Detak Media — Indonesia dan China menjajaki penguatan kerja sama dalam isu perubahan iklim, transisi energi, serta pembangunan hijau. Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya bersama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan membuka peluang baru dalam ekonomi hijau.
Komitmen ini ditegaskan dalam pertemuan antara Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Moh Jumhur Hidayat dengan Special Envoy for Climate Change Republik Rakyat China, Liu Zhenmin, yang berlangsung di Kantor Kementerian Lingkungan Hidup, Jakarta.
Jumhur menjelaskan bahwa Indonesia mengadopsi paradigma “Growth through Environmental Protection”. Paradigma ini menjadikan perlindungan lingkungan sebagai fondasi utama untuk pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Hal tersebut diwujudkan melalui pengembangan pasar karbon, keanekaragaman hayati, ekonomi sirkular, dan prinsip keadilan iklim.
“Perlindungan lingkungan harus menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Indonesia siap memperkuat kerja sama dengan China untuk menghadirkan solusi nyata bagi aksi iklim dan pembangunan berkelanjutan,” ujar Jumhur dalam keterangan tertulisnya.
Ia menambahkan, Indonesia dan China, sebagai dua negara berkembang besar, memiliki tanggung jawab bersama dalam menghadirkan solusi konkret terhadap tantangan perubahan iklim global. Upaya ini dilakukan tanpa mengabaikan kebutuhan pembangunan nasional dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Menurut Jumhur, perlindungan lingkungan bukanlah beban pembangunan, melainkan fondasi bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. “Karena itu kami mengusung paradigma Growth through Environmental Protection, yaitu membangun kesejahteraan melalui perlindungan lingkungan hidup, dengan memastikan bahwa manfaat ekonomi hijau dapat dirasakan secara adil oleh masyarakat,” jelasnya.
Lebih lanjut, Jumhur memaparkan bahwa Indonesia sedang mengembangkan pendekatan baru yang mengintegrasikan mitigasi, adaptasi, dan prosperity sebagai tiga pilar aksi iklim nasional. Pendekatan ini akan diperkuat melalui pengembangan pasar karbon, kredit keanekaragaman hayati (biodiversity credit), mekanisme pembagian manfaat (benefit sharing), dan penguatan prinsip Climate Justice sebagai dasar pembangunan berkelanjutan Indonesia.
Sementara itu, Special Envoy for Climate Change Republik Rakyat China, HE Liu Zhenmin, menyampaikan apresiasi atas kepemimpinan Indonesia dalam agenda pembangunan hijau. Ia menegaskan kesiapan China untuk memperluas kerja sama praktis di bidang perubahan iklim, energi bersih, teknologi hijau, sistem peringatan dini, ekonomi sirkular, serta perlindungan lingkungan.
Pertemuan ini menegaskan komitmen kedua negara untuk memperkuat Kemitraan Strategis Komprehensif Indonesia–China di bidang perubahan iklim, perlindungan lingkungan hidup, transisi energi, dan pembangunan hijau. Hal ini merupakan tindak lanjut dari Joint Statement on Deepening Comprehensive Strategic Cooperation antara kedua negara.
Dalam pertemuan tersebut, Indonesia dan China menekankan pentingnya memperkuat kerja sama dalam implementasi Persetujuan Paris. Keduanya berpegang pada prinsip Common but Differentiated Responsibilities and Respective Capabilities (CBDR-RC), sekaligus mendorong negara-negara maju untuk memenuhi komitmen pendanaan, transfer teknologi, dan peningkatan kapasitas bagi negara berkembang.
Indonesia dan China juga sepakat mempererat koordinasi menjelang berbagai forum internasional guna memperjuangkan kepentingan bersama negara-negara berkembang. Pembahasan juga mencakup penguatan kerja sama dalam pengembangan energi terbarukan, pasar karbon, pengelolaan sampah menjadi energi (waste-to-energy), perlindungan keanekaragaman hayati, hilirisasi mineral kritis, riset bersama, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
Kedua negara sepakat menindaklanjuti peluang kerja sama tersebut melalui koordinasi teknis yang lebih intensif untuk menghasilkan program-program yang memberikan manfaat nyata. Pertemuan ini semakin mempertegas komitmen Indonesia dan China dalam mewujudkan pembangunan rendah karbon, ketahanan iklim, serta perlindungan lingkungan hidup yang mendukung kesejahteraan masyarakat dan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs).
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.