— Harga Bitcoin (BTC) terpantau mendekati level US$ 65.000. Angka ini menunjukkan kenaikan signifikan sekitar 13% dari titik terendahnya pada akhir Juni yang berada di kisaran US$ 58.000.

Meskipun terjadi penguatan, analisis on-chain menunjukkan bahwa reli kali ini masih diartikan sebagai pelepasan tekanan jual semata, bukan pemulihan yang terkonfirmasi. Kerugian yang belum terealisasi oleh para investor tercatat masih lebih besar dibandingkan periode penurunan harga pada Februari lalu. Selain itu, permintaan dari pasar spot juga terus menunjukkan tren menyusut.

Saat ini, harga Bitcoin berada di bawah hampir semua model cost-basis utama yang sering diikuti melalui analisis on-chain. Bagi para pendukung (bull), kemenangan sesungguhnya akan tercapai jika harga mampu menembus level US$ 69.500, yang saat ini berjarak sekitar 6% di atas harga perdagangan terkini. Keberhasilan merebut kembali level tersebut secara historis menandai awal dari fase pemulihan, karena akan mengembalikan sebagian besar pembeli baru ke zona profit.

Sebaliknya, jika Bitcoin kehilangan dukungan di harga US$ 52.900, hal ini akan menjadi sinyal masuk ke dalam fase pasar beruang (bear market). Beberapa proyeksi bahkan mengindikasikan kemungkinan titik terendah (bottom) akan terjadi pada kuartal IV-2026, dengan perkiraan mendekati US$ 44.000.

Keputusan suku bunga The Fed berikutnya diperkirakan akan menjadi faktor penting yang dapat mempercepat pergerakan harga ke salah satu dari dua arah tersebut. Apabila Bitcoin berhasil menembus dan bertahan di atas US$ 69.500, potensi kenaikan menuju US$ 76.200 akan terbuka lebar. Namun, jika terjadi penolakan pada level tersebut, ada risiko harga akan kembali menguji level US$ 58.000.