Detak Media — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi akan menghadapi tekanan akibat lonjakan harga minyak dunia pada perdagangan Jumat (24/7/2026). Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG akan bergerak dalam rentang resistance 6.380, pivot 6.300, dan support 6.200.
Secara teknikal, indikator Stochastic RSI IHSG menunjukkan adanya Death Cross di area overbought. Meskipun histogram MACD masih berada di area positif, terjadi sedikit penyempitan. Phintraco Sekuritas menegaskan bahwa berlanjutnya kenaikan harga minyak mentah diperkirakan akan menjadi faktor negatif bagi pergerakan IHSG.
“Diperkirakan jika IHSG hari ini breakdown dari level MA5 di sekitar 6.280, maka berpotensi uji level support berikutnya di 6.200-6.250,” tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya, Jumat (24/7/2026).
Sementara itu, data jumlah uang beredar (M2) Indonesia pada Juni 2026 tercatat meningkat 8,7% YoY menjadi Rp 10.432,8 triliun. Angka ini melambat dari pertumbuhan 10,8% pada bulan sebelumnya. Peningkatan tersebut didorong oleh pertumbuhan uang beredar sempit (M1) sebesar 9,8%, bersamaan dengan kenaikan uang semu sebesar 6,9%. Hal ini mengindikasikan likuiditas di Indonesia masih meningkat, meskipun tidak secepat bulan sebelumnya. Di sisi lain, laju pertumbuhan kredit berakselerasi 12,67% YoY di Juni 2026.
Depresiasi Mata Uang dan Dampaknya pada Korporasi
Depresiasi mata uang menjadi isu penting bagi korporasi di Asia, termasuk Indonesia, seperti yang diungkapkan oleh S&P. Fenomena ini dapat memberikan keuntungan bagi eksportir, namun importir yang tidak dapat sepenuhnya meneruskan biaya yang lebih tinggi kepada konsumen berpotensi dirugikan.
S&P telah melakukan peringkat terhadap 69 emiten korporasi dan infrastruktur di Indonesia, India, dan Korea. Peringkat tersebut dikategorikan berdasarkan eksposur mereka terhadap ketidaksesuaian mata uang operasional dan neraca.
Sebagian kecil emiten dinilai lebih sensitif terhadap depresiasi mata uang karena ketidaksesuaian valuta asing pada operasional dan pembiayaan mereka. “Secara historis, depresiasi yang tajam telah mengurangi kemauan emiten berperingkat spekulatif untuk membayar kewajiban keuangan,” jelas Phintraco Sekuritas.
Menyikapi kondisi pasar, Phintraco Sekuritas merekomendasikan lima saham pilihan untuk dicermati investor, yaitu EMAS, MIKA, AALI, TAPG, dan AMRT.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.