Detak.media — Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengonfirmasi partisipasi Indonesia sebagai salah satu negara pendiri World Artificial Intelligence Cooperation Organization (WAICO). Organisasi internasional ini berfokus pada tata kelola dan pengembangan kecerdasan buatan (AI) secara global.
Menurut Airlangga, keikutsertaan Indonesia merupakan langkah strategis untuk memperkuat posisi nasional dalam perkembangan teknologi AI dunia sekaligus membuka peluang kolaborasi internasional. Langkah ini diambil atas arahan Presiden Prabowo Subianto.
Penandatanganan Agreement on the Establishment of WAICO dilaksanakan di sela-sela World Artificial Intelligence Conference (WAIC) di Shanghai, China, pada Jumat (17/7/2026). Airlangga menyatakan, “Atas arahan dari Bapak Presiden, Pemerintah Indonesia diminta untuk ikut serta di dalam deklarasi pendirian organisasi kerja sama kecerdasan artificial dunia.”
Indonesia bergabung bersama 29 negara lain sebagai anggota pendiri WAICO. Dari kawasan ASEAN, lima negara yang turut menandatangani deklarasi adalah Indonesia, Malaysia, Kamboja, Myanmar, dan Laos. Selain itu, organisasi ini juga diikuti oleh sejumlah negara anggota BRICS, Eurasian Economic Union (EAEU), serta negara-negara dari Afrika, Amerika Latin, Timur Tengah, Asia Selatan, hingga Eropa Timur.
Melalui keikutsertaan dalam WAICO, Airlangga menegaskan komitmen Indonesia untuk berkontribusi dalam penyusunan tata kelola global pengembangan AI yang inklusif, aman, dan bertanggung jawab. Pemerintah juga tengah menyiapkan peta jalan nasional pengembangan kecerdasan buatan.
Airlangga menilai pengembangan AI akan menjadi motor penggerak ekonomi digital nasional. Nilai ekonomi digital Indonesia diperkirakan mencapai 130 miliar dolar AS pada tahun ini dan berpotensi meningkat menjadi 366 miliar dolar AS pada 2030. Ia menambahkan, “Bagi Indonesia, ekonomi digital ini potensinya sampai dengan tahun ini US$ 130 miliar, dan di tahun 2030 akan menjadi US$ 366 miliar.”
Pengembangan AI bukanlah agenda baru bagi Indonesia. Sejak peluncuran program Making Indonesia 4.0 pada 2018, kecerdasan buatan telah menjadi salah satu teknologi prioritas dalam transformasi industri nasional.
Ikuti Detak.media
