— Kondisi penyaluran bahan bakar minyak (BBM) di Sumatera Utara menunjukkan tren perbaikan. Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) bersama PT Pertamina Patra Niaga terus berupaya memperkuat sistem distribusi dan melakukan pengawasan intensif di lapangan untuk memastikan kebutuhan energi masyarakat tetap terpenuhi.

Berbagai langkah percepatan telah diimplementasikan guna mengatasi antrean yang sempat terjadi di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Upaya ini mencakup penambahan armada dan awak mobil tangki, optimalisasi pasokan dari sejumlah Fuel Terminal (FT), hingga pemantauan langsung ke SPBU yang sebelumnya mengalami kepadatan antrean.

Kepala BPH Migas Wahyudi Anas memastikan bahwa stok BBM di Sumatera Utara saat ini berada dalam kondisi aman. Pasokan semakin kuat setelah dua kapal selesai melakukan pembongkaran muatan BBM jenis Solar subsidi (JBT) dan Pertalite (JBKP). “Dengan aktivitas masyarakat yang kembali berjalan normal, kami optimistis antrean di SPBU yang tersebar di Sumatera Utara dapat segera terurai,” ujar Wahyudi saat meninjau Fuel Terminal Medan Group di Medan, Jumat (17/7/2026).

Untuk mempercepat normalisasi distribusi, Pertamina Patra Niaga meningkatkan jumlah armada distribusi beserta awak mobil tangki hingga sekitar 35%. Selain itu, perusahaan juga menerapkan mekanisme alih suplai dari Fuel Terminal Siantar, Kisaran, dan Lhokseumawe guna memperkuat pasokan ke wilayah Medan. Distribusi melalui Pelabuhan Belawan dan Labuhan Deli juga terus dioptimalkan sehingga volume penyaluran BBM ke SPBU meningkat hingga mencapai sekitar 120%–125% dari kondisi normal.

“Ini merupakan upaya terbaik untuk mempercepat penguraian antrean di SPBU yang menjadi perhatian masyarakat,” imbuh Wahyudi. BPH Migas bersama Pertamina Patra Niaga juga melakukan inspeksi langsung ke sejumlah SPBU di Kota Medan. Hasil pemantauan menunjukkan distribusi Solar dan Pertalite berlangsung lancar, sementara stok di setiap SPBU terus ditambah agar mampu melayani kebutuhan masyarakat.

“Kami terus melakukan pengisian stok secara berkelanjutan hingga seluruh SPBU memiliki persediaan yang optimal dan dapat melayani masyarakat dengan baik,” ujarnya. Berdasarkan hasil pemantauan pada Jumat (17/7/2026) sore, antrean kendaraan di sebagian besar SPBU di Medan mulai berkurang secara signifikan. Bahkan, di beberapa lokasi hanya terlihat dua hingga tiga kendaraan yang menunggu giliran mengisi BBM.

“Kondisi ini menunjukkan antrean hampir tidak ada lagi. Namun, kami akan terus melakukan pemantauan hingga distribusi BBM di Sumatera Utara benar-benar kembali normal,” tambah Wahyudi.

Sementara itu, Anggota Komite BPH Migas Fathul Nugroho menjelaskan bahwa realisasi penyaluran Solar di Pulau Sumatera hingga 14 Juli 2026 masih berada di bawah rata-rata nasional. Hal serupa juga terjadi pada penyaluran Pertalite di Sumatera Utara. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan yang terjadi bukan disebabkan oleh keterbatasan kuota BBM, melainkan lebih kepada aspek operasional distribusi.

“Realisasi penyaluran masih berada di bawah rata-rata nasional. Artinya, tidak ada kendala dari sisi kuota yang telah ditetapkan pemerintah,” jelas Fathul. Ia menilai perlu adanya penguatan sistem distribusi, termasuk penerapan sistem peringatan dini (early warning system) dan pemantauan seluruh armada distribusi secara real time agar potensi gangguan dapat diantisipasi lebih cepat.

“Permasalahan ini bersifat operasional. Karena itu diperlukan sistem pemantauan yang lebih baik agar distribusi BBM dapat berjalan optimal dan pelayanan kepada masyarakat tetap terjaga,” katanya. Executive General Manager Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara, Sunardi, mengatakan operasional Fuel Terminal Medan Group tetap berjalan kondusif. Selama periode 14–16 Juli 2026, rata-rata penyaluran BBM ke SPBU mencapai lebih dari 6.000 kiloliter per hari sebagai upaya memperkuat stok di tingkat SPBU.

“Mudah-mudahan penambahan pasokan ini dapat menjadi cadangan stok di SPBU sehingga antrean masyarakat semakin cepat terurai,” ujarnya. Perbaikan kondisi distribusi juga mulai dirasakan masyarakat. Samsuri (60), seorang pengemudi ojek daring di Medan, mengaku antrean pembelian BBM kini jauh lebih lancar dibanding beberapa hari sebelumnya.

“Beberapa hari lalu memang sempat antre panjang karena ada kendala. Sekarang sudah lancar dan saya benar-benar merasakannya,” katanya. Hal senada disampaikan Hasbi (23), seorang pengemudi truk, yang mengaku waktu tunggu pengisian BBM kini jauh lebih singkat.

“Terima kasih kepada pemerintah. Sekarang BBM di Sumatera Utara sudah kembali lancar,” kata dia. Peninjauan tersebut turut dihadiri Direktur Utama PT Elnusa Petrofin Doni Indrawan serta Fuel Terminal Manager Medan Group Pertamina Patra Niaga Teddy Manuputty sebagai bagian dari upaya bersama memastikan distribusi BBM di Sumatera Utara kembali normal.

Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah SPBU di Kota Medan dan beberapa wilayah di Sumatera Utara sempat mengalami antrean panjang akibat gangguan pada proses distribusi BBM. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran masyarakat, terutama para pengemudi angkutan umum, kendaraan logistik, dan ojek daring yang bergantung pada ketersediaan bahan bakar untuk menjalankan aktivitas sehari-hari. Pemerintah melalui BPH Migas bersama Pertamina Patra Niaga segera melakukan berbagai langkah percepatan, seperti menambah armada distribusi, mengalihkan pasokan dari fuel terminal terdekat, serta meningkatkan volume penyaluran BBM ke SPBU. Berdasarkan hasil evaluasi, gangguan yang terjadi bukan disebabkan oleh keterbatasan kuota BBM, melainkan kendala operasional distribusi. Dengan penguatan sistem logistik dan pemantauan yang lebih intensif, pemerintah berharap pasokan BBM di Sumatera Utara dapat kembali stabil sehingga aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat tidak lagi terganggu.