Detak Media — Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) melonjak pada Kamis (23/7/2026), menyentuh level tertinggi dalam lebih dari tiga bulan. Penguatan ini ditopang oleh ekspektasi pasokan yang lebih ketat serta meningkatnya permintaan dari sektor biodiesel, seiring dengan kenaikan harga minyak dunia.
Pada penutupan perdagangan Kamis, kontrak berjangka CPO untuk pengiriman Agustus 2026 tercatat naik 66 Ringgit Malaysia menjadi 4.596 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak berjangka CPO September 2026 menguat 80 Ringgit Malaysia menjadi 4.663 Ringgit Malaysia per ton.
Kontrak berjangka CPO Oktober 2026 terkerek 88 Ringgit Malaysia menjadi 4.710 Ringgit Malaysia per ton, sementara kontrak berjangka CPO November 2026 meningkat 87 Ringgit Malaysia menjadi 4.741 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak berjangka CPO Desember 2026 melesat 85 Ringgit Malaysia menjadi 4.768 Ringgit Malaysia per ton, dan kontrak berjangka CPO Januari 2027 menguat 82 Ringgit Malaysia menjadi 4.793 Ringgit Malaysia per ton.
Direktur The Farm Trade, Sandeep Singh, menjelaskan bahwa penguatan harga didorong oleh aksi beli investor yang didukung sejumlah sentimen positif. “Investor mendorong harga menembus level penting karena didukung risiko El Nino, prospek produksi yang lebih rendah, permintaan biodiesel akibat ketegangan di Timur Tengah, serta meningkatnya kebutuhan India menjelang musim festival,” ujar Singh.
Sentimen positif tersebut mencakup potensi dampak fenomena El Nino terhadap produksi, prospek penurunan output pada kuartal IV-2026 hingga semester I-2027, dan meningkatnya permintaan biodiesel akibat lonjakan harga minyak mentah. Pasar juga mulai mengantisipasi peningkatan permintaan minyak nabati dari India menjelang musim perayaan.
Pergerakan harga CPO juga sejalan dengan penguatan minyak nabati lainnya. Kontrak minyak kedelai paling aktif di Bursa Dalian naik 0,75%, sementara kontrak minyak sawit di bursa yang sama melonjak 2,85%. Di Bursa Chicago (CBOT), harga minyak kedelai menguat 0,84%. Harga CPO umumnya bergerak searah dengan minyak nabati pesaing karena bersaing memperebutkan pangsa pasar minyak nabati global.
Didukung Penguatan Harga Minyak Dunia
Penguatan harga CPO juga ditopang oleh reli harga minyak dunia yang mencapai level tertinggi dalam lebih dari satu bulan. Kenaikan harga minyak selama lima hari berturut-turut dipicu oleh meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, yang menimbulkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global.
Harga minyak yang lebih tinggi menjadikan CPO semakin kompetitif sebagai bahan baku biodiesel, sehingga berpotensi meningkatkan permintaannya. Sementara itu, Malaysian Palm Oil Council (MPOC) memperkirakan harga CPO Malaysia akan bergerak di kisaran 4.400-4.650 Ringgit Malaysia per ton sepanjang Agustus 2026.
Dari sisi permintaan, impor minyak nabati India diproyeksikan meningkat pada periode Juli hingga Oktober. Kenaikan ini dipicu oleh melambatnya proses pengolahan kedelai dan rapa (rapeseed) yang mengurangi pasokan domestik menjelang puncak konsumsi saat musim festival. Di sisi pasokan global, Rabobank memperkirakan produksi kedelai Brasil pada musim tanam 2026/2027 akan turun sekitar 2% menjadi 178 juta ton, dibandingkan rekor panen musim sebelumnya. Kondisi pasar yang masih menantang diperkirakan juga membuat perluasan area tanam kedelai cenderung stagnan.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.