau titik jenuh penurunan suatu aset dalam skala tahunan. Namun, pasar kripto sangat rentan terhadap berbagai faktor eksternal, mulai dari perubahan kebijakan regulasi global, kondisi makroekonomi, hingga isu keamanan siber.

Oleh karena itu, para ahli finansial senantiasa mengingatkan investor pemula untuk tidak secara mentah-mentah meniru aksi spekulatif influencer dan tetap mengedepankan manajemen risiko yang bijak melalui riset mandiri (Do Your Own Research/DYOR).