— Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) terpantau menguat pada Jumat (24/7/2026), mencapai level tertinggi sejak awal April. Penguatan ini didorong oleh kombinasi sentimen positif dari pasar minyak nabati, harga energi, serta prospek permintaan global yang menjanjikan.

Pada penutupan perdagangan Jumat, kontrak berjangka CPO untuk Agustus 2026 tercatat melemah tipis 5 Ringgit Malaysia menjadi 4.591 Ringgit Malaysia per ton. Namun, kontrak berjangka untuk September 2026 naik 14 Ringgit Malaysia ke angka 4.677 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak berjangka CPO Oktober 2026 terkerek 12 Ringgit Malaysia menjadi 4.722 Ringgit Malaysia per ton, sementara kontrak November 2026 meningkat 12 Ringgit Malaysia menjadi 4.753 Ringgit Malaysia per ton.

Lonjakan lebih signifikan terlihat pada kontrak berjangka CPO Desember 2026 yang melesat 11 Ringgit Malaysia menjadi 4.779 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak berjangka CPO Januari 2027 juga menguat 7 Ringgit Malaysia, ditutup pada 4.800 Ringgit Malaysia per ton.

Penguatan harga CPO ini ditopang oleh beberapa faktor. Kenaikan harga minyak nabati di Bursa Dalian, China, pelemahan nilai tukar ringgit Malaysia, serta harga minyak mentah yang tetap tinggi di tengah ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut memberikan kontribusi. Secara mingguan, harga CPO berada di jalur kenaikan sekitar 3,3%, menandai potensi penguatan selama tiga pekan berturut-turut.

Salah satu faktor utama yang menopang harga CPO adalah kebijakan peningkatan mandat biodiesel di Indonesia dan Malaysia. Kebijakan ini diperkirakan akan mendorong peningkatan konsumsi minyak sawit sebagai bahan baku biodiesel, sehingga secara langsung menopang permintaan CPO.

Prospek permintaan juga menunjukkan perbaikan dari India, importir minyak sawit terbesar di dunia. Perkiraan mengindikasikan impor minyak nabati India berpotensi meningkat pada periode Juli hingga Oktober. Peningkatan ini seiring dengan menipisnya pasokan menjelang musim perayaan yang biasanya mendorong konsumsi minyak goreng.

Dari sisi pasokan, kekhawatiran terhadap cuaca ekstrem yang mencapai rekor tertinggi di Malaysia berpotensi mengganggu produksi minyak sawit pada tahun depan. Hal ini turut memberikan dukungan terhadap harga.

Sementara itu, data ekspor Malaysia pada periode 1-20 Juli menunjukkan hasil yang beragam. Lembaga survei AmSpec Agri melaporkan ekspor minyak sawit Malaysia turun 0,9% dibandingkan periode yang sama bulan sebelumnya. Namun, Intertek Testing Services mencatat ekspor justru meningkat 4,1%, mencerminkan permintaan global yang masih cukup solid meskipun pasokan menghadapi tantangan.