— Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi akan rawan mengalami koreksi lanjutan pada perdagangan Selasa, 4 Agustus 2026. Hal ini menyusul penutupan IHSG pada Senin, 3 Agustus 2026 yang melemah tipis sebesar 1,63 poin atau 0,03% ke level 6.234.

Pergerakan sektor pada perdagangan sebelumnya menunjukkan sektor barang konsumen non-primer naik paling kuat sebesar 1,64%, sementara sektor teknologi berada di posisi terendah dengan penurunan 1,52%. Berdasarkan analisis teknikal, Pilarmas memproyeksikan IHSG berpotensi melemah terbatas dengan level support di 6.130 dan resistance di 6.260.

Di kancah global, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa kesempatan Iran untuk berdiskusi dan mencapai kesepakatan adalah kesempatan terakhir. Hingga saat ini, belum ada diskusi resmi antara Amerika Serikat dan Iran. Namun, perkembangan positif terlihat dari pertemuan Iran dengan Oman.

Sementara itu, data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan sentimen positif. Indeks ISM Manufacturing tercatat naik dari 53,3 menjadi 55,6 pada periode terakhir, menandai laju kenaikan tercepat dalam lebih dari empat tahun. Kenaikan ini didorong oleh permintaan yang kuat, yang turut mendongkrak produksi dan memberikan dampak positif pada pasar ketenagakerjaan.

Sektor manufaktur Amerika Serikat telah menunjukkan momentum penguatan sepanjang awal tahun 2026. Hal ini didukung oleh permintaan konsumen yang solid di tengah volatilitas harga minyak akibat ketegangan geopolitik. Hampir seluruh industri manufaktur melaporkan pertumbuhan pada bulan Juli, kecuali sektor kimia yang mengalami kontraksi. Hal ini turut mendongkrak US ISM New Orders dari 56 menjadi 56,7.

Dalam negeri, data ekonomi Indonesia pada semester I-2026 menunjukkan sinyal yang beragam. Aktivitas sektor manufaktur mulai pulih dan memasuki zona ekspansi. Berdasarkan rilis S&P Global, Indonesia Manufacturing Purchasing Managers’ Index (PMI) naik ke level 50,2 pada Juli 2026, naik dari 46,9 pada Juni. Kenaikan ini mencerminkan perbaikan aktivitas manufaktur.

Namun, pemulihan tersebut masih menghadapi tantangan akibat tekanan biaya produksi yang dipicu oleh inflasi harga input dan defisit neraca perdagangan, terutama dari sektor energi (migas). Kondisi ini mengindikasikan pertumbuhan sektor manufaktur masih terbatas seiring tingginya harga bahan baku, melemahnya ekspor, dan kehati-hatian pelaku usaha.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan deflasi bulanan sebesar 0,14% pada Juli 2026. Inflasi tahunan tercatat sebesar 2,88%, lebih rendah dari ekspektasi pasar 3,2%, dan masih berada dalam kisaran target Bank Indonesia (1,5%-3,5%). Dari sisi perdagangan, defisit neraca perdagangan Indonesia pada Juni 2026 mencapai US$ 0,45 miliar, membaik dibandingkan defisit US$ 1,61 miliar pada bulan sebelumnya.

Menyikapi kondisi tersebut, Pilarmas Investindo Sekuritas memberikan rekomendasi saham BRMS, INTP, dan HRUM untuk trading pada Selasa, 4 Agustus 2026.