— Kabut tipis menyelimuti lereng Gunung Rinjani, sementara di kejauhan hamparan terumbu karang di perairan Lombok menjadi rumah bagi kehidupan laut. Dua ekosistem yang tampak terpisah ini sesungguhnya saling terhubung dan dijaga kelestariannya melalui program “From Ridge to Reef”.

Kolaborasi ini melibatkan IFG Life, Indonesia Financial Group (IFG), PT Jaminan Kredit Indonesia (Jamkrindo), bersama organisasi lingkungan Sebumi, pengelola Geopark Rinjani, dan pemerintah daerah Lombok. Tujuannya adalah menjaga bentang alam Lombok secara utuh, dari kawasan pegunungan hingga ekosistem pesisir dan laut.

Program “From Ridge to Reef: Reviving Critical Ecosystems of Lombok Island” yang berlangsung pada 26-31 Juli 2026 ini mengusung pendekatan konservasi menyeluruh. Kegiatan yang dilakukan meliputi penanaman 250 pohon kopi dan tanaman keras di kawasan Sembalun, transplantasi 900 bibit terumbu karang menggunakan metode spider structure di Pantai Medana, serta penanaman 500 mangrove di Pantai Cemare bertepatan dengan Hari Mangrove Sedunia.

Sekitar 100 relawan dari perusahaan, masyarakat lokal, dan komunitas konservasi turut berpartisipasi. Seluruh lokasi konservasi akan dipantau selama satu tahun untuk memastikan keberhasilan pertumbuhan pohon dan terumbu karang.

Corporate Secretary IFG Life, Gatot Haryadi, menekankan pentingnya menjaga lingkungan secara menyeluruh. “Apa yang terjadi di gunung pasti akan berdampak ke pesisir juga,” ujarnya. Menurutnya, kerusakan di kawasan hulu Gunung Rinjani dapat berimbas pada sedimentasi sungai, kualitas pesisir, hingga kesehatan ekosistem laut.

Sebaliknya, kerusakan pesisir juga akan berdampak pada masyarakat yang menggantungkan hidup dari perikanan dan pariwisata. Gatot menambahkan, perusahaan keuangan memiliki tanggung jawab untuk ikut menjaga lingkungan dan menerapkan prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance) demi keberlanjutan, bukan hanya bagi perusahaan tetapi juga masyarakat.

Ia mengakui perubahan iklim dan aktivitas manusia telah menyebabkan degradasi terumbu karang di Lombok. “Kami ingin memberikan kontribusi supaya terumbu-terumbu yang direstorasi dapat tumbuh lebih baik lagi. Lingkungan yang terjaga akan menyelamatkan kehidupan manusia, ekonomi tetap berjalan, dan lingkungan yang sehat juga mampu mengurangi risiko bencana,” kata Gatot.

Saling Menopang Ekosistem

Perjalanan konservasi juga menyentuh Desa Sembalun melalui Rumah Sangkabira. Komunitas ini telah lebih dari satu dekade membangun ekosistem keberlanjutan berbasis masyarakat, termasuk pengembangan kopi lokal.

Ketua Rumah Sangkabira, Muhamad Syahidul Wathan, menjelaskan filosofi nama komunitasnya yang berarti “saling menopang dalam kebaikan”. Ia bercerita bagaimana kopi, yang dulu menjadi identitas Sembalun, sempat tergantikan oleh tanaman hortikultura akibat program swasembada bawang putih pada era 1980-an. Rumah Sangkabira kini kembali mengedukasi petani dan membantu budidaya serta pengolahan kopi.

Komunitas ini juga mengelola bank sampah, pendidikan lingkungan, dan Rumah Belajar Sangkabira. Wathan menegaskan bahwa menjaga alam tidak bisa dipisahkan dari menjaga manusia. “Hati kita itu tertaut dengan lingkungan. Ketika salah satu ekosistem terputus, jangan berharap kehidupan kita akan baik-baik saja,” ujarnya.

IFG Life menggandeng masyarakat lokal sebagai bagian utama dalam proses konservasi, sejalan dengan implementasi prinsip ESG. Pendekatan ini sejalan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama pada tujuan perlindungan ekosistem daratan, ekosistem laut, dan aksi terhadap perubahan iklim.

Gatot menambahkan, keberhasilan menjaga lingkungan membutuhkan kolaborasi. “Keberlanjutan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari komitmen IFG Life dalam menciptakan nilai bagi masyarakat. Melalui kolaborasi bersama Jamkrindo, IFG, dan Sebumi, kami ingin menghadirkan dampak nyata yang dirasakan hari ini sekaligus memberikan manfaat bagi generasi mendatang,” ungkapnya.

Sinergi antara korporasi, pemerintah daerah, komunitas konservasi, dan masyarakat menjadi fondasi penting dalam menciptakan pembangunan yang berkelanjutan.

Menjaga Napas Pulau

Program “From Ridge to Reef” menunjukkan bahwa menjaga alam bukan sekadar menanam pohon atau memperbaiki terumbu karang secara terpisah. Program ini membangun keterhubungan antarekosistem dan kolaborasi lintas sektor yang menyatukan perusahaan, komunitas, pemerintah, dan masyarakat.

Air hujan dari lereng Rinjani mengalir ke sungai, membawa nutrisi menuju pesisir. Mangrove berfungsi sebagai penahan abrasi dan penyaring sedimen sebelum mencapai laut. Di bawah permukaan air, terumbu karang menjadi rumah bagi ribuan biota laut yang menopang kehidupan nelayan dan pariwisata. Setiap ekosistem saling menghidupi, menjaga napas pulau.