Detak Media — Harga batu bara terpantau anjlok pada perdagangan Selasa (4/8/2026). Penurunan ini terjadi di tengah peningkatan produksi dan distribusi batu bara di India yang berpotensi mengurangi kebutuhan impor. Di sisi lain, China masih memiliki persediaan batu bara yang tinggi meskipun produksi domestik menghadapi kendala akibat inspeksi keselamatan tambang.
Berdasarkan data perdagangan, harga batu bara Newcastle untuk kontrak Agustus 2026 tercatat turun US$ 1,65 menjadi US$ 130,85 per ton. Kontrak September 2026 ambles US$ 1,9 ke level US$ 132,35 per ton, sementara kontrak Oktober 2026 jatuh US$ 1,6 menjadi US$ 134 per ton.
Sementara itu, harga batu bara Rotterdam untuk kontrak Agustus 2026 naik tipis US$ 0,15 menjadi US$ 117,9 per ton. Namun, kontrak September 2026 anjlok US$ 1,15 menjadi US$ 116,9 per ton, sedangkan kontrak Oktober 2026 melesat US$ 1,9% ke level US$ 118,9 per ton.
Kenaikan produksi batu bara India dilaporkan mencapai 69,75 juta ton pada Juli 2026, meningkat 7,51% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Bersamaan dengan itu, distribusi batu bara melonjak 17,34% menjadi 86,33 juta ton, menandakan penguatan pasokan domestik.
Peningkatan distribusi yang lebih tinggi dari produksi menunjukkan bahwa India tidak hanya fokus pada peningkatan volume produksi, tetapi juga mempercepat penyaluran batu bara ke sektor-sektor vital seperti pembangkit listrik dan industri lainnya.
Secara teori, peningkatan pasokan domestik ini dapat mengurangi ketergantungan India terhadap impor batu bara. Hal ini berpotensi memberikan tekanan pada pasar batu bara laut (seaborne coal), termasuk bagi negara-negara eksportir.
Meskipun demikian, hingga saat ini belum ada data yang mengkonfirmasi perubahan volume impor batu bara termal maupun batu bara kokas oleh India. Oleh karena itu, masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa kenaikan produksi domestik telah berdampak langsung pada penurunan volume impor.
Para pelaku pasar masih menanti data perdagangan terbaru untuk dapat mengevaluasi apakah peningkatan produksi domestik ini akan memengaruhi permintaan batu bara impor dalam beberapa bulan mendatang.
Di sisi lain, persediaan batu bara di China masih tergolong tinggi. Namun, produksi domestik di negara tersebut menghadapi kendala signifikan. Hal ini terjadi setelah sebuah kecelakaan fatal di tambang Provinsi Shanxi pada akhir Mei lalu memicu dilakukannya inspeksi keselamatan secara luas di seluruh sektor pertambangan.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.