— Harga emas dunia kembali menunjukkan sinyal penguatan setelah berhasil menembus level psikologis US$ 4.200 per ons troi. Penguatan ini memicu spekulasi bahwa logam mulia tersebut mungkin telah memasuki fase bullish baru.

Setelah mengalami tekanan sepanjang paruh pertama 2026, kemampuan emas untuk bertahan di atas level US$ 4.000 per ons troi selama lebih dari sebulan dinilai telah membentuk fondasi penting bagi potensi pembalikan tren. Pada perdagangan Rabu (5/8/2026), harga emas tercatat melonjak 4,16% menjadi US$ 4.247,02 per ons troi, bahkan sempat menyentuh US$ 4.264,93 per ons troi, level tertinggi sejak 18 Juni.

Saat berita ini ditulis, harga emas hari ini terpantau melesat 0,72% ke level US$ 4.277,02 per ons troi. Sr. Strategist Forex.com, James Stanley, mengatakan bahwa kenaikan terbaru ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Menurutnya, tekanan jual telah mereda dalam beberapa pekan terakhir, sementara para pembeli terus mempertahankan area US$ 4.000 per ons troi yang berulang kali menjadi level support.

“Pembeli akhirnya mengambil langkah penting dengan mendorong harga ke level tertinggi bulanan. Saat ini emas sedang menguji area US$ 4.200 yang sebelumnya menjadi resistance kuat pada awal Juli,” ujar James Stanley dalam analisisnya, Kamis (6/8/2026).

Menurut Stanley, level US$ 4.200 kini menjadi area teknikal yang paling penting. Apabila harga mampu bertahan di atas level tersebut, peluang berlanjutnya reli emas akan semakin besar. Ia menjelaskan bahwa salah satu tantangan terbesar setelah terjadi breakout adalah menentukan strategi masuk yang tepat. Investor yang langsung membeli saat harga melonjak berisiko terjebak di level puncak apabila terjadi aksi ambil untung. Sebaliknya, menunggu koreksi juga memiliki risiko kehilangan momentum apabila harga terus melesat.

“Karena itu, area US$ 4.200 per ons troi kini berpotensi berubah fungsi dari resistance menjadi support,” paparnya. Stanley menambahkan, jika terjadi koreksi jangka pendek, pelaku pasar diperkirakan akan kembali melakukan akumulasi di area tersebut. Di bawahnya, terdapat zona US$ 4.160 – 4.180 per ons troi, yang sebelumnya menjadi titik terbentuknya pola higher low sebelum harga menembus US$ 4.200 per ons troi.

Namun, Stanley mengingatkan, apabila harga turun hingga menembus zona tersebut, momentum bullish diperkirakan akan melemah karena berpotensi membentuk sinyal teknikal negatif pada grafik harian maupun mingguan. Meski demikian, Stanley menegaskan, area US$ 4.115 per ons troi masih menjadi level support penting yang dapat menahan tekanan jual.

Stanley menilai, masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa tren bearish telah berakhir. Namun, jika breakout kali ini menjadi awal perubahan tren jangka panjang, ruang penguatan emas masih terbuka lebar. Ia mengingatkan bahwa harga emas sebelumnya telah merosot lebih dari US$ 1.600 atau sekitar 25% dalam enam bulan terakhir, sehingga pemulihan harga masih memiliki ruang yang cukup besar.

Target teknikal terdekat berada di kisaran US$ 4.400 per ons troi, yang sebelumnya menjadi area support kuat pada Mei sebelum berubah menjadi resistance. Setelah itu, level US$ 4.500 per ons troi menjadi target berikutnya. Menurut James Stanley, apabila harga bergerak terlalu cepat menuju kedua level tersebut, aksi ambil untung jangka pendek sangat mungkin terjadi. “Namun koreksi seperti itu justru dapat menjadi peluang bagi investor untuk masuk kembali apabila terbentuk pola higher low, yang menjadi salah satu ciri tren bullish yang sehat,” ungkapnya.

Meski prospek jangka pendek membaik, Stanley mengingatkan investor agar tidak terburu-buru mengejar kenaikan harga (chasing the breakout). Menurutnya, disiplin dalam manajemen risiko tetap menjadi kunci di tengah volatilitas pasar emas yang masih tinggi.