Detak Media — JAKARTA – Emiten-emiten batu bara melaporkan kinerja keuangan yang solid pada paruh pertama 2026. Sejumlah pemain besar seperti PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Bayan Resources Tbk (BYAN), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), PT Harum Energy Tbk (HRUM), PT Indika Energy Tbk (INDY), dan PT Prima Andalan Mandiri Tbk (MCOL) mencatatkan kenaikan laba puluhan hingga ratusan persen.
Analis memprediksi tren positif ini akan berlanjut dengan dukungan peningkatan volume produksi dan permintaan energi untuk pengembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Bumi Resources membukukan laba US$72,3 juta pada semester pertama 2026, naik 87% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year on year/yoy). Bayan Resources mencatatkan laba US$410,26 juta atau sekitar Rp7,39 triliun, meningkat 17% yoy. Sementara itu, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) mencetak lonjakan laba 918% yoy menjadi US$19,78 juta atau setara Rp356,62 miliar.
Kinerja positif juga ditorehkan PT Harum Energy Tbk (HRUM), PT Indika Energy Tbk (INDY), dan PT Prima Andalan Mandiri Tbk (MCOL).
Faktor Penopang Kinerja Emiten Batu Bara
Head of Research PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengatakan, terdapat tiga faktor utama yang menopang kinerja emiten batu bara pada semester pertama tahun ini. Pertama, konflik di Selat Hormuz yang mendorong harga batu bara Newcastle sempat mencapai US$150 per ton, sehingga meningkatkan harga jual rata-rata (average selling price/ASP) para produsen.
Kedua, revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) memungkinkan perusahaan meningkatkan produksi setelah sempat terkendala kuota pada awal tahun. Ketiga, pelemahan rupiah hingga menembus level Rp18.000 per dolar AS, memberikan keuntungan bagi emiten yang berpendapatan dalam dolar AS, sementara sebagian besar biaya operasional masih menggunakan rupiah. Kondisi itu berdampak pada emiten seperti CUAN dan INDY yang mampu membukukan pertumbuhan laba hingga ratusan persen.
Prospek Semester Dua 2026
Menurut Wafi, kinerja emiten batu bara masih berpotensi positif pada semester II-2026, meski pertumbuhannya diprediksi lebih moderat dibanding semester pertama. Revisi RKAB pada Juli diperkirakan menjadi katalis tambahan melalui peningkatan volume produksi, sementara permintaan listrik untuk pusat data dan pengembangan AI tetap menjadi penopang jangka panjang.
Namun demikian, Wafi mengingatkan investor untuk mewaspadai sejumlah risiko. Gencatan senjata permanen antara Iran dan Amerika Serikat berpotensi menghilangkan *war premium* dalam waktu singkat, yang dapat menekan harga batu bara. Selain itu, mayoritas saham batu bara telah menguat sekitar 15-50% dalam sebulan terakhir menjelang publikasi laporan keuangan, sehingga membuka peluang terjadinya aksi ambil untung (*sell on news*).
“Saham batu bara tetap menarik dengan *framework* yang tepat. Sektor ini masih atraktif bagi investor yang mengejar dividen tinggi, memiliki lindung nilai alami terhadap dolar AS, serta didukung permintaan listrik berbasis AI sebagai pendorong struktural di luar faktor geopolitik. Fokus pada emiten dengan biaya produksi terendah, *free float* yang sehat, dan *dividend yield* tinggi,” ujar Wafi.
Perbaikan Kualitas Operasional Dorong Profitabilitas
Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama menilai, sejumlah perusahaan batu bara mampu meningkatkan pendapatan dan laba berkat kombinasi kenaikan volume penjualan, diversifikasi usaha, efisiensi operasional, serta kontribusi anak perusahaan.
Menurut dia, normalisasi harga batu bara setelah periode *supercycle*, membuat perusahaan lebih mengandalkan efisiensi biaya dan optimalisasi produksi untuk menjaga profitabilitas. Dengan demikian, pertumbuhan laba lebih banyak ditopang perbaikan kualitas operasional dibanding kenaikan harga komoditas.
Elandry memperkirakan, kinerja semester dua masih akan positif, tetapi dengan laju pertumbuhan yang lebih terbatas. Beberapa faktor penentu di antaranya adalah pergerakan harga batu bara, ketidakpastian permintaan dari China, serta kebijakan produksi domestik seperti RKAB.
Emiten dengan struktur biaya rendah, cadangan batu bara besar, dan diversifikasi pendapatan, berpeluang mempertahankan kinerja lebih baik dibanding perusahaan yang sangat bergantung pada kenaikan harga batu bara. “Kami menilai, sektor batu bara masih layak dipertimbangkan, terutama bagi investor yang mencari emiten dengan arus kas kuat dan potensi dividen yang menarik. Namun pendekatannya perlu lebih selektif dibanding beberapa tahun lalu,” ujar Elandry.
Secara sektoral, Elandry menyematkan rekomendasi netral hingga *overweight* pada emiten batu bara berfundamental kuat, namun lebih memilih pendekatan *stock picking* dibanding membeli seluruh sektor. “Di antara nama-nama besar, kami melihat BYAN masih menarik dari sisi kualitas aset dan profitabilitas, sementara ADRO tetap menjadi salah satu pilihan defensif karena diversifikasi bisnisnya,” tutur dia.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.