— Harga emas dunia tengah memasuki fase krusial pada akhir Juli. Para pakar memperkirakan arah pergerakan logam mulia selanjutnya akan sangat bergantung pada kemampuan harga untuk bertahan di area support US$ 4.026 per ons troi, setelah sebelumnya gagal menembus level resistance US$ 4.120 per ons troi.

Saat berita ini ditulis, harga emas hari ini terpantau mengalami koreksi sebesar 0,54% ke level US$ 4.081,83 per ons troi. Meskipun mengalami pelemahan, harga emas tercatat masih mencatatkan penguatan sebesar 0,7% dalam sepekan dan naik 1,83% dalam sebulan terakhir.

Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, menyatakan bahwa kegagalan harga untuk ditutup di atas level US$ 4.120 per ons troi pada grafik H4 mengindikasikan adanya pelemahan momentum kenaikan. Kondisi ini memicu aksi jual, sehingga peluang koreksi jangka pendek dinilai lebih besar dibandingkan penguatan.

“Selama harga masih bergerak di bawah level US$ 4.120 per ons troi, tekanan jual diperkirakan tetap mendominasi dan membuka peluang koreksi menuju area support US$ 4.026 per ons troi,” ujar Geraldo dalam risetnya pada Jumat (31/7/2026).

Menurut Geraldo, terbentuknya pola swing high pada time frame yang lebih kecil semakin memperkuat sinyal bahwa pelaku pasar mulai melakukan aksi ambil untung. Level US$ 4.026 per ons troi kini menjadi level teknikal penting yang akan menentukan arah pergerakan emas berikutnya.

“Apabila support tersebut mampu bertahan dan memicu kembali minat beli, harga emas berpeluang mengalami technical rebound. Sebaliknya, jika level tersebut ditembus, koreksi berpotensi berlanjut ke area yang lebih rendah,” tambah Geraldo.

Tren Jangka Menengah Masih Positif

Meskipun prospek jangka pendek masih dibayangi oleh tekanan bearish, Geraldo menilai tren emas secara keseluruhan belum berubah. Tren jangka pendek dan menengah masih berada dalam fase bullish, sementara tren jangka panjang masih cenderung bearish.

Dari sisi fundamental, Geraldo menjelaskan bahwa permintaan terhadap aset safe haven tetap menjadi penopang harga emas di tengah berlanjutnya konflik di Timur Tengah dan perang Rusia-Ukraina. “Faktor tersebut dinilai mampu membatasi tekanan jual sehingga koreksi yang terjadi berpotensi hanya bersifat sementara,” papar Geraldo.

Di sisi lain, Geraldo menambahkan, sikap The Fed yang mempertahankan suku bunga membuat pelaku pasar masih menunggu kepastian arah kebijakan moneter berikutnya. Rilis data inflasi dan ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) akan menjadi katalis utama bagi pergerakan emas dalam waktu dekat.

Jika data ekonomi AS tetap kuat, Geraldo memprediksi, ekspektasi suku bunga tinggi berpotensi bertahan lebih lama sehingga dapat menekan harga emas. Sebaliknya, pelemahan data ekonomi akan meningkatkan peluang pelonggaran kebijakan moneter dan membuka ruang bagi emas untuk kembali menguat.

Selain itu, kenaikan harga minyak dunia yang memicu kekhawatiran inflasi global juga dinilai berpotensi menjaga permintaan terhadap emas sebagai aset lindung nilai.

Secara keseluruhan, Geraldo memproyeksikan harga emas masih berpotensi terkoreksi menuju area support 4.026 selama belum mampu kembali menembus resistance US$ 4.120 per ons troi. “Namun, selama level support penting tetap bertahan, prospek jangka menengah logam mulia tersebut masih dinilai konstruktif,” tutup Geraldo.