— Harga emas global masih tertahan dalam fase konsolidasi, bergerak di sekitar level psikologis US$ 4.000 per ons troi sepanjang pekan ini. Para analis menilai logam mulia ini membutuhkan katalis baru untuk melanjutkan tren penguatannya.

Tekanan terhadap emas terutama berasal dari imbal hasil riil yang tinggi dan ekspektasi suku bunga Amerika Serikat akan bertahan lebih lama. Kondisi ini meningkatkan biaya peluang investor untuk memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil, sehingga membatasi minat terhadap logam mulia.

Meskipun demikian, harga emas berhasil bertahan di atas US$ 4.000 per ons troi. Sepanjang pekan, emas spot sempat menyentuh level tertinggi US$ 4.119,82 setelah data inflasi AS menunjukkan tekanan harga mulai mereda. Namun, penguatan tersebut tidak bertahan lama karena kenaikan Employment Cost Index (ECI) kembali mendorong imbal hasil obligasi AS.

Pada akhir pekan, harga emas kembali bergerak di kisaran US$ 4.048 per ons troi, setelah sebelumnya sempat turun hingga US$ 3.995,90.

Presiden Adrian Day Asset Management, Adrian Day, mengatakan bahwa pasar emas masih memerlukan katalis baru sebelum mampu bergerak lebih tinggi. Menurut dia, arah kebijakan moneter Federal Reserve dan perkembangan geopolitik di Timur Tengah masih menjadi faktor penentu pergerakan harga emas.

Senada, analis senior Barchart.com, Darin Newsom, menilai harga emas masih berada dalam fase sideways. Ia menyebut pembelian emas oleh bank sentral tetap menjadi faktor fundamental yang menopang harga di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Survei mingguan Kitco News menunjukkan belum adanya konsensus di kalangan analis Wall Street. Dari 17 analis yang disurvei, lima orang atau 29% memprediksi harga emas naik, enam analis atau 35% memperkirakan turun, sementara enam analis lainnya memperkirakan harga bergerak mendatar.

Di kalangan investor ritel, optimisme juga mulai berkurang. Dari 184 responden, sebanyak 47% memperkirakan harga emas naik, sedangkan 30% memprediksi turun dan 23% memperkirakan harga akan bergerak stabil.

Fokus ke Data AS

Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian pada serangkaian data ekonomi AS pekan depan, terutama laporan nonfarm payrolls (NFP) Juli yang diperkirakan menjadi penentu arah kebijakan suku bunga The Fed.

Selain data tenaga kerja, investor juga akan mencermati laporan JOLTS, ADP Employment, ISM Manufacturing PMI, ISM Services PMI, serta klaim pengangguran mingguan.

Sejumlah analis memperkirakan harga emas masih akan bergerak dalam kisaran US$ 4.000 hingga US$ 4.200 per ons troi hingga muncul katalis baru dari data ekonomi maupun perkembangan geopolitik.

Jika data tenaga kerja menunjukkan pelemahan, peluang kenaikan suku bunga diperkirakan semakin mengecil sehingga dapat menjadi dorongan baru bagi harga emas.