Detak Media — JAKARTA – Presiden FIFA, Gianni Infantino, mengumumkan pembatalan rencana penjualan sebagian hak komersial dan kepemilikan saham Piala Dunia kepada investor swasta. Keputusan ini diambil menyusul gelombang penolakan dan kritik tajam dari berbagai federasi anggota FIFA.
Langkah mundur ini merupakan respons terhadap kekhawatiran bahwa monetisasi turnamen terbesar sepak bola dunia tersebut berisiko mencederai integritas, transparansi, dan independensi tata kelola olahraga global. Sebelumnya, rencana ini digadang-gadang dapat menyuntikkan modal segar secara signifikan bagi FIFA.
Respons Federasi Sepak Bola Dunia
Berbagai petinggi federasi sepak bola dunia menyambut baik keputusan FIFA tersebut. Presiden AFC, Sheikh Salman bin Ebrahim Al-Khalifa, menyatakan, “Masa depan sepak bola global harus selalu dibentuk melalui konsultasi yang tepat, dialog kolektif, serta penghormatan terhadap struktur tata kelola yang telah disepakati bersama. AFC siap mendukung setiap inisiatif yang memperkuat persatuan keluarga besar sepak bola, berkontribusi pada pertumbuhan olahraga ini secara berkelanjutan, dan memberikan manfaat nyata bagi seluruh pemangku kepentingan.”
Ketua Federasi Sepak Bola Australia (Football Australia), Anter Isaac, menambahkan bahwa inovasi dalam sepak bola harus tetap berjalan, namun tidak boleh mengorbankan prinsip-prinsip utama. “Sepanjang sejarahnya, olahraga ini terus berkembang melalui ide-ide baru dan investasi yang memperkuat ekosistem, menciptakan peluang bagi pemain, pelatih, wasit, serta meningkatkan pengalaman suporter di seluruh dunia. Namun, prinsip-prinsip utama seperti integritas, independensi, tata kelola yang baik, transparansi, serta proses hukum (due process) tidak boleh dikorbankan. Hal-hal tersebut bukanlah penghambat kemajuan, melainkan fondasi utama agar kemajuan berkelanjutan dapat terwujud,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Federasi Sepak Bola Swedia (SvFF), Simon Astrom, menyambut baik keputusan FIFA. “Kami menyambut baik keputusan FIFA untuk tidak melanjutkan usulan tersebut. Langkah ini sesuai dengan harapan kami mengingat cacatnya proses pengajuan rencana awal serta gelombang penolakan yang timbul. Meski demikian, pihaknya masih prihatin dengan masalah transparansi dan tata kelola di tubuh FIFA. Kami menekankan pentingnya dialog berkelanjutan mengenai bagaimana sepak bola seharusnya dikelola dan dikembangkan ke depan,” kata Astrom.
Kekhawatiran di Balik Rencana Monetisasi
Rencana penjualan hak komersial Piala Dunia ke pihak ketiga ini berawal dari upaya FIFA mencari sumber pendanaan baru. Tujuannya adalah untuk mendanai ekspansi turnamen, seperti perluasan format Piala Dunia menjadi 48 tim dan penyelenggaraan FIFA Club World Cup.
FIFA berencana membentuk entitas komersial baru yang sahamnya dapat dibeli oleh konsorsium dana ekuitas swasta (private equity firms) serta dana investasi negara (sovereign wealth funds). Namun, wacana ini memicu kekhawatiran besar dari para pemangku kepentingan sepak bola global.
Kekhawatiran utama meliputi ancaman dominasi modal swasta, yang dikhawatirkan akan menggeser orientasi sepak bola dari olahraga publik menjadi industri yang semata-mata berorientasi keuntungan (profit-driven). Hal ini juga menimbulkan potensi komersialisasi jadwal pertandingan yang makin padat.
Selain itu, muncul kekhawatiran mengenai krisis transparansi tata kelola. Proses negosiasi yang dilakukan secara tertutup oleh jajaran eksekutif FIFA tanpa konsultasi mendalam dengan federasi regional seperti UEFA dan AFC dinilai melanggar prinsip good corporate governance.
Terakhir, penolakan serupa pernah terjadi pada wacana European Super League (ESL). Kejadian ini menjadi pelajaran bahwa komersialisasi agresif dalam dunia olahraga kerap membentur perlawanan keras dari suporter, klub, hingga federasi nasional yang memegang teguh tradisi tata kelola terbuka.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.