Detak Media — Harga emas dunia mengalami lonjakan signifikan lebih dari 4% pada perdagangan Rabu (5/8/2026) waktu Amerika Serikat. Kenaikan harian ini menjadi yang terbesar sejak Februari, didorong oleh beberapa faktor utama: menurunnya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat, pelemahan dolar AS, serta meningkatnya harapan tercapainya kesepakatan dengan Iran yang berpotensi membuka kembali Selat Hormuz.
Emas ditutup melonjak 4,16% menjadi US$ 4.247,02 per ons troi, bahkan sempat menyentuh level tertinggi sejak 18 Juni di US$ 4.264,93 per ons troi. Penguatan ini juga berhasil membawa emas menembus rata-rata pergerakan 50 hari, yang kini beralih fungsi menjadi area penopang di kisaran US$ 4.160 per ons troi. Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Desember juga melesat 3,74% dan ditutup pada US$ 4.307,95 per ons troi.
Analis logam independen Tai Wong mengutip dari Reuters menyatakan, “Investor mulai kembali masuk ke logam mulia karena peluang kenaikan suku bunga semakin kecil dibanding pekan lalu. Dolar AS juga melemah tajam sehingga mendukung harga emas. Jeda konflik Iran turut menjadi sentimen positif.”
Indeks dolar AS dilaporkan bergerak mendekati level terendah dalam enam pekan terhadap mata uang utama lainnya. Bersamaan dengan itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun bertahan di dekat level terendah dalam sepekan. Hal ini terjadi setelah Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa pemerintahannya sedang melakukan pembahasan yang sangat baik dengan Iran selama negosiasi berlangsung.
Pelemahan dolar secara umum membuat emas menjadi lebih terjangkau bagi pembeli internasional. Di sisi lain, penurunan imbal hasil obligasi mengurangi biaya peluang bagi investor yang memegang aset tanpa bunga seperti emas.
Meskipun demikian, harga emas masih tercatat terkoreksi sekitar 24% jika dibandingkan dengan rekor tertinggi US$ 5.594,82 per ons troi yang dicapai pada Januari. Sejak pecahnya konflik Iran, harga emas juga dilaporkan masih mengalami penurunan sekitar 19%.
Permintaan Emas Melemah
Data dari World Gold Council (WGC) menunjukkan bahwa permintaan emas oleh bank sentral sepanjang semester I-2026 tercatat sebagai yang terendah sejak 2022. Arus dana keluar dari Exchange Traded Funds (ETF) berbasis emas mencapai 45 ton pada kuartal II. Periode ini juga mencatat penurunan kuartalan terdalam bagi harga emas sejak 2013, dengan pelemahan mencapai sekitar 14%.
Dalam risetnya, JPMorgan menilai bahwa lemahnya pembelian dari bank sentral, minimnya permintaan fisik di Asia, serta berkurangnya minat dari investor ritel membuat pergerakan harga emas kini lebih bergantung pada arus dana ke ETF, yang cenderung sensitif terhadap arah suku bunga.
Tai Wong menambahkan bahwa reli yang lebih berkelanjutan untuk emas masih membutuhkan ekspektasi pemangkasan suku bunga AS. “Logam mulia akan memperoleh dorongan yang lebih kuat jika pasar mulai memperhitungkan penurunan suku bunga. Namun untuk saat ini, kemungkinan itu baru terjadi pada 2027,” katanya.
Di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot melonjak 4,26% menjadi US$ 62,06 per ons, mencapai level tertinggi sejak 6 Juli. Paladium juga menguat 0,93% menjadi US$ 1.361,46 per ons. Sementara itu, platinum justru mengalami pelemahan tipis 0,18% menjadi US$ 1.734,55 per ons.
Analis Standard Chartered, Suki Cooper, menjelaskan bahwa platinum dan paladium sebelumnya telah memperhitungkan berbagai sentimen negatif. Sentimen tersebut meliputi perlambatan produksi otomotif, peningkatan pangsa kendaraan listrik, hingga potensi kenaikan pasokan dari aktivitas daur ulang.
Ia memperkirakan pasar platinum masih akan mengalami defisit pasokan pada tahun ini, sedangkan pasar paladium berpotensi beralih ke kondisi surplus pada 2026.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.