— Analis pasar modal, Hendra Wardana, mengidentifikasi sejumlah tantangan yang berpotensi menghambat pemulihan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Risiko terbesar saat ini masih bersumber dari faktor eksternal, terutama potensi kenaikan suku bunga oleh The Fed akibat inflasi Amerika Serikat yang belum terkendali.

Kondisi tersebut dapat memperkuat dolar AS dan memberikan tekanan lanjutan terhadap nilai tukar rupiah. Apabila rupiah masih berada di atas level Rp 18.000 per dolar AS, investor asing cenderung lebih berhati-hati. Hal ini disebabkan risiko depresiasi mata uang dapat mengurangi keuntungan investasi mereka di pasar saham Indonesia.

Selain itu, ketidakpastian geopolitik, khususnya konflik di Timur Tengah yang memengaruhi harga minyak dunia, juga berpotensi meningkatkan volatilitas pasar keuangan. Dari sisi domestik, tantangan lainnya mencakup menjaga pertumbuhan ekonomi tetap kuat, meningkatkan daya beli masyarakat, mempercepat realisasi investasi, serta mempertahankan kepercayaan investor terhadap konsistensi kebijakan pemerintah dan regulator pasar modal.

“Peran arus dana asing masih sangat penting dalam menopang tren kenaikan IHSG karena investor asing memiliki porsi kepemilikan yang besar pada saham-saham berkapitalisasi besar yang menjadi penggerak utama indeks,” ucapnya.

Meskipun pada perdagangan kemarin investor asing mencatatkan net buy sekitar Rp 741 miliar, secara kumulatif sepanjang tahun 2026 masih terjadi net sell sekitar Rp 95 triliun. Hal ini menunjukkan bahwa proses pemulihan kepercayaan investor global terhadap Indonesia belum sepenuhnya selesai.

“Menurut saya, peluang foreign inflow kembali menguat pada semester II-2026 tetap ada, tetapi belum akan terjadi secara agresif dalam waktu dekat,” ujarnya.

Investor asing masih akan menunggu sinyal yang lebih kuat berupa stabilisasi nilai tukar rupiah, kepastian arah kebijakan suku bunga global, perbaikan kondisi ekonomi domestik, serta meningkatnya kepercayaan terhadap pasar keuangan Indonesia. Menurutnya, selama rupiah masih berada di atas level Rp 18.000 per dolar AS, investor asing akan bersikap selektif.

Namun, apabila rupiah mulai menguat, tekanan eksternal mereda, dan fundamental ekonomi Indonesia semakin solid, maka peluang terjadinya pembalikan arus modal asing akan semakin besar. Jika kondisi tersebut tercapai, bukan hanya likuiditas pasar yang meningkat, tetapi juga berpotensi menjadi katalis utama yang mendorong IHSG melanjutkan fase pemulihannya hingga akhir tahun.