Detak Media — Harga emas global dilaporkan tengah berada di titik krusial. Logam mulia ini bertahan di atas level psikologis US$ 4.000 per ons troi, meskipun telah menghadapi tekanan jual selama hampir enam bulan terakhir. Penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS menjadi faktor utama yang berpotensi mendorong harga emas untuk turun lebih dalam.
Saat berita ini ditulis, harga emas tercatat stabil di level US$ 4.049,51 per ons troi. James Stanley, Senior Strategist Forex.com, mengemukakan bahwa level US$ 4.000 per ons troi kini menjadi area pertahanan terpenting bagi para pelaku pasar. Dalam beberapa pekan terakhir, setiap kali harga emas mendekati level tersebut, aksi beli selalu muncul dan berhasil mengangkat harganya kembali.
Namun, Stanley menilai kekuatan pembeli kini mulai diuji. Hal ini terlihat dari reli emas yang gagal berlanjut dan harga yang kembali terkoreksi tajam. “Pertanyaan terbesar saat ini adalah berapa lama pembeli mampu mempertahankan level US$ 4.000 dan apa yang akan terjadi setelahnya,” ujar Stanley dalam analisis pasarnya.
Sebelumnya, harga emas sempat menunjukkan sinyal pemulihan dengan mencetak level tertinggi jangka pendek yang lebih tinggi (higher high). Selain itu, harga juga tidak lagi membentuk titik terendah baru setelah bertahan di atas level terendah 30 Juni di US$ 3.942 per ons troi. Kondisi ini sempat mengindikasikan tekanan jual mulai melemah dan membuka peluang bagi pembeli untuk kembali mengendalikan pasar.
Namun, optimisme tersebut tidak bertahan lama. Setelah menyentuh area resistensi, harga emas berbalik turun lebih dari US$ 100 per ons troi, sehingga kembali menguji area support penting.
Level Penentu Pergerakan Emas
Stanley menjelaskan bahwa saat ini harga emas berada di sekitar level support US$ 4.044 per ons troi, dengan support berikutnya berada di kisaran US$ 4.021 per ons troi. Jika tekanan jual terus berlanjut, level US$ 4.000 per ons troi akan menjadi benteng terakhir pertahanan harga.
Ia menilai, selama harga mampu bertahan di atas level tersebut, peluang pemulihan masih terbuka. Sebaliknya, apabila harga ditutup di bawah US$ 4.000 per ons troi, prospek teknikal emas berpotensi berubah menjadi lebih negatif. “Jika pembeli gagal mempertahankan level tersebut, terutama apabila penutupan mingguan berada di bawah US$ 4.000 per ons troi, reli yang sempat terbentuk sebelumnya dapat berubah menjadi sinyal kegagalan bullish breakout,” jelasnya.
Lebih lanjut, Stanley memaparkan bahwa tekanan terhadap harga emas juga dipicu oleh penguatan dolar AS yang berhasil menembus pola teknikal bull flag. Pada saat yang sama, imbal hasil obligasi pemerintah AS terus menunjukkan tren kenaikan. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun bahkan dilaporkan mendekati level tertinggi sejak 2007, periode sebelum krisis keuangan global. Kenaikan yield membuat aset berbunga menjadi lebih menarik dibandingkan emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Selain itu, Stanley menyebutkan ekspektasi pasar bahwa suku bunga The Fed akan tetap tinggi dalam waktu lebih lama turut menopang penguatan dolar AS dan membatasi ruang kenaikan harga emas. Dengan kombinasi penguatan dolar AS, kenaikan imbal hasil obligasi, dan ketidakpastian arah kebijakan moneter AS, pergerakan harga emas dalam jangka pendek akan sangat ditentukan oleh kemampuannya bertahan di atas US$ 4.000 per ons troi.
“Apabila level tersebut mampu dipertahankan, peluang terjadinya rebound masih terbuka. Namun, jika ditembus hingga penutupan mingguan berada di bawah US$ 4.000 per ons troi, harga emas berisiko melanjutkan tren pelemahan yang telah berlangsung dalam beberapa bulan terakhir,” tutupnya.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.