— Harga emas dunia diprediksi masih berpeluang melanjutkan tren penguatan pada perdagangan Rabu (5/8/2026). Penguatan ini didukung oleh meningkatnya permintaan aset safe haven di tengah ketidakpastian geopolitik dan sinyal teknikal yang semakin positif.

Analis Dupoin Futures Geraldo Kofit memperkirakan, harga emas berpotensi menguji level US$ 4.200 per ons troi apabila momentum beli terus berlanjut. Harga emas hari ini melonjak 1,32% ke level US$ 4.131,16 per ons troi saat berita ditulis.

Geraldo menjelaskan secara teknikal, emas pada grafik harian menunjukkan sinyal bullish setelah berhasil keluar dari fase konsolidasi dan mengonfirmasi pola Bullish Pennant. Pola ini umumnya menjadi indikasi kelanjutan tren naik.

“Breakout dari area konsolidasi mengindikasikan tekanan beli mulai kembali mendominasi pasar sehingga membuka peluang bagi harga emas melanjutkan penguatan pada sesi perdagangan berikutnya,” ujar Geraldo dalam riset hariannya, Rabu (5/8/2026).

Menurut dia, indikator Stochastic masih bergerak naik menuju area overbought, menandakan momentum penguatan masih terjaga. Sementara itu, Moving Average (MA) 21 kini berfungsi sebagai dynamic support. Selama harga bertahan di atas level tersebut, tren naik diperkirakan masih berlanjut.

Berdasarkan kombinasi indikator teknikal tersebut, Dupoin Futures memproyeksikan harga emas berpeluang menguji level resistance US$ 4.135 per ons troi sebagai target awal. Jika level tersebut berhasil ditembus, penguatan diperkirakan berlanjut hingga US$ 4.202 per ons troi.

Sentimen Safe Haven

Selain faktor teknikal, Geraldo menilai prospek emas juga ditopang meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven di tengah ketidakpastian geopolitik.

Kekhawatiran terhadap konflik di Timur Tengah kembali meningkat setelah muncul laporan mengenai menipisnya stok rudal presisi jarak jauh Amerika Serikat (AS) akibat konflik dengan Iran.

“Kondisi tersebut mendorong sebagian investor mempertahankan kepemilikan aset yang dinilai aman, termasuk emas,” papar Geraldo.

Menurut Geraldo, selama ketegangan geopolitik belum mereda, permintaan terhadap emas diperkirakan tetap kuat sehingga menopang tren kenaikan harga logam mulia.

Meski demikian, potensi kenaikan emas masih dapat dibatasi oleh penguatan dolar AS. Data ekonomi Amerika Serikat yang belakangan dirilis lebih baik dari ekspektasi meningkatkan optimisme terhadap ketahanan ekonomi negara tersebut dan mendorong penguatan dolar.

Secara historis, dolar yang lebih kuat cenderung menekan harga emas karena membuat logam mulia menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.

Pelaku pasar juga masih menantikan sejumlah data ekonomi penting Amerika Serikat, termasuk data ketenagakerjaan, yang akan menjadi petunjuk arah kebijakan suku bunga The Fed.

Jika data ekonomi tetap solid, peluang bank sentral AS mempertahankan suku bunga tinggi akan meningkat. “Sebaliknya, pelemahan data ekonomi berpotensi memperkuat ekspektasi pelonggaran moneter yang menjadi katalis positif bagi harga emas,” tutup Geraldo.