Detak Media — JAKARTA – Pasar saham Indonesia menunjukkan tanda-tanda pemulihan pada kuartal III-2026 setelah mengalami koreksi tajam di kuartal sebelumnya. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) berhasil menguat 10% sepanjang Juli 2026, ditutup di level 6.236.
Sebelumnya, pada akhir kuartal II-2026, IHSG berada di level 5.643,19, terkoreksi 19,93% akibat ketidakpastian global dan penyesuaian portofolio investor. Indeks bahkan sempat menyentuh titik terendah tahunan di 5.342 pada Juni 2026.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, tekanan jual investor asing di pasar saham mereda pada Juli 2026, dengan catatan *net buy* sebesar Rp1,62 triliun. Likuiditas pasar modal domestik tetap terjaga, terlihat dari rata-rata *bid* dan *ask spread* yang menyempit menjadi 1,33% dari bulan sebelumnya yang mencapai 1,75%.
Pemulihan juga terlihat di pasar obligasi. Indonesia Composite Bond Index (ICBI) pada Juli 2026 ditutup di level 430,46, naik 0,14%. Minat investor asing terhadap surat berharga negara tetap kuat, dengan *net buy* mencapai Rp6,39 triliun.
Industri reksa dana mencatat nilai aktiva bersih (NAB) sebesar Rp663,26 triliun per 30 Juli 2026, naik 1,59% *month to date* (mtd). Investor reksa dana membukukan *net subscription* Rp3,43 triliun mtd, dan Rp1,29 triliun secara *year to date* (ytd).
Jumlah investor pasar modal terus bertambah, mencapai 1,1 juta investor baru pada Juli 2026, sehingga totalnya menjadi 30,06 juta atau tumbuh 47,63%. Penghimpunan dana oleh korporasi domestik di pasar modal juga tetap kuat hingga akhir Juli 2026, dengan nilai *fundraising* *ytd* mencapai Rp121,96 triliun. Terdapat 15 rencana penawaran umum perdana (IPO) dalam pipeline.
Data BEI kemarin menunjukkan IHSG melonjak 1,37% ke level 6.319 dengan nilai transaksi Rp12,9 triliun. Investor asing mencatat *net buy* Rp623 miliar, melanjutkan tren positif pekan lalu senilai Rp7,1 triliun.
Meskipun IHSG masih turun 26,9% sepanjang 2026 ke level 6.319, angka ini jauh lebih baik dibandingkan penurunan 38% sebelumnya. Akumulasi *net sell* asing juga berkurang dari sekitar Rp80 triliun menjadi Rp72 triliun.
Analis memprediksi tren positif ini akan berlanjut hingga akhir tahun. Kinerja emiten yang solid menjadi salah satu penopang. Laba bank besar tercatat tumbuh di atas 5%, kecuali PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang hanya 1,8% akibat perlambatan kredit.
Sektor tambang juga melaporkan laba bersih signifikan pada semester I-2026. PT Bumi Resources Tbk (BUMI), misalnya, mencetak laba bersih US$72,3 juta, melonjak 87,4%. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) mencetak lonjakan laba bersih 26% menjadi US$106 juta, sementara PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) membukukan laba bersih Rp1,7 triliun, meroket 484%.
Fundamental ekonomi Indonesia tetap terjaga, dengan pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026 diprediksi mendekati 5,4%, sedikit melambat dari 5,6% di kuartal I, namun tetap baik di tengah tekanan ekonomi global.
Empat Faktor Krusial Pengaruhi IHSG
Kepala Riset PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, mengidentifikasi empat faktor utama yang akan memengaruhi IHSG hingga akhir 2026. Pertama, keputusan MSCI mengenai status saham Indonesia, apakah tetap sebagai *emerging market* (EM) atau turun ke *frontier market* (FM). Jika status EM dipertahankan, *net sell* asing berpotensi berkurang. Sebaliknya, jika turun kasta, *net sell* bisa membengkak.
Kedua, pemilihan gubernur baru Bank Indonesia (BI) yang kredibel dan independen. Ketiga, laporan keuangan empat bank besar: BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI. Terakhir, sinyal kebijakan moneter The Fed, apakah cenderung *dovish* atau *hawkish*.
Wafi merekomendasikan sektor perbankan, energi, komoditas, dan *consumer staples* sebagai sektor yang layak dicermati. Ia menyarankan investor untuk memprioritaskan saham dengan *free float* bersih dan tidak masuk dalam daftar *high shareholding concentration* (HSC) yang akan dirilis.
KISI mematok target IHSG di level 6.500 untuk skenario dasar, 7.000 untuk skenario *bullish*, dan 5.600 untuk skenario *bearish*. Skenenario *bearish* bisa terjadi jika MSCI menurunkan status saham Indonesia.
Risiko terbesar IHSG meliputi *rebalancing* MSCI Agustus 2026, pengumuman HSC di indeks utama yang bisa memicu *passive selling*, ketidakpastian gubernur baru BI yang menambah *country risk premium*, serta potensi gencatan senjata Iran-AS permanen yang dapat menekan harga komoditas.
Keberadaan investor asing masih sangat krusial bagi pasar saham Indonesia, berkontribusi 20-30% terhadap nilai transaksi harian. Namun, *capital inflow* ke saham baru akan signifikan setelah keputusan final MSCI pada November mendatang. Selama *freeze* saham Indonesia berlaku dan gubernur BI definitif belum diumumkan, *capital inflow* ke saham masih akan selektif dan rapuh.
Pengamat pasar modal dan pendiri Republik Investor, Hendra Wardana, sepakat IHSG memasuki fase pemulihan awal kuartal III-2026, ditandai pola *bottoming*. Keberlanjutan pemulihan ini bergantung pada sentimen domestik dan global.
Dari sisi domestik, katalis utama adalah membaiknya kepercayaan investor terhadap stabilitas ekonomi, konsistensi kebijakan pemerintah, pengendalian inflasi, dan langkah BI menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Laporan keuangan emiten di semester II yang menunjukkan perbaikan laba, khususnya di sektor perbankan, properti, infrastruktur, dan komoditas, juga akan menjadi dorongan tambahan.
Dari sisi global, kebijakan suku bunga The Fed menjadi faktor penentu. Jika tekanan inflasi AS mereda, minat investor global terhadap aset negara berkembang, termasuk Indonesia, berpotensi meningkat. Meredanya ketegangan geopolitik dan kuatnya pertumbuhan ekonomi global juga akan menjadi sentimen positif.
Saham Pilihan di Fase Pemulihan
Hendra Wardana menyarankan investor untuk mengoleksi saham secara bertahap dengan mengutamakan emiten fundamental kuat, valuasi menarik, dan prospek laba baik. Jika IHSG mampu bertahan di atas area 6.200 (*support* penting), peluang pemulihan menuju kisaran 6.700 hingga 7.000 pada akhir tahun cukup besar, didukung perbaikan fundamental domestik, stabilisasi rupiah, kinerja emiten, dan aliran dana asing.
Namun, jika risiko eksternal meningkat, penguatan IHSG akan lebih bertahap. Tantangan domestik meliputi menjaga pertumbuhan ekonomi, meningkatkan daya beli masyarakat, mempercepat realisasi investasi, serta mempertahankan kepercayaan investor terhadap kebijakan pemerintah dan regulator.
Peluang *foreign inflow* menguat pada semester II-2026 ada, namun belum agresif. Investor asing masih menunggu sinyal stabilisasi rupiah, kepastian kebijakan suku bunga global, perbaikan ekonomi domestik, dan kepercayaan terhadap pasar keuangan Indonesia.
Phintraco Sekuritas mencatat, pasar saham global bergerak *volatile* pada Juli 2026 akibat kekhawatiran valuasi saham AI, ketegangan geopolitik, kenaikan harga minyak, dan ketidakpastian kebijakan moneter The Fed. Di tengah kondisi itu, IHSG bangkit 10,51% secara bulanan (*month on month/MoM*), didorong penegasan peringkat utang Indonesia, membaiknya sentimen pasar, penurunan harga minyak, dan valuasi saham yang menarik.
Ke depan, Phintraco mengamati proses transisi kepemimpinan BI, data ekonomi AS, keputusan The Fed September, dan pembahasan APBN 2027. Phintraco mempertahankan target IHSG 2026 di seluruh skenario, dengan target optimistis 8.339, moderat 7.521, dan pesimistis 7.019. Saham pilihan Phintraco antara lain BMRI (harga wajar Rp5.700), BBCA (Rp7.800), ANTM (Rp5.000), TAPG (Rp2.000), STAA (Rp1.400), dan ASII (Rp6.900).
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.