Detak Media — Analis memperkirakan harga emas dunia akan tetap berada dalam kisaran US$ 4.000 per troy ounce hingga kuartal ketiga 2026. Prediksi ini muncul meskipun pertumbuhan ekonomi yang tangguh dan imbal hasil riil yang lebih tinggi terus menimbulkan risiko penurunan.
Dikutip dari Kitco News, Selasa (4/8/2026), analis komoditas di perusahaan pialang internasional, Sucden Financial, menyatakan bahwa meskipun harga emas turun hampir 30% dari puncaknya pada Januari 2026, valuasi emas tetap tinggi terhadap pendorong makro tradisional.
“Bahkan setelah koreksi, harga emas terus diperdagangkan di atas level yang biasanya tersirat oleh imbal hasil riil dan dolar AS,” kata para analis di Sucden Financial. “Ini menunjukkan bahwa sebagian besar premi risiko geopolitik dan makro yang terakumulasi di awal tahun belum sepenuhnya hilang,” imbuh mereka.
Para analis di Sucden Financial juga melihat potensi penurunan yang terbatas pada harga emas hingga kuartal ketiga 2026. “Kami melihat harga emas akan terkonsolidasi dalam kisaran luas US$ 3.950- US$ 4.300/troy ounce hingga akhir September,” ungkap mereka.
Mereka menambahkan, “Penurunan menuju ujung bawah kisaran tersebut akan terus menarik minat beli, sementara kenaikan di atas US$ 4.200/troy ounce kemungkinan akan sulit untuk berlanjut hingga kebijakan The Fed menjadi lebih lunak.”
Menurut Sucden, hambatan utama yang dihadapi harga emas untuk kembali reli dengan kuat adalah sentimen tentang inflasi yang tinggi. Hal ini memaksa bank sentral global, khususnya Federal Reserve, untuk mempertahankan kebijakan moneter yang ketat. Kebijakan ini mendorong imbal hasil riil lebih tinggi dan meningkatkan biaya peluang untuk memegang aset yang tidak menghasilkan imbal hasil seperti emas.
Meskipun koreksi telah memperbaiki valuasi, laporan tersebut berpendapat bahwa harga masih tampak mahal jika diukur terhadap latar belakang makro. Dengan prospek jangka pendek yang tetap fluktuatif, Sucden tidak melihat koreksi harga sebagai akhir dari pasar bullish emas jangka panjang.
Perusahaan pialang tersebut mencatat bahwa pendorong struktural harga emas terus memberikan fondasi penting bagi logam mulia ini. Faktor-faktor tersebut meliputi permintaan bank sentral yang berkelanjutan, diversifikasi cadangan yang berkelanjutan, tingkat utang pemerintah yang tinggi, dan ketidakpastian geopolitik.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.