Detak Media — Harga kontrak crude palm oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) ditutup mayoritas menguat pada perdagangan Rabu, 5 Juli 2026. Penguatan ini didorong oleh kenaikan harga minyak kedelai di pasar global serta aksi beli saat harga murah atau bargain hunting.
Berdasarkan data Bursa Malaysia Derivatives, kontrak CPO untuk pengiriman Agustus 2026 tercatat jatuh 32 ringgit Malaysia menjadi 4.519 ringgit Malaysia per ton. Sementara itu, kontrak September 2026 turun 6 ringgit Malaysia menjadi 4.646 ringgit Malaysia per ton.
Namun, beberapa kontrak lainnya menunjukkan tren kenaikan. Kontrak Oktober 2026 meningkat 6 ringgit Malaysia menjadi 4.702 ringgit Malaysia per ton, dan kontrak November 2026 terkerek 12 ringgit Malaysia menjadi 4.745 ringgit Malaysia per ton. Kontrak Desember 2026 juga naik 19 ringgit Malaysia menjadi 4.783 ringgit Malaysia per ton, sedangkan kontrak Januari 2027 naik 23 ringgit Malaysia menjadi 4.817 ringgit Malaysia per ton.
Sentimen positif juga datang dari perkiraan kenaikan ekspor minyak sawit Malaysia pada Juli. CGS International Futures Malaysia memperkirakan ekspor minyak sawit Malaysia akan meningkat sekitar 15% secara bulanan, mencapai 1,38 juta ton sepanjang Juli.
Di pasar global, harga kontrak minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) bertahan stabil setelah sebelumnya melonjak hampir 2%. Penguatan ini dipicu oleh kebijakan biofuel terbaru dari Amerika Serikat yang dinilai lebih mendukung industri biofuel melalui peningkatan kewajiban pencampuran biofuel ke bensin dan solar.
Pasar Menanti Data Produksi
Saat ini, perhatian pelaku pasar tertuju pada estimasi produksi minyak sawit Malaysia untuk periode Juli. Data ini akan dirilis oleh Malaysian Palm Oil Association (MPOA) sebelum laporan resmi bulanan dari Malaysian Palm Oil Board (MPOB) yang dijadwalkan pada 10 Agustus.
Mengutip survei perkebunan UOB Kay Hian, produksi CPO Malaysia pada Juli diperkirakan meningkat antara 6% hingga 10% dibandingkan bulan sebelumnya. Produksi di wilayah Sabah dan Sarawak diproyeksikan naik 1% hingga 5%. Sementara itu, Semenanjung Malaysia diperkirakan mencatat pertumbuhan yang lebih tinggi, yakni 10% hingga 14% secara bulanan.
Prospek peningkatan produksi ini berpotensi menjadi faktor penentu arah pergerakan harga CPO dalam jangka pendek, terutama setelah pasar memperoleh data resmi dari MPOB pada pekan depan.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.