Detak Media — Harga Bitcoin (BTC) dilaporkan bergerak stagnan di sekitar level US$ 66.000. Data pergerakan harga pada 13 Juli dan 17 Juli menunjukkan pivot di US$ 66.284, yang berdekatan dengan posisi EMA 200-periode. Meskipun sempat menembus level tersebut pada 21 Juli, harga Bitcoin kini kembali berada di bawahnya.
Menurut data URPD (UTXO Realized Price Distribution), yang melacak lokasi terakhir perpindahan pasokan Bitcoin, sekitar 1,96% dari total pasokan, setara dengan 394.000 koin, terkonsentrasi di kisaran harga US$ 66.900. Para analis mengidentifikasi area ini sebagai resistance kuat, yang berpotensi menjadi titik penjualan ketika harga pulih.
Oleh karena itu, level US$ 66.284 dianggap sebagai tonggak krusial berdasarkan grafik harga. Jika Bitcoin berhasil menembus level ini, jalur pergerakan harga diperkirakan akan terbuka menuju US$ 68.647. Selanjutnya, zona minim resistance di dekat US$ 72.000, tepatnya US$ 71.947, menjadi target potensial berikutnya, mengingat pada zona ini URPD hanya memegang 0,43% dari pasokan.
Sebaliknya, jika Bitcoin (BTC) gagal merebut kembali level US$ 66.284, support terdekat diproyeksikan berada di US$ 65.465, diikuti oleh US$ 64.823.
Selain faktor teknis, pergerakan harga yang tenang ini membutuhkan pemicu eksternal. Salah satu katalis terdekat yang dinantikan adalah CLARITY Act, sebuah Rancangan Undang-Undang (RUU) yang mengatur struktur pasar aset kripto di Amerika Serikat. RUU ini dijadwalkan akan diajukan ke Senat pada awal Agustus 2026.
Dengan demikian, level US$ 66.284 menjadi penentu utama arah pergerakan Bitcoin. Keberhasilan menembus level ini dapat mendorong harga menuju US$ 68.648 dan bahkan zona US$ 72.000, sementara kegagalan dapat menyebabkan penurunan kembali ke kisaran US$ 65.466.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.