— Harga Bitcoin (BTC) menunjukkan penguatan pada perdagangan Kamis (6/8/2026) pagi, meskipun pergerakannya masih tertinggal dibandingkan dengan reli emas dan pasar saham Amerika Serikat (AS). Sejumlah analis berpendapat bahwa mata uang kripto terbesar di dunia ini belum memiliki katalis yang cukup kuat untuk mengakhiri tren bearish yang telah berlangsung selama beberapa bulan terakhir.

Berdasarkan data CoinMarketCap pada pukul 08.05 WIB, kapitalisasi pasar kripto global mengalami kenaikan sebesar 0,85% menjadi US$ 2,2 triliun dalam 24 jam terakhir. Bitcoin sendiri menguat 1,04% ke level US$ 64.574 per koin atau sekitar Rp1,15 miliar (dengan kurs Rp17.889 per dolar AS). Sementara itu, Ethereum melonjak 2,56% menjadi US$ 1.908, sedangkan BNB turun tipis 0,21% ke US$ 595. Indeks CoinDesk 20, yang melacak kinerja 20 aset kripto terbesar, juga mencatat kenaikan sebesar 0,79%.

Mengutip Cointelegraph, Bitcoin kembali gagal mengikuti reli aset berisiko lainnya. Di saat emas melonjak hingga menembus US$ 4.200 per ons troi dan indeks S&P 500 sempat mencetak rekor tertinggi baru, Bitcoin hanya bergerak terbatas di kisaran US$ 64.000.

Kenaikan harga emas dipicu oleh tingginya permintaan dari Tiongkok. Data Bloomberg menunjukkan ETF emas di negara tersebut mencatat arus dana masuk selama 14 hari berturut-turut, yang didukung oleh pembelian emas berkelanjutan oleh bank sentral Tiongkok (People’s Bank of China/PBoC). Di sisi lain, Bitcoin belum mampu menarik minat beli yang sama besarnya, sehingga pergerakan harganya relatif datar.

Tiga Syarat Bullish

Analis sekaligus trader Rekt Capital menilai Bitcoin masih berada dalam struktur teknikal yang lemah. Menurutnya, selama reli yang terjadi hanya menghasilkan lower high, risiko koreksi menuju kisaran US$ 58.000 – 60.000 masih terbuka.

Sementara itu, platform analisis on-chain CryptoQuant menyebutkan bahwa setidaknya ada tiga syarat yang harus terpenuhi agar Bitcoin mampu memulai reli yang lebih berkelanjutan. Pertama, arus dana ke ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat harus kembali meningkat secara konsisten. Kedua, imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury) perlu terus menurun agar aset berisiko menjadi lebih menarik.

Ketiga, pasar membutuhkan kepastian bahwa The Fed tidak akan kembali menaikkan suku bunga dalam waktu dekat. CryptoQuant juga menyoroti indikator Coinbase Premium, yaitu selisih harga Bitcoin di Coinbase dibandingkan dengan Binance. Indikator tersebut masih berada di wilayah negatif selama hampir 80 hari, yang menandakan permintaan dari investor institusi AS belum kembali pulih.

Selama ketiga faktor tersebut belum berubah, Bitcoin dinilai masih berpotensi bergerak terbatas meskipun sentimen terhadap aset berisiko secara umum mulai membaik.